• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 20 September 2018

Pepey Riawati Kurnia : This is My Passion

Pepey-PRK1Berkecimpung di dunia  Research and Development (R&D) menciptakan kepuasan tersendiri tersendiri bagi Drh. Pepey Riawati Kurnia, MM, PhD, salah satu staf pengajar di PPM Manajemen. Baginya, R&D melahirkan inovasi-inovasi yang bisa berdampak bagi perusahaan.

Setiap perusahaan membutuhkan iklim dan budaya inovatif. Karena iklim inovatif selalu berhiaskan penghargaan terhadap ide-ide kreativitas dan segala unsur yang ada dalam perusahaan. “Inovasi tidak hanya karena menghadapi Masyarakat Ekonomi Eropa (MEA) saja. Inovasi itu harus menjadi bagian dari strategi perusahaan dan dilakan secara kontinyu agar industri mereka bisa bertahan,” tutur Pepey ketika dijumpai di acara gathering bertajuk “Product Innovation management: How Pulp and Paper Industry Faces the ASEAN Economic Community 2015?”, yang diselenggarakan PDMA Indonesia dengan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), di PPM Manajemen, Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Pepey, Inovasi telah membuat organisasi atau perusahaan berubah, inovasi juga menjadikan organisasi dapat bersaing di pasar global. Organisasi atau perusahaan yang melakukan inovasi adalah organisasi yang cerdas dan berani dalam menghadapi persaingan di masa mendatang. Dan sayangnya, tidak semua organisasi atau perusahaan dapat melakukan inovasi disebabkan oleh berbagai faktor. “Tapi kalau sudah menjadi pemain global, harusnya budaya inovasi sudah ada di industri tersebut. Tolak ukurnya, kalau penjualan produknya baik, bisa menghasilkan keuntungan bagi perusahaan dan bermanfaat bagi pasar yang akan menggunakannya,” imbuh pemilik moto “We are the champion of our life”.

Ia menegaskan, setiap industri yang melakukan inovasi harus memperhatikan pula aspek lingkungan hidup. “Jangan hanya memproduksi barang saja. Tapi juga harus diperhatikan lingkungannya agar tidak merusak lingkungan,” tukasnya. Menurutnya,  tidak semua organisasi atau perusahaan dapat melakukan inovasi disebabkan oleh berbagai faktor. Misalnya dari sisi cara berpikir. Perusahaan dan SDM Harus berpikir inovasi supaya lingkungan tidak tercemar. “Supaya lingkungan tidak tercemar memang butuh biaya dan biaya itu tidak murah. Kalau bagi pelaku usaha biayanya sangat besar, pasti akan jadi penghambat inovasi,” papar Pepey. Kecuali jika pelaku bisnis menganggap inovasi berkaitan dengan keselamatan, lingkungan, manfaat positif bagi orang banyak, maka inovasi tidak akan dianggap sebagai cost atau beban biaya.

Masalah pencemaran lingkungan menjadi tantangan bagi perusahaan yang memiliki budaya inovatif. Yang terpenting, aku Pepey, bagaimana cara agar pelaku industri mau melakukan inovasi tapi tidak terbebani oleh biaya yang sangat besar. “Yang harus dilakukan adalah support dari pemerintah dengan menaikan kontribusi dalam hal penelitian. Tapi Saya melihat pemerintah tidak terlalu banyak mendukung,” ujar wanita yang pernah menjabat sebagai Produk dan Marketing Manager di PT. Charoen Pokphand Indonesia.

PepeyDari sisi SDM, biasanya untuk perusahaan skala menengah ke atas sudah memenuhi persyaratan seperti Indofood Sukses Makmur, Bukit Muria Jaya, dan masih banyak lagi. Secara umum, ada beberapa jenis inovasi. Pertama, Incremental, yakni hanya fokus berinovasi pada produk. Mudah, murah, dan cepat adalah kata kunci untuk jenis inovasi ini. Berikutnya adalah Moderat, lebih berdampak pada divisinya, misalnya di divisi pemasaran.

Terakhir, breakthrough atau radikal yang berdampak pada perusahaan. “Tapi kalau yang bersifat radikal, saya belum bisa memastikan apakah memang iya atau tidak. Artinya SDM-nya berkreativitas tinggi, dengan mendapat dukungan dari perusahaan sehingga mereka bisa melahirkan ide-ide yang breakthrough dan didukung oleh rise-riset yang longitudional, bukan riset sekali jalan,” ujar Pepey mencontohkan perusahaan sukses dunia seperti Apple, Microsoft, dan Google yang memiliki orang-orang yang berkreativitas tinggi.

Pepey menambahkan, berdasarkan Cooper, J. R., yang dikenal dengan bukunya, “Winning at New Product”. Dari buku Cooper, ada 4 pilar The Innovation Diamond yang berisi tentang 4 pilar untuk mencapai keberhasilan inovasi. Pertama adalah knowledge dalam inovasi. “Tidak mudah melakukan inovasi karena butuh pengalaman bertahun-tahun untuk melakukan inovasi. Ada ilmunya juga,” imbuh Pepey yang menjadi staf Core Faculty Sekolah Tinggi Manajemen PPM.

