• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 20 February 2018

Petani Indonesia Jadi Buruh Timur Tengah

Petani

Petani

Petani RI banyak yang memilih beralih profesi menjadi buruh kasar sampai ke luar negeri. Mereka pergi ke kota hingga Timur Tengah bahkan sampai Hong Kong untuk menjadi buruh dan tenaga kerja Indonesia (TKI) di sektor non formal. Ini disebabkan oleh karena penghasilan mereka sebesar Rp 1,03 juta per bulan yang lebih rendah dari UMP di NTT, yang UMPnya terendah di Indonesia yaitu sebesar Rp 1,2 juta per bulan.

Berdasarkan hasil Sensus Pertanian terbaru oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat penurunan jumlah rumah tangga di sektor pertanian. BPS mencatat jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 26,13 juta atau menurun 5,04 juta dibandingkan tahun lalu sebanyak 31,17 juta sejak 10 tahun terakhir.

Dedi Walujadi, Direktur pengembangan metodologi sensus dan survey BPS mengatakan bahwa banyak petani RI yang memilih beralih profesi menjadi buruh kasar hingga ke luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sektor informal.

Penurunan jumlah petani ini diklaim karena jumlah pendapatan yang cukup rendah di sektor pertanian. Pendapatan rata-rata petani RI hanya Rp 12,41 juta per tahun atau Rp 1,03 juta per bulan, jauh di bawah UMP terendah di Indonesia.

Fenomena semacam ini pernah terjadi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) pada tahun 1900. Hanya saja AS yang jumlah petaninya saat ini hanya 3% berhasil mengembangkan pertanian dengan teknologi off screen.

Berbeda dengan AS, sistem pertanian di Indonesia masih dilakukan secara tradisional. Bahkan jika dibandingkan negara tetangga di ASEAN saja, RI kalah bersaing dalam penggunaan teknologi pertanian. “Menurut survei negara-negara di ASEAN yang menggunakan teknologi pertanian ada 3 yaitu Thailand, Malaysia yang justru belajar dari IPB dan Vietnam. Indonesia tidak termasuk kita belum menggunakan teknologi yang canggih, masih pakai sistem maju-mundur,” jelas Dedi Walujadi, Direktur Pengembangan Metodologi Sensus dan Survey BPS.

Selain itu, survei BPS juga menemukan pergeseran komposisi jumlah petani dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa. Provinsi yang mengalami kenaikan terbesar jumlah petani adalah Papua sebanyak 158,1 ribu dan yang terkecil di Maluku Utara sebanyak 1.000 rumah tangga.

Sementara itu, penurunan terbesar di Jawa Tengah sebanyak 1,47 juta rumah tangga dan di Bengkulu sebanyak 350 ribu rumah tangga. (sumber: detik.com)


Related Articles

Bisnis Anda Mengalami Stagnasi?

Bagaimana sih agar bisnis bisa berkembang dan bertumbuh? Bisnis yang berkembang dan tumbuh secara berkelanjutan merupakan impian para usahawan, tetapi

Perlukah Gelar Sarjana Tertentu Untuk Bekerja di Dunia HR?

Lebih dari satu dekade beragam pengalaman di dunia HR  - atau mungkin dalam beberapa kasus justru lebih dari satu dekade

Penerbitan Aturan Hukum untuk Perkuat Perlindungan Buruh

Penguatan aturan hukum yang memberikan perlindungan bagi pekerja/buruh yang terkait perlindungan atas hak-hak dasar pekerja/buruh, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*