• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 23 January 2018

Systems Thinking

Syahmuharnis fotoBerpikir secara sistem(SystemThinking) adalah kebutuhan mutlak setiap orang, khususnya bagi para pimpinan organisasi. Adalah John Sterman, seorang profesor dari MIT yang memperkenalkan konsep ini sejak 90-an sehingga akhirnya ia menerbitkan buku Systems Thinking & Modeling for Complex World tahun 2000. Systems Thinking (ST) adalah orientasi konseptual terkait dengan saling keterhubungan antar bagian-bagian dan hubungannya dengan sebuah fungsi secara keseluruhan (atau bagian yang lebih besar). Istilah ini sudah dikenal lama, tetapi pada saat yang sama juga bermakna modern.

Sejatinya, kita semua terlibat dengan berbagai tipe ST dalam kehidupan sehari-hari kita masing-masing. Misalnya saat kita berkontemplasi tentang interaksi yang kompleks tentang hubungan kita dengan keluarga dan teman-teman; saat kita mengorganisasikan masyarakat atau tempat kerja; dan saat kita memecahkan teka-teki tentang perekonomian. Tapi ST juga mencakup aspek-aspek paling maju dan canggih dalam ilmu pengetahuan.

Konsep ST menarik menjadi kajian kita untuk bisa membuat perencanaan yang lebih presisi dan komprehensif, meningkatkan kualitas manajemen serta memudahkan menguraikan persoalan dan mendapatkan jalan pemecahan terbaik. Ada sejumlah fakta menarik yang diulas Sterman sehingga ia merasa perlu mengembangkan pemahaman terhadap ST.  Pertama, solusi pada masa lalu adalah masalah di masa kini. Seringkali, solusi yang dianggap cespleng untuk satu persoalan di masa lalu, justru tidak bekerja dengan baik – bahkan menjadi sumber masalah – di masa kini dan mendatang.

Kedua, lanjut Sterman, kita resisten terhadap sesuatu yang “baru” karena kita sering tidak memahami sistem umpan-balik yang bekerja dalam sistem. Tindakan kita merusak kondisi sistem, sementara orang lain bereaksi untuk memperbaiki keseimbangan yang telah dibuat. Efek samping bukanlah gambaran tentang realitas, melainkan sinyal dari ketidakpahaman kita terhadap sistem.

Ketiga, keputusan yang kita buat merusak kondisi lingkungan sehingga memunculkan keputusan-keputusan baru. Tetapi juga memicu efek samping, reaksi yang terlambat, perubahan tujuan, dan intervensi oleh orang lain. Umpan balik seperti ini bisa memunculkan hasil yang tidak diinginkan dan kebijakan yang tidak efektif.

Keempat, seluruh dinamika muncul dari interaksi 2 rangkaian umpan-balik: rangkaian positif (menguatkan individu) dan rangkaian negatif (mengoreksi individu). Rangkaian positif adalah seluruh proses yang menciptakan pertumbuhannya sendiri. Rangkaian negatif menolak atau menentang perubahan. Kedua rangkaian ini menjelaskan proses-proses yang cenderung kepada pembatasan diri pribadi, proses untuk mencari keseimbangan dan titik keseimbangan.

Kelima, pemodelan secara aktif terjadi dengan baik sebelum indera informasi kita mencapai otak kita yang bertanggung jawab memproses informasi visual. Kemampuan manusia bertahan hidup sangat tergantung kepada kemampuan untuk secara cepat menerjemahkan situasi lingkungan di mana kita secara evolusi menciptakan model secara otomatis.

Keenam, kita perlu melakukan pengukuran terhadap sistem untuk memastikan apakah ia bekerja dengan baik atau tidak. Pengukuran memungkinkan kita mengetahui berbagai distorsi, keterlambatan, bias, dan kesalahan – sebagian bisa diketahui, sebagian lagi mungkin sulit diketahui. Pengukuran adalah tindakan untuk membuat pilihan-pilihan.

Dalam manajemen SDM, ST bisa menjadi cara jitu dalam meraih tujuan. Sebab, manusia cende­rung mengadopsi pendekatan berbasis kejadian, terbuka melihat segala hal dalam bentuk sebab-aki­bat, gagal memahami betapa besar dampak dari keterlambatan antara aksi dan reaksi serta laporan informasi, tidak memahami stok dan aliran barang, dan tidak cukup sensitif terhadap sifat non-linear yang bisa menghancurkan kekuatan sistem. Itu sebabnya, penetapan Key Performance Indicator seper­ti Lead Time dalam proses pekerjaan (misanya dalam penyedian bahan baku, pemrosesan, dan pemenuhan kebutuhan pelanggan) sangat diperlukan untuk memastikan keberhasilan manajemen organisasi.


Related Articles

Dunning-Kruger Effect

Dalam mengelola sumberdaya manusia (SDM) kita sering menemukan adanya orang-orang yang menganggap dirinya kompeten, padahal sebenarnya yang bersangkutan tidak kompeten.

From Good to Great People

Jim Collins dalam bukunya “Good to Great” memberikan inspirasi tentang pembangunan kualitas sumber daya manusia agar perusahaan tumbuh berkembang menjadi

Human Capital Financial Metrics

Apa yang terpikir saat menghubungkan kinerja bisnis dengan kinerja sumberdaya manusia (SDM) organisasi? Apa ukuran atau indikator yang bisa dipergunakan

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*