• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 26 April 2018

Pasar UKM Harus Mengglobal

ExecutiveProfile1Di era MEA sekarang ini, harapan Jahja Budianto Soenarjo adalah menjadikan UKM Indonesia mampu bersaing di kancah regional dan internasional semakin besar. Ia bertekad menjadikan UKM Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Berawal dari ketertarikannya membantu para pengusaha untuk melakukan terobosan-terobosan dalam hal ide sehingga perusahaan mereka bisa berkembang, Jahja mendirikan sebuah perusahaan Direction Strategy Consulting, perusahaan jasa konsultasi bisnis dan manajemen, pada tahun 1993 lalu. Kemudian pendiri Nexion Hospitality Corporation ini pun merambah ke bisnis kecantikan melalui Blessindo tahun 2014 lalu.

Menyukai Ide-ide Inovatif
Sebagai konsultan bisnis dan coach dalam bisnis yang beroperasi di seluruh Indonesia, ia menyadari kalau dirinya memilki passion di bidang pengembangan manajemen dan bisnis. “Saya selalu dipenuhi dengan ide-ide liar, ide baru, dan inovasi,” aku Jahja ketiika di sebuah kafe di Jakarta. Baginya, siapapun yang ia bimbing baik BUMN maupun perusahaan swasta hingga Usaha Kecil Menengah (UKM) selalu ia berikan kepada mereka gagasan, perubahan yang inovatif sehingga perusahaan mereka bisa lebih berkembang.

Bagi Pengurus Kadin Jawa Barat bidang LP3E periode 2014-2019 dan Ketua Bidang SDM Pusdiklat Kadin Jabar, mengajak para pengusaha yang menjadi kliennya untuk melakukan terobosan-terobosan yang berorientasi pada pembangunan kepada ekonomi kerakyatan dalam negeri adalah hal yang positif, apalagi dengan masuknya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Tahun ini saya berencana meluncurkan pasar UKM. Saya memilih para UKM terbaik yang bisa kita bina dan berikan tempat yang terbaik untuk mereka bisa berdagang,” ujar Jahja. Kemudian para UKM terpilih akan disaring lagi untuk diberikan kesempatan berkiprah di pasar regional. “Artinya ini pasar ASEAN, dimana saya juga menjajagi dengan beberapa organisasi di ASEAN khususnya organisasi UKM,” imbuh pria kelahiran Cirebon, 13 Mei 1964 ini.

Beberapa UKM yang ikut menjadi binaan Jahja termasuk perusahaan yang bergerak di bidang produk perawatan tubuh. “Kita lihat banyak di daerah-daerah di pelosok Indonesia, banyak yang memproduksi susu kambing, herbal, tapi ternyata mereka tidak ada yang membina. Jadi apa salahnya kita bina mereka semua. Ini sejalan dengan kita memasuki era MEA,” katanya antusias.

Menurutnya, pengusaha UKM Indonesia  jangan hanya jadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga harus jadi tuan rumah di negeri orang lain. “Caranya, dengan masuk pasar negeri lain. Makanya UKM akan saya bawa ke kancah regional, itu cita-cita saya,” akunya. Persiapan yang dilakukan Jahja dan tim sudah mulai berjalan. Rencananya, ia akan mengikutsertakan para UKM binaannya untuk menjadi pserta pada pameran pertama yang akan berlangsung di negeri jiran bulan November tahun ini. Tak hanya itu. Jahja pun mendukung diadakannya world franchise conference yang akan diadakan tahun ini di Jakarta. “Dengan diadakannya konferensi waralaba dunia dengan tuan rumah Indonesia. saya ingin menggalakkan pemain lokal Indonesia masuk ke pasar regional dan pasar global,” harapnya.

Merambah ke Bisnis Kesehatan
Bisnis kesehatan diakui Pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat tahun 2013 hingga kini merupakan peluang pasar yang besar, menarik, dan tidak pernah mati.  Menurutnya, situasi ekonomi boleh susah, tapi yang namanya kesehatan akan tetap jalan. “Sekarang kalau kita bicara kecantikan dan kesehatan, ini bagian dari bisnis gaya hidup dan bisnis gaya hidup makin menarik. Karena pendapatan ekonomi masyarakat yang meningkat secara perlahan walaupun roda ekonomi berjalan lambat,” tegasnya.ExecutiveProfile

Upah minimum di Indonesia yang meningkat setiap tahunnya otomatis akan membuat gaya hidup masyarakat pun meningkat. “Itu peluang bisnis. Pertumbuhan bisnis itu 8-12% bahkan lebih per tahunnya. Tentunya lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi yang hanya 4,5% per tahun. ini merupakan satu barometer bahwa ada sektor-sektor yang tetap menarik. Salah satunya adalah sektor gaya hidup. Jadi saya menilai dari barometer tersebut,” jelasnya kembali.

Ia menyadari, semua bisnis akan menghadapi tantangan masing-masing, termasuk bisnis kesehatan khususnya bidang estetika juga mempunyai tantangan yang tidak sedikit. “Di Indonesia, tantangan yang paling utama adalah keterbatasan SDM terutama dalam skill yang memiliki kemampuan yang cukup mapan,” iya menyayangkan hal ini. Padahal dalam hal resources seperti bahan baku herbal di dunia estetika begitu  banyak. Diakuinya, penggunaan herbal untuk kecantikan dan kesehatan menjadi tren di luar negeri dan Indonesia menjadi salah satu sumber terbesar dalam hal bahan baku. “Ini orientasinya ekspor semua. Kenapa tidak dikembangkan saja bahan baku kita di dalam negeri. Makanya saya  concern  agar bisa dikembangkan di dalam negeri.”

Pendiri sekaligus pemilik perusahaan produk perawatan kulit Blessindo ini berharap dukungan  pemerintah kepada para pengusaha Indonesia termasuk UKM di dunia kesehatan dan kecantikan tidak setengah-setengah mengingat gempuran tenaga asing dan industri luar negeri yang semakin kencang. Kendala yang cukup rawan dihadapi para pengusaha salah satunya adalah perijinan