• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 24 April 2018

Pekerja Indonesia Hanya Butuh 29 Hari Cuti untuk Tingkatkan Kinerja Bekerja

cutiHasil survei yang dilakukan JobStreet.com Indonesia dalam periode Mei – Juni 2016 menyatakan bahwa pekerja di Indonesia hanya butuh cuti kurang dari 29 hari dipercaya oleh 76% responden (pencari kerja) dari total 4.200 responden menjadikan diri mereka lebih baik.

Namun banyak perusahaan di Indonesia khususnya masih enggan untuk memberikan periode cuti lebih dari 29 hari dikarenakan akan menurunkan produktifitas dari perusahaan. “Hak untuk cuti adalah hak yang dapat dinikmati karyawan, oleh karena itu kami ingin mengetahui seberapa besar dampak cuti terhadap kualitas bekerja?,” ujar Jobstreet.com pada keterangan tertulisnya.

Motivasi untuk Bersama Keluarga
Kinerja yang cemerlang di tempat bekerja, tidak akan tercipta tanpa adanya passion terhadap pekerjaan. Hal ini terungkap dari 40% responden yang menyatakan bahwa kualitas hubungan dengan keluarga menjadi motivasi utama untuk mendapatkan hak cuti dari pekerjaan.

Bagi para responden, passion serta motivasi dalam bekerja tercipta dengan adanya dampak terhadap lingkungan, pengalaman baru, serta memberikan arti hidup yang lebih bermakna. Responden yang berkecimpung di industri marketing, manufaktur, akuntasi, serta konstruksi menjadi kelompok yang menyatakan pentingnya untuk termotivasi untuk kerja keras dalam bekerja agar hasil yang diciptakan pun memuaskan.

Pekerjaan yang dilakukan menuntut mereka untuk banyak berpergian. Hal tersebut menjadi kontributor utama stres yang seringkali berpengaruh pada kualitas bekerja seperti yang dinyatakan oleh 31% responden.INFOGRAFIK--Pekerja-Indonesia-Hanya-Butuh-29-Hari

Dengan begitu, cuti bersama keluarga menjadi pilihan bagi mereka untuk menebus kesibukan dari pekerjaan dan rutinitas sehari-hari. Efek yang diberikan ialah kemampuan untuk merehatkan pikiran dan mengumpulkan fokus saat akan kembali bekerja.

Refleksi Diri
Saat cuti juga dimanfaatkan sebagai waktu untuk melakukan refleksi terhadap hidup. Sebanyak 500 responden menyatakan bahwa mereka akan pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Bagi 80% responden, hal ini mampu menghilangkan stres dan 20% responden menjadi alternatif untuk memperbaiki kesehatan.

Tempat destinasi yang dipilih oleh para responden tentunya bermacam- macam. Pantai menjadi pilihan utama, lalu gunung dan tur kuliner di kota yang belum pernah dikunjungi menjadi alternatif.

Akan tetapi, aktifitas ini dinilai kurang memberi dampak yang signifikan terhadap kinerja kerja. Para responden menyatakan bahwa refleksi diri sulit dilakukan pada saat melakukan perjalanan, karena mereka terlena dengan hal-hal baru yang ditawarkan dari tempat tersebut. Alhasil, mereka akan merasa lelah dan kurang siap untuk kembali beraktifitas.

Meningkatnya tingkat stres
Di sisi lain, sebanyak 400 responden merasakan dampak yang signifikan dari ketidaksesuaiannya pekerjaan dengan passion yang mengakibatkan sering marah, tidak percaya diri, menjadi pribadi yang tertutup dan enggan untuk mengekspresikan idenya. Hal ini biasanya terjadi pada 38% responden yang bertugas sebagai administrasi yang mewajibkan dirinya untuk melakukan tugasnya secara repetitif.

Hasil survei JobStreet.com Indonesia dalam periode Mei – Juni 2016 menyatakan bahwa pekerja Indonesia hanya membutuhkan kurang dari 29 hari untuk membangkitkan semangat bekerjanya. Namun hal ini masih dipandang negatif oleh perusahaan karena dapat menurunkan produktifitas perusahaan. (Krs)


Related Articles

Tingkat Perekrutan Karyawan di Amerika Bakalan Turun di Semester Kedua

Mayoritas para professional HR menjadi sedikit kurang optimis terhadap perekrutan karyawan di sisa tahun 2016 ini. Hal ini berdasarkan survei

Biaya Rekrut Karyawan Per Perusahaan Rata-rata 4.100 Dollar AS

Rata-rata perusahaan mengeluarkan biaya perekrutan untuk sebuah posisi menengah ke atas sebesar 4.100 Dollar AS atau hampir  Rp54 juta. Selain

Investor Indonesia Anggap Enteng Pengeluaran di Masa Pensiun

Investor Indonesia ternyata memiliki risiko yang tinggi akibat kurang siap menghadapi realitas finansial di masa pensiun nanti. Hal ini terungkap

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*