• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 15 August 2018

Pemerintah Jepang Keluarkan Kebijakan Untuk Kurangi Jam Kerja

PekerjaJepangPara pekerja di Jepang terkenal di seluruh dunia sebagai pekerja keras. Bahkan tak jarang mereka sering lembur dan berada di kantor jauh lebih lama daripada para pekerja di kantor negara lain. Di Jepang sendiri, ada istilah “Karoshi” yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut kematian yang disebabkan kebanyakan bekerja. Kondisi ini yang menyebabkan para pekerja di Jepang lebih banyak  mengalami stres.

Stres akibat pekerjaan, menurut pemerintah Jepang, merupakan salah satu ancaman paling nyata terhadap produktivitas nasional negara itu. Dari penelitian pemerintah Negeri Matahari Terbit, 23 persen karyawan bekerja lembur setidaknya 80 jam per bulan. Situasi lebih buruk dialami oleh 12 persen pegawai korporasi, yang lembur hingga 100 jam per bulan.

Bahkan salah seorang pekerja muda Jepang yang merupakan seorang agen iklan melakukan bunuh diri pada 25 Desember 2015 lalu akibat dipaksa lembur selama 105 jam per bulan. Laporan berita bunuh diri tersebut baru terungkap baru-baru ini. Menurut Kantor Inspeksi Standar Buruh Jepang, kasus bunuh diri di Jepang pada 2015 saja ada 93 kasus bunuh diri atau percobaan bunuh diri akibat kelelahan bekerja.

Agar tidak banyak karyawan mengalami stres di tengah tekanan kerja segila itu, pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan baru. Aturan hukum ini akan memaksa setiap perusahaan menyediakan layanan konsultasi kesehatan mental bagi setiap pegawai, termasuk menjamin agar lingkungan kerja tidak memicu stres. Aturan itu sudah berlaku sejak 30 November 2016.

Pemerintah Jepang belum lama ini juga mengeluarkan kebijakan baru yang terkait dengan lembur. Bekerja sama dengan berbagai kelompok bisnis di Jepang, pemerintah Jepang meluncurkan kampanye untuk sektor publik-swasta yang disebut “Premium Fridays” pada bulan Februari tahun depan untuk mendorong karyawan agar meninggalkan pekerjaan mereka pada pukul 15:00 setiap hari Jumat minggu terakhir setiap bulan.

Kampanye ini dirilis oleh pemerintah Jepang pada Oktober lalu karena diketahui dan ditemukan bahwa satu dari lima pekerja Jepang beresiko kematian akibat lembur. Terinspirasi oleh “Black Friday” di AS, kampanye ini juga diharapakan agar para pekerja bisa pulang kerja lebih awal, belanja konsumen akan dihidupkan kembali setiap akhir pekan.

Namun sejauh ini belum diketahui dengan jelas seberapa baik para pengusaha dan pekerja menerima kebijakan ini mengingat budaya jam kerja yang panjang ini sudah berlangsung sejak lama. Bahkan para karyawan yang menerima kebijakan ini beranggapan jika mereka terpaksa harus bekerja lebih keras lagi di minggu-minggu sebelumnya agar mereka bisa pulang lebih cepat di jumat minggu terakhir. “”Ini akan menjadi tidak berarti jika para pekerja meninggalkan beberapa jam lebih awal pada hari Jumat tapi bekerja lebih lama pada hari-hari lainnya atau pada hari libur,” kata kepala ekonom Dai-ichi Life Research Institute, Toshihiro Nagahama.  (Ratri Suyani, sumber: HRM Asia)


Related Articles

Professional Property Operations Firms

Commercial property administration organizations might have to brace themselves for several difficult time in the close to future because major

BFI Finance Salurkan Pembiayaan Baru Senilai Rp6,7 Triliun di Semester I

Tantangan yang dihadapi industri pembiayaan kendaraan sejak tahun lalu cenderung membaik di semester pertama tahun ini. Meskipun pertumbuhan ekonomi masih

SunFish HR SaaS Breakfast Workshop, Solusi Bisnis Berbasis Cloud

PT Indodev Niaga Internet (DataOn), setiap bulannya selalu menyelenggarakan acara breakfast workshop di Corporate Officenya, di bilangan Permata Hijau, Jakarta

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*