• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 21 September 2018

Tingkat Perekrutan Karyawan di Amerika Bakalan Turun di Semester Kedua

RekrutmenMayoritas para professional HR menjadi sedikit kurang optimis terhadap perekrutan karyawan di sisa tahun 2016 ini. Hal ini berdasarkan survei terbaru Jobs Outlook Survey (JOS) yang diadakan oleh Society for Human Resource Management (SHRM) baru-baru ini. Kendati demikian, secara keseluruhan hasil akhir yang didapat perusahaan-perusahaan mereka  jauh lebih positif.

Survei yang diadakan pada Juli 2016 ini dilakukan secara online kepada 502 anggota SHRM yang dipilih secara acak. Hal ini menunjukkan bahwa professional HR percaya jika kondisi bisnis di organisasi mereka masih kuat dan mereka mengharapkan di triwulan kedua tahun ini bisa meningkatkan pertumbuhan untuk pekerjaan tetap, beberapa PHK, dan kesehatan keuangan yang solid untuk perusahaan mereka.

Laporan JOS SHRM ini meneliti tentang perekrutan dan tren merekrut, serta kondisi keuangan di organisasi di beberapa sektor bisnis di Amerika Serikat sebanyak dua kali setahun. Dari hasil survei ini, diketahui bahwa sebanyak 58 persen responden mengatakan kalau mereka yakin tentang adanya penurunan dalam hal perekrutan dari triwulan kedua tahun 2015 lalu. Sebanyak 69 persen responden menyatakan adanya tingkat optimisme tentang pertumbuhan pekerjaan.

Selain itu, tingkat harapan perekrutan juga turun dari tahun ke tahun. Jika sebelumnya sebanyak 42 persen responden mengharapkan adanya perekrutan di triwulan kedua 2015, maka di tahun ini hanya  37 persen responden saja yang mengharapkan adanya perekrutan di organisasi mereka. Hanya perusahaan besar saja (yang memiliki jumlah karyawan antara 2.500 – 9.999 orang) yang paling memungkinkan untuk menambah lapangan kerja di triwulan kedua 2016.

Temuan penting lainnya  dari survei tersebut di antaranya adalah:

  • Sebesar 13 persen dari profesional HR mengatakan jika mereka pesimis terhadap pasar kerja dan antisipasi adanya PHK. Jumlah tersebut lebih tinggi sedikit dibandingkan pada triwulan  kedua tahun 2015 yang hanya sebesar 10 persen. Sedangkan 29 persen lain dari responden mengaku tidak optimis atau pesimis tentang pertumbuhan pekerjaan.
  • Sebagian besar responden mengklasifikasikan organisasi mereka sebagai organisasi dengan keuangan yang baik (51%) dan sangat baik (32%).
  • 37 persen responden mengharapkan bisa mempekerjakan staf baru sebelum tahun 2016 berakhir.
  • Sebagian besar pengusaha (71 persen) mengatakan bahwa mereka akan membayar variabel yang sama dan hanya 18 persen yang menyatakan akan meningkatkan nilai variabelnya. Lebih dari setengah (51 persen) dari pengusaha sektor publik dan 28 persen perusahaan sektor swasta mengharapkan peningkatan gaji pokok di triwulan kedua 2016 dan sangat sedikit (3 persen) menunjukkan bahwa kompensasi akan menurun di tahun ini.
  • Hanya 7 persen responden mengatakan organisasi mereka akan melakukan PHK pada triwulan kedua 2016.

Laporan ini juga menemukan bahwa kegiatan perekrutan ini kuat pada triwulan pertama tahun ini. Sebanyak 43 persen responden mengatakan perusahaan mereka memulai pekerjaan antara bulan Januari dan Juni. Sementara itu, 41 persen dari organisasi dilaporkan mempertahankan karyawan di level staf dan 16 persen mengatakan mereka melakukan PHK pada bulan-bulan awal 2016.

Data-data SHRM ini mendukung banyaknya perkiraan pasar tenaga kerja untuk sisa 2016 dan awal 2017. Mereka memprediksi akan terjadi perekrutan yang stabil dan tingkat pengangguran yang rendah. The National Association for Business Economics meramalkan bahwa aka nada 201.000 pekerjaan baru per bulan untuk sisa 2016 dan tingkat pengangguran rata-rata sebesar 4,8 persen. The Federal Reserve Board memproyeksikan kisaran tingkat pengangguran dari 4,5 persen menjadi 4,9 persen untuk sisa tahun 2016, dan dari 4,3 persen menjadi 4,8 persen pada tahun 2017.

Proyeksi ekonomi yang positif juga berdasarkan sinyal partai di Gedung Putih tahun depan. “Meskipun ada banyak perdebatan mengenai bagaimana prediksi berbagai variabel ekonomi dari hasil pemilu nasional, tidak ada yang meragukan bahwa pertumbuhan pekerjaan merupakan elemen penting dari sentimen ekonomi dan politik,” kata Josh Wright, Chief Economist untuk iCIMS, sebuah perusahaan perangkat lunak akuisisi yang berbasis di Matawan, New Jersey. Wright adalah seorang penulis yang memberikan laporan terbaru tentang bagaimana tren ekonomi dapat mempengaruhi pemilihan presiden.

“Ketika Anda dan orang-orang di sekitar Anda semua bekerja, semuanya terlihat sedikit lebih baik dan Anda akan lebih mudah untuk memilih partai politik yang berkuasa,” kata Wright. “Sebaliknya, kesulitan ekonomi melahirkan ketidakpuasan dan karena perubahan dalam kepemimpinan. Semuanya sama, pertumbuhan pekerjaan kuat harus mendukung partai yang berkuasa dan pertumbuhan pekerjaan yang lebih lemah harus mendukung partai penantang.”


Related Articles

20 Perusahaan yang Paling Diminati di Hong Kong

Operator kereta api MTR dinobatkan sebagai perusahaan yang paling menarik di Hong Kong versi Randstad Employer Brand Award yang diadakan

Perkembangan Industri di Indonesia Menuju Peningkatan

Prospek perkembangan industri di Indonesia semakin membaik, ini dilihat dari sisi ketenagakerjaan. Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 219 perusahaan responden

Karyawan dengan “Critikal Skill” Sulit Didapatkan dan Dipertahankan

Hal ini terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan oleh perusahaan global professionalservices,Towers Watson. The Towers Watson Global Talent Management dan Rewards

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*