• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 18 October 2018

Drs. Pujianto Apt. MM: Transformasi Bisnis Kimia Farma Hadapi Persaingan Global

Profile: Drs. Pujianto Apt. MM Direktur Umum & Human Capital PT. Kimia Farma

Drs. Pujianto Apt. MM
Direktur Umum & Human Capital PT. Kimia Farma

Lima tahun terakhir, PT. Kimia Farma gencar melakukan transformasi bisnis  dari  yang semula sebagai pharmaceutical company menjadi health care company. Kesuksesan Kimia Farma menjalankan transformasi bisnis membuat Kimia Farma meraih penghargaan HR Asia’s Best Companies To Work For in AsiaTM  suatu penghargaan dalam bidang pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) baru-baru ini.

Dahulu, orang mengenal perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817 ini sebagai produsen obat semata. Namun besarnya populasi masyarakat Indonesia menjadi pemikat bagi produsen obat-obatan asal negara lain seperti Cina, Amerika, dan negara-negara Eropa. Persaingan di industri farmasi yang semakin ketat ini mendorong  Kimia Farma dituntut untuk berbenah diri melakukan inovasi dan termasuk transformasi bisnis agar tidak kalah bersaing.

Dulu dan Sekarang
Menurut Drs. Pujianto Apt. MM, Direktur Umum & Human Capital PT. Kimia Farma, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Kimia Farma melakukan pengembangan bisnis dengan melakukan transformasi secara besar-besaran, mulai dari visi, misi, hingga budaya perusahaan. “Semua berubah, mulai dari bisnis yang tadinya pharmaceutical company menjadi healthcare company, klinik dan apotik yang semakin banyak dan tersebar di Indonesia, dan nantinya kami juga akan membangun rumah sakit (RS),” ujar Pujianto ketika ditemui Human Capital Journal di ruang kerjanya.

Visi dan misi perusahaan Kimia Farma adalah menjadi perusahaan healthcare pilihan utama yang terintegrasi dan menghasilkan nilai yang berkesinambungan, melakukan aktivitas usaha di bidang-bidang industri kimia dan farmasi, perdagangan dan jaringan distribusi, retail farmasi dan layanan kesehatan serta optimalisasi asset, mengelola perusahaan secara Good Corporate Governance dan operational excellence didukung oleh SDM professional, dan memberikan nilai tambah dan manfaat bagi seluruh stakeholder.

Diakui Pujianto, kunci keberhasilan  dalam menjalankan visi misi perusahaan tidak lepas dari peranan SDM. “SDM adalah mitra dari unit bisnis perusahaan, maka SDM kami juga harus bertransformasi. JIka dulu SDM sebagai spot human resources saja. Sekarang manusia kami anggap sebagai capital atau aset yang harus dikembangkan. Kalau tidak dikembangkan kan sayang dan nantinya malah jadi beban perusahaan. Kami ingin aset berkontribusi terhadap perusahaan,” tuturnya. Sebagai komandan di divisi Human Capital, Pujianto pun mengawali transformasi dengan merombak sistem pengelolaan SDM termasuk remunerasi karyawan di Kimia Farma.

Sebagai perusahaan milik pemerintah, kenaikan jabatan karyawan kala itu masih berdasarkan lamanya bekerja. Kini cara tersebut sudah tidak dilakukan. Performance atau kinerja karyawan menjadi tolak ukur karyawan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. “Dulu siapa yang senior itu yang lebih dulu naik jabatannya. Tapi kini sudah tidak lagi. Sekarang jadi dibuat grading, sudah tidak lagi berdasarkan kepangkatan,” paparnya.

Sistem grading membuat setiap karyawan dituntut untuk memiliki kompetensi yang sesuai sebelum naik tingkatan yang lebih tinggi. Demikian pula jika ada posisi atau jabatan yang kosong, seorang karyawan harus mempunyai kompetensi yang sesuai dengan jabatan atau posisi kosong tersebut. Kemudian beberapa kandidat akan di-assess dan dinilai akan sudah sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki. “Kalau dulu kan duduk di jabatan itu baru diukur dan dilihat apakah kompetensinya sesuai atau tidak. Kalau kurang kita berikan pelatihan dan pengembangan. Kalau sekarang harus punya kompetensi yang sesuai dengan jabatan itu,” ujar pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah dengan antusias.

