• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 22 June 2018

Prof. Dave Ulrich & Fungsi Manajemen SDM

HarnisKedatangan Prof. Dave Ulrich, mahaguru bidang organisasi dan sumberdaya manusia dari University of Michigan, ke Jakarta beberapa waktu lalu sungguh sebuah kesempatan yang sangat langka dan berharga. Tidak hanya bagi praktisi human capital tetapi juga bagi para eksekutif puncak berbagai perusa­haan. Ulrich merupakan guru bidang organisasi dan manajemen SDM dunia, penulis banyak buku (antara lain HR Champion), pembi­cara papan atas dan laris, dan berbagai sebutan lain yang menunjukkan kehebatannya. Agenda seminarnya tersusun dengan rapih, dan untuk bisa “menanggap” Ulrich harus melakukan pemesanan mini­mal setahun sebelumnya.

Gagasan pemikiran pria yang pernah memimpin Gereja Mormon di Canada ini (alasannya ingin mendapatkan tantangan baru) jauh melam­paui pemikiran manajemen SDM biasa. Ulrich lah yang menggagas 4 tahap peran manajemen SDM, dimulai dari level 1 HR Operational Excel­lence, level 2 HR Relationship Manager, level 3 Performance Consultant, dan level 4 Strategic Business Partner. Unit human capital dianggap hebat kalau berhasil meraih level 4, namun untuk bisa meraih level 4, unit human capital tersebut harus terlebih dahulu meraih level 1, level 2, dan level 3.

Istilah Strategic Business Partner memang se­makin sering terdengar di kalangan bisnis. Istilah ini bermakna, unit human capital berkontribusi bagi perumusan dan eksekusi strategi organisasi. Opini, masukan, dan pandangan unit human capi­tal harus ikut dipertimbangkan jajaran eksekutif saat menyusun strategi organisasi. Dan ketika strategi tersebut dieksekusi, maka unit human capital harus menyelaraskan strategi manajemen human capital dengan strategi organisasi. Mulai dari perencanaan SDM dan strategi rekrutmen hingga strategi pengembangan SDM, strategi remunerasi, strategi suksesi, strategi manajemen kinerja, dan sebagainya.

Survei Society for Human Resource Manage­ment (SHRM) 2002 menunjukkan bahwa baru 34% para eksekutif perusahaan terkemuka Amer­ika yang menilai unit SDM sebagai strategic business partner; baru 23% ekse­kutif yang mengindikasikan bahwa strategi manajemen SDM selaras dan terkait erat dengan strategi organisasi. Survei sejenis akhir-akhir ini mengindikasikan perbaikan dari hasil survei tersebut, namun tetap kurang dari 50% eksekutif yang menilai unit SDM sebagai strategic business partner.

Ketika berbicara di depan para eksekutif Indonesia di Jakarta, Ulrich menegaskan ulang tentang perlunya eksekutif human capital memahami pelanggan perusahaan – apa saja tuntutan dan keluhan mereka serta sejauh mana tingkat kepuasan mereka. Dia berbicara tentang fungsi unit manajemen SDM yang tidak lagi fokus hanya kepada pelanggan internal, tetapi juga pelang­gan eksternal. Sesuatu yang cukup baru di mata praktisi manajemen SDM Indonesia.

Seruan Ulrich ini patut direspons secara positif oleh unit manajemen SDM karena unit ini merupakan penentu awal dari proses penciptaan nilai bagi organisasi. Keberadaan unit SDM dalam organisasi merupakan bagian tidak terpi­sahkan dari bisnis organisasi. Dengan memahami pelanggan secara langsung, unit manajemen SDM bisa mengelola aspek SDM organisasi secara efisien dan efektif.


Related Articles

Ketika Praktisi Human Resource Menjadi Partner Strategik Perusahaan

Tahun 2014 adalah tahun yang penting bagi pengembangan profesional HR di Indonesia. Di tahun tersebut, pemerintah menyusun Standard Kompetensi Kerja

Rasionalisasi Tanpa Berselisih

Sepanjang tahun 2015 sampai awal tahun 2016 gelombang PHK massal yang terjadi merupakan kabar menyakitkan bagi tenaga kerja Indonesia, khususnya

Membangun “The Dream Team”

Bagi sebagian penggemar olahraga bola, terutama yang mengikuti Liga Utama Inggris, pasti mengetahui kehebohan tim Leicester City yang beberapa hari

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*