• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 18 June 2018

Visualisasi Dan Afirmasi

foto husen suprawinataBila Anda memiliki register yang secara otomatis setiap waktu menghitung frekuensi kata-kata atau kalimat-kalimat bernada negatif, dan juga kata-kata atau kalimat-kalimat yang bernada positif, manakah yang jumlahnya lebih besar? Atau Anda mungkin secara tanpa sadar lebih sering mengucapkan kata-kata negatif dalam berbagai situasi yang Anda hadapi, baik kepada orang-orang lain maupun kepada diri Anda sendiri?

Ada seorang teman yang menceritakan kepada saya tentang pengalamannya dalam sebuah rapat organisasi yang dia hadiri dimana terjadi perdebatan seru tetapi kemudian ada salah seseorang peserta yang mengatakan “berpikirlah positif!” namun dengan nada tinggi yang ditujukan pada orang yang menyampaikan pandangan berlawanan dengan apa yang diyakininya. Juga ada seorang lain yang mengatakan “sebenarnya pandangan Anda tidak terlalu keliru namun hendaknya dipikirkan dengan masak-masak lebih dahulu sebelum disampaikan” yang walaupun secara kalimat memenuhi kaidah untuk digolongkan sebagai pesan positif namun tidaklah demikian karena diucapkan dengan ekspresi wajah sinis. Tentu kalimat-kalimat dan ekspresi wajah tersebut terdengar dan terlihat janggal.

Kata-kata atau kalimat-kalimat yang diucapkan seseorang merupakan hasil dari sebuah proses berpikir sehingga positif atau negatif kata-kata atau kalimat-kalimat yang diucapkan akan sangat tergantung pada proses yang berjalan dalam pikiran kita. Untuk seseorang yang tidak selalu berkata-kata dengan nada negatif, maka kata-kata atau kalimat-kalimat yang disampaikan akan tergantung pada pemikiran yang dominan pada saat itu.

Seperti kita ketahui bahwa selain ada bagian dari pikiran yang secara aktif memproses informasi yang masuk, juga ada pikiran bawah sadar (subconscious mind) yang terbentuk melalui rekaman dari berbagai pengalaman hidup sebelumnya, baik yang terjadi pada diri  sendiri maupun dari hasil pengamatan pada kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang lain. Bagian pikiran bawah sadar inilah yang sebenarnya merupakan penentu dari bagaimana seseorang mengungkapkan pandangan dan/atau memberikan respon.

Berpikir positif sangat diperlukan agar kita dapat membangun rasa percaya diri dan memiliki semangat juang sehingga tidak akan mudah untuk menyerah ketika mengalami hambatan dalam upaya kita untuk mencapai sasaran-sasaran.

Namun kekuatan pikiran bawah sadar yang merupakan kumpulan pengalaman-pengalaman sebelumnya memang akan sangat mempengaruhi jalan pikiran seseorang. Kekuatiran dan pikiran negatif bisa muncul secara tiba-tiba akibat trauma kegagalan yang pernah dialami sebelumnya. Rasa tegang yang akan mengikuti pikiran yang dipenuhi rasa kuatir akan kegagalan tersebut selain akan menguras energi juga dapat mempengaruhi secara negatif proses berpikir seseorang. Pada orang-orang yang sudah memiliki pola pikir negative akan membuat orang-orang tersebut bersikap pesimistis bahkan dapat terbentuk antisipasi-antisipasi kegagalan dan demikian pula kebalikannya orang-orang yang memiliki pola pikir positif akan selalu bersikap optimistis dan penuh harapan-harapan yang baik, sehingga akhirnya memang terjadi demikian seperti apa yang dipikirkan (self-fulfilling prophecies).

Bila Anda berada dalam lingkungan orang-orang yang memiliki sikap positif, maka Anda akan cenderung memiliki sikap positif. Sebaliknya juga bila lingkungan tempat Anda berada dipenuhi oleh orang-orang yang berpikiran negatif, maka kemungkinan besar Anda juga akan menjadi salah seorang dari mereka. Mengapa demikian? Karena memang sikap positif atau negatif sangat mudah menular.

Untuk dapat memiliki sikap dan pola pikir positif, lingkungan memang akan memberikan pengaruh pada diri Anda namun kemauan dan latihan-latihan dapat menjadikan Anda memiliki sikap dan pola pikir positif. Banyak orang oleh karenanya kemudian berpikir bahwa proses perubahan tersebut akan memerlukan waktu lama karena kebiasaankebiasaan berpikir negatif tersebut juga sudah terbentuk dalam waktu yang tidak singkat.