Sebagai contoh, untuk seorang asisten manager ingin menjadi manager, harus melewati 3 kepangkatan terlebih dulu. Satu kepangkatan bisa diraih dengan waktu bekerja minimal 5 tahun. “Bayangkan, butuh waktu 15 tahun bahkan lebih untuk menjadi manager. Kalau sekarang sudah tidak begitu,” sambungnya.

Sekarang karyawan tidak perlu menunggu waktu lama untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi. jika ada karyawan yang punya kompetensi sesuai dan bagus, punya track record-nya bagus, ada jabatan kosong, dan lulus assessmen, dia sudah bisa mengisi jabatan tersebut.

Mengelola Talent
Mutasi pun dilakukan sebagai bagian dari pengembangan karyawan. “Kalau hanya tour of the day, seharusnya tidak boleh turun grading-nya. Tapi kalau karyawan itu tidak performance, grading-nya bisa turun atau malah demosi,” jelasnya. Cara ini justru menjadi pemicu semangat karyawan untuk selalu meningkatkan kompetensi dan kinerja karyawan.HR-Asia-Pujianto

Ketika disinggung apakah terjadinya pergolakan dalam melakukan transformasi ini, dengan tegas Pujianto menjawab jika sejauh ini timnya tidak mengalami masalah karena semua dilakukan sesuai aturan. “Tidak ada penolakan dari karyawan tentang transformasi ini. Perihal jenjang karir, mutasi, dan sebagainya semua sudah diatur, jadi tidak ada yang menolak,” katanya sambil tersenyum.

Mengumpulkan dan mengelola para rising star pun dilakukan oleh Kimia Farma. Para talent diberikan berbagai pendidikan, pelatihan, dan pengembangan untuk meningkatkan kemampuan dan potensi mereka. “Kami juga mengadakan kegiatan seni, budaya, dan olahraga sebagai ekskul atau nilai tambah mereka,” tukasnya kembali. Kimia Farma mempetakan para talent dan sub talent untuk dipersiapkan menempati jika suatu saat ada jabatan yang kosong. “Kami mapping para talent, mereka ada di kuadrat mana. Kalau kompetensinya bagus tapi track record-nya jelek, mungkin saja penempatannya yang tidak benar. Karena itu pembinaannya beda. Untuk sub talent juga begitu. Bagi talent yang bagus dan punya track record bagus, akan dikembangkan lagi sehingga dia punya kesempatan bagus, bahkan sampai ke level direksi,” paparnya panjang lebar.

Mempersiapkan para leader kini dilakukan sejak tahap perekrutan. “Kami selalu bilang kepada lulusan sarjana yang akan masuk ke Kimia Farma, Anda disiapkan untuk jadi leader, menjadi pengurus perusahaan,” imbuh pria lulusan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Tak heran jika kini di usia 30 tahun ke atas, mereka sudah bisa meraih posisi manager bahkan salah satu direksi di anak perusahaan Kimia Farma diakui Pujianto ada yang berusia 42 tahun.

Kimia Farma pun memberikan kesempatan untuk berkarir bagus kepada mereka yang sebentar lagi memasuki masa pensiun. “Saya selalu tantang teman-teman yang 5 tahun lagi mau pensiun, mereka bisa terus berkarir sehingga bisa naik 2 tingkat. Mungkin kalau jaman dulu, kalau sudah 5 tahun lagi mau pensiun, tidak akan bisa naik grade. Kalau sekarang sih bisa saja. Bahkan yang 1 tahun lagi mau pensiun pun bisa naik tingkat. Yang penting semua tetap semangat bahkan sampai yang akan pensiun sekalipun,” ucapnya dengan semangat.

Budaya ICARE
Saat ini, dari total 8056 karyawan Kimia Farma yang tersebar di seluruh Indonesia, populasi Gen Y sekarang mencapai 46%. Namun perbandingan jumlah populasi gen X dan gen Y justru tidak menjadi kendala bagi dirinya dalam melakukan transformasi. Baginya, budaya perusahaan malah menjadi penyatu kedua generasi. “Semua karyawan harus berada di bawah budaya yang sama. Kalau gen X lebih kuat dalam penguasaaan hard skill, maka gen Y lebih ke soft skill,” akunya.