Kedua yaitu budaya perusahaan harus inovatif. Sangat sulit perusahaan yang menggunakan birokratik untuk melakukan inovasi. “Tapi bukannya tidak mungkin, hanya sangat sulit. Karena terjadi penekanan dari sisi kreativitas,” jelasnya. Ketiga, harus bisa memahami dan mengerti mengenai portfolio manajemen, bagaimana mereka melakukan investasi untuk produk yang resikonya bisa diantisipasi oleh perusahaan. “Punya atau tidak  mereka kemampuan untuk itu,” tutur sarjana kedokteran hewan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Keempat, mereka harus didiukung oleh top manajemen yang baik dan tidak menyalahkan. “Itu terkait juga dengan resources, tidak hanya orangnya, tapi juga uang. Pengetahuan juga tidak mudah. Tidak mudah itu bukan berarti tidak bisa dipelajari,” imbuh Pepey sambil tersenyum. Kehadiran PDMA Product Development and Management Association (PDMA) di Indonesia jelas memberikan angin segar bagi perusahaan yang ingin dan memiliki budaya inovatif. “PDMA Indonesia dapat memberikan knowledge kepada individu dan perusahaan tentang pemahaman dan pengertian mereka tentang inovasi,” tuturnya.

PDMA Indonesia saat ini telah beranggotakan 60 yang terdiri dari individu seperti mahasiswa dan karyawan, serta perusahaan. Bahkan ada juga dari beberapa asosiasi seperti GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia), GP Farmasi Indonesia (Gabungan perusahaan Farmasi Indonesia), Mastel (Masyarakat Telekomunikasi), APKI (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia), dan lain-lain. “Tapi anggota dari beberapa asosiasi masih belum banyak. Pasalnya masih ada resistensi dari sebagian asosiasi. Tapi kami terus tindak lanjut dan bekerja secara paralel. Kalau asosiasi tidak terlalu respon, kami paralel langsung ke individu atau direksinya,” tutur wanita yang hobi membaca, traveling, berkebun, dan berenang.

Perjuangan Pepey menghadirkan PDMA di Indonesia juga bukan hal yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan, kerja keras, dan konsistensi sehingga Indonesia khususnya PPM Manajemen  mendapatkan kepercayaan Amerika sehingga PDMA Indonesia. Memang tidak mudah menggerakkan asosiasi ini. But this is my passion, saya senang bekerja di product development. Saat itu, saya berpikir, suatu saat impian saya bisa terwujud, PDMA itu harus hadir di Indonesia,” kata Pepey dengan nada senang karena banyak mendapat dukungan dari berbagai kalangan ketika PDMA bisa hadir di Indonesia.

Setelah mengajukan diri ke PDMA Amerika dan menyiapkan berbagai perlengkapan persyaratan selama 6 bulan, barulah pihak PDMA Amerika mengunjungi PPM Manajemen di Indonesia. Tahun 2012, PDMA Indonesia resmi didirikan dan Pepey menjadi Kordinator PDMA Indoenesia. “Dibandingkan dengan negara lain seperti India, Malaysia, Singapura, PDMA Indonesia paling aktif saat ini,” ia menjelaskan. PDMA Indonesia  pula yang pertama kali mengadakan The 1st Outstanding Corporate Innovator (OCI) Indonesia Award tahun 2014 lalu. Penghargaan ini akan diberikan kepada perusahaan yang beroperasi di Indonesia dan mampu menghasilkan pengembangan produk dan jasa yang terbukti sukses dalam kurun waktu 3 tahun terakhir serta alur penemuan ide, penciptaan, peluncuran serta pengembangan produknya dilakukan di Indonesia. Sang pemenang, Starbuck, berkesempatan berbagi kisah sukses dalam konferensi PDMA yang diadakan di Amerika Serikat tahun 2015. “Indonesia berani dan patut dibanggakan,” tandas Pepey dan berharap tahun ini peserta OCI bisa mencapai target yaitu menginterview 20 perusahaan. (Ratri Suyani)


Related Articles

Irsad Nizam Never Give Up

Wawasan yang terbangun dari dasar hingga profesional selama berkarir di beberapa perusahaan membuat Irsad Nizam menikmati karirnya di dunia HR.

Menikmati Hidup dengan Berpikir Positif

Dalam berkarir, spent of control dan disiplin merupakan prinsip pria berdarah Bandung ini. “Spent of control itu bagus, jangan semua

Djoko Kusumowidagdo: Bangun Karakter SDM dengan Outbond

Profesionalisme dan etika bagaikan dua sayap yang tidak boleh patah atau hilang bagi setiap orang terutama para profesional bisnis, pejabat

1 comment

Write a comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*