• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 22 January 2018

PLA – Metode Pelatihan Partisipatif

Foto-AbitMetode pelatihan yang konvensional dan paling sering digunakan adalah metode seperti di ruang kelas sekolah: terdapat pelatih (guru) yang memberikan sebuah pengetahuan tertentu kepada partisipan (murid) sehingga menimbulkan kesan bahwa si pelatih sangat ahli dalam pengetahuan tersebut dan cenderung bersifat satu arah. Untuk itu kadang memang dibutuhkan metode yang paling tepat dalam penyampaian sebuah materi, salah satunya adalah metode PLA.

PLA adalah singkatan dari Participatory Learning and Action; terbentuk pertama kali dikarenakan adanya kebutuhan untuk pengembangan dan pemberdayaan kaum fakir miskin dan mereka yang terpinggirkan di Inggris. Hingga sekarang, metode ini terus berkembang dan sering digunakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk merancang, menjalankan, mengawasi, dan mengevaluasi programnya.

Prinsip dasar dari metode ini adalah menggunakan pendekatan partisipasi penuh seluruh audiens. Dalam PLA, seorang pelatih lebih berfungsi sebagai fasilitator dan pengetahuan datang dari partisipan. Fasilitator bertugas untuk memancing partisipan agar dapat mengeluarkan ide-ide dan mendorong partisipan yang pasif untuk lebih aktif.

Metode PLA memang lebih banyak digunakan untuk keperluan pengembangan masyarakat oleh LSM terkait, tetapi tidak ada salahnya apabila kita dapat mengadaptasi metode ini ke dalam kultur perusahaan komersil. Apabila mengambil dari sudut pandang pengembangan di setting perusahaan, mungkin lebih tepat apabila kita mengambil kata “participatory learning” atau “pembelajaran partisipatif”

Salah satu contoh PLA yang dapat saya bandingkan adalah pelatihan softskill dengan metode pembuatan film. Di suatu komunitas pekerja anak, rekan saya pernah melakukan pelatihan dengan metode ini. Saat itu tema pelatihan yang diusung adalah tentang kreatifitas dan pemberdayaan remaja dimana seluruh peserta dibagi perannya dalam sebuah tim untuk membuat film: ada yang sebagai sutradara, penulis naskah, cameraman, lighting, dan sebagai macamnya. Kemudian ternyata hal ini juga pernah dilakukan di setting perusahaan dengan metode dan cara yang sama tetapi dengan tema yang berbeda, yaitu leadership. Dalam setting sosial, tema pemberdayaan yang diangkat adalah bagaimana remaja-remaja tersebut dapat menambah keahlian sebagai bekal untuk mencari nafkah. Sedangkan dalam setting perusahaan, partisipan diajak untuk belajar tentang leadership sekaligus teamwork, kreatifitas, dan komunikasi sebagai softskill yang dibutuhkan dalam dunia profesional. Kedua pelatihan tersebut memang memiliki setting dan tema yang berbeda tetapi metode yang sama, yaitu membuat film secara partisipatif.Participatory-Training

Salah satu kelebihan dari metode PLA adalah adanya aspek “action” dalam setiap kegiatannya; jadi metode ini memang dirancang untuk merencanakan program pengembangan secara lebih jauh. “Action” juga dapat diterapkan di setting perusahaan; hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai toolkit PLA seperti Focus Group Discussion atau Problem/Solving Tree (metode diskusi) dalam sebuah meeting. Dengan menggunakan toolkit seperti ini, seluruh peserta meeting dapat terlibat aktif dalam penentuan target dari sebuah perusahaan.

Pada intinya, fasilitator atau siapapun dapat bebas mengadaptasi berbagai macam metode sekaligus sesuai kreatifitas. PLA hanyalah salah satu dari sekian banyak metode di luar sana yang dapat kita gunakan dan manfaatkan. Selama terus membuka mata, telinga dan berpikiran terbuka, langit adalah batasnya.

“I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand.”

-Confucius-

Penulis:  Ambrita Muhammad Raintung People Development Executive First Asia


Related Articles

“Employee Engagement”

Apakah para pekerja sudah merasakan keterikatan dengan pekerjaan yang dijalankan? “Baguss.. Hasil yang baikk!!” merupakan kata-kata yang sangat kita harapkan

Profit Centre vs Cost Centre

Seorang CEO yang baru diangkat melalui RUPS, menerima pesan khusus dari Dewan Komisarisnya. Dia diminta dalam mempersiapkan LRP, disebut sebagai

Bakat Saja Tidak Cukup

Anda tentu ingat kisah tentang tenggelamnya Kapal Titanic pada tanggal 4 April 1912, yang sempat di layar lebarkan beberapa tahun

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*