Kita dapat mengganti pola pikir dan sikap negatif Anda dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan teknik visualisasi dan afirmasi (self-talk).

Dengan melakukan visualisasi dan menggambarkan diri Anda sebagai seorang yang selalu bersikap positif, seseorang yang selalu menyampaikan kalimat-kalimat positif dan mau mendengarkan pendapat orang-orang lain, maka pikiran bawah sadar Anda akan merekam pengalaman yang terjadi dalam visualisasi tersebut. Visualisasi tersebut perlu Anda lakukan secara teratur hingga dapat terbentuk menjadi sikap mental positif yang bisa didapatkan dalam waktu segera.

Bisa jadi akan ada penolakan dari dalam diri Anda sendiri karena pikiran sadar Anda akan mengatakan bahwa Anda bukan seperti yang ada dalam visualisasi tersebut. Bilamana terjadi perlawanan dan penolakan tersebut, Anda perlu terus melakukan visualisasi tersebut dengan menambahkan visualisasi tentang bagaimana Anda mendapatkan respek dan pengakuan dari orang-orang lain sebagai respon dari sikap positif Anda yang tentunya akan memberikan efek menyenangkan bagi pikiran Anda.

Untuk mendukung visualisasi tersebut, Anda juga perlu menuliskan dan membacakan afirmasi-afirmasi seperti“saya selalu mengucapkan kalimat-kalimat positif kepada orang-orang lain,” atau “saya mendengarkan dengan penuh perhatian ketika orang-orang lain menyampaikan pendapat,” atau kalimat-kalimat afirmasi positif senada lainnya untuk dapat mendukung visualisasi yang Anda lakukan.

Tentu saja akan ada saat-saat dimana Anda menghadapi situasi yang menekan atau Anda dapat saja mengalami rintangan-rintangan atau mungkin juga Anda bertemu dengan orang-orang yang bersikap dan berpikiran negatif. Jika hal seperti itu Anda alami segera lakukan visualisasi yang sudah biasa Anda lakukan dan usahakan agar pada saat bertemu dengan orang tersebut Anda juga dapat mengatakan kalimat afirmasi kepada orang tersebut “saya selalu mengucapkan kalimatkalimat positif kepada orang-orang lain,”yang bisa Anda tambahkan “dan oleh karena itu saya pikir akan lebih baik bila kita dapat melakukan pembicaraan dengan sikap mental positif.” Kemungkinan besar orang-orang tadi juga akan menirukan sikap Anda karena memang sikap positif atau negatif sangat mudah menular.

Teknik visualisasi dan afirmasi memang sebaiknya digunakan bersamaan karena akan dapat secara lebih cepat menggantikan sikap dan pola pikir negatif menjadi positif. Saya garis bawahi kata menggantikan karena memang untuk dapat memiliki sikap mental positif dari sebelumnya negatif tidaklah dapat dilakukan melalui proses perubahan yaitu dengan berusaha secara bertahap mengurangi sikap dan/atau pola pikir negatif, akan tetapi dengan cara menggantikan yang bisa dimulai dengan teknik visualisasi dan afirmasi untuk memprogram ulang pikiran bawah sadar sehingga berisi gambaran positif tentang diri sendiri dan juga efek menyenangkan yang bisa didapatkan dari sikap dan cara berpikir positif tersebut.

Penulis Husen Suprawinata SE MM ScHK adalah: MKI Executive Partner, LMI Director & Certified Facilitator, SMI Associate Partner & Certified Coach


Related Articles

Mengapa Budaya Perusahaan Sangat Penting (Bagian 1)

Sering sekali kita mendengar bahwa budaya perusahaan adalah sangat penting bagi kinerja dan produktifitas perusahaan? Benarkah demikian, seberapa pentingkah? Corporate

Perlukah Assessment Centers di Evaluasi?

Sejak tahun 2015, Indonesia sudah masuk pada era Masyarakat Ekonomi Asean, dimana hal tersebut membuka arus perdagangan barang atau jasa,

Corporate Competency Excellence

Seberapa pentingkah keterkaitan antara kompetensi perusahaan dengan strategi bisnis? Suatu perusahaan yang berorientasi market akan terlihat dinamis dan adaptif dengan

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*