Kimia Farma menetapkan budaya perusahaan yang merupakan nilai-nilai inti perusahaan yaitu I C A R E (Innovative, Customer Fisrt, Accountable, Responsible, dan Eco-Friendly) yang menjadi acuan/pedoman bagi perusahaan dalam menjalankan usahanya, untuk berkarya meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Innovative, artinya budaya berpikir out of the box, smart dan kreatif untuk membangun produk unggulan, sedangkan Customer First bertujuan agar karyawan mengutamakan pelanggan sebagai miitra kerja. Accountable bermakna dengan senantiasa bertanggung jawab atas amanah yang dipercayakan oleh perusahaan dengan memegang teguh profesialisme, integritas dan kerja sama. Responsible artinya memiliki tanggung jawab pribadi untuk bekerja tepat waktu, tepat sasaran dan dapat diandalkan, serta senantiasa berusaha untuk tegar dan bijaksana dalam menghadapi setiap masalah. Dan yang terakhir Eco-Friendly, bermaksud menciptakan dan menyediakan baik produk maupun jasa layanan yang ramah lingkungan.Kimia-Farma

Ia menambahkan, untuk menjalankan budaya perusahaan tersebut, perusahaan menciptakan 5 As sebagai ruh budaya perusahaan. Setiap karyawan harus Kerja Ikhlas (Siap bekerja dengan tulus tanpa pamrih untuk kepentingan bersama), Kerja Cerdas (emampuan dalam belajar cepat atau fast learner dan memberikan solusi yang tepat), Kerja Keras (menyelesaikan pekerjaan dengan mengerahkan segenap kemampuan untuk mendapatkan hasil terbaik), Kerja Antusi (keinginan kuat dalam bertindak dengan gairah dan semangat untuk mencapai tujuan bersama), dan Kerja Tuntas (melakukan pekerjaan secara teratur dan selesai untuk menghasilkan output yang maksimal sesuai dengan harapan).

Semua difokuskan untuk menjalankan budaya ICARE. “Kami juga menciptakan agent budaya atau agent of change (AoC) sebanyak 100 orang untuk menjadi agen perubahan Kimia Farma dan menanamkan budaya icare di seluruh karyawan Kimia Farma,” tambahnya lagi. Para AoC dilatih selama 1 minggu sebelum mereka terjun langsung ke lapangan. Kemudian secara rutin para AoC yang ada di seluruh Indonesia di-remaining oleh manager mereka. “Bahkan sehari 3 kali, budaya perusahaan diumumkan sehingga karyawan mau pulang kerjapun mendengar budaya perusahaan diumumkan. Ini harus tertanam di hati seluruh karyawan,” sambung Pujianto.

Dengan begitu, kebanggaan muncul di hati karyawan sehingga tak heran jika Kimia Farma terpilih sebagai salah satu tempat bekerja terbaik di Indonesia atau HR Asia’s Best Companies To Work For in AsiaTM  dari HR Asia pada awal April 2016 lalu. Kimia Farma berhasil menjadi pemenang industri sektor Kimia dan Farmasi dari 138 perusahaan berbagai bidang industri di Indonesia yang disurvei. Perusahaan pemenang dipilih melalui survei kepada representasi karyawan berdasarkan masa kerja di perusahaan yang mengkaji engagement karyawan, lingkungan bekerja perusahan, kegiatan-kegiatan SDM, keterlibatan karyawan dan tingkat kepuasan bekerja.

Sebuah obsesi Pujianto adalah menciptakan leader-leader yang tidak hanya bisa berkiprah di dalam, tapi juga di luar. “Saya ingin menciptakan leader-leader yang laku diluar terutama di industri farmasi. Saat ini kita jadi bank tenaga farmasi di BUMN,” kata penggemar olahraga sepakbola, tenis, dan badminton. Kimia Farma boleh berbangga hati. Saat ini para direksi yang menjabat di beberapa perusahaan farmasi seperti Indofarma berasal dari Kimia Farma. Pujianto menyadari, menciptakan talenta berkualitas bukan hal yang mudah. Namun ia tetap optimis Kimia Farma bisa menjadi corporate university bagi para leader sebelum mereka berkiprah di luar.  (Ratri Suyani)


Related Articles

Djoko Kusumowidagdo: Bangun Karakter SDM dengan Outbond

Profesionalisme dan etika bagaikan dua sayap yang tidak boleh patah atau hilang bagi setiap orang terutama para profesional bisnis, pejabat

Pepey Riawati Kurnia : This is My Passion

Berkecimpung di dunia  Research and Development (R&D) menciptakan kepuasan tersendiri tersendiri bagi Drh. Pepey Riawati Kurnia, MM, PhD, salah satu

Wujudkan “Management by Fun”

Transformasi dilakukan oleh setiap perusahaan mengingat bisnis saat ini mengalami perubahan cepat, termasuk di dalamnya perubahan tren pasar, perilaku konsumen,

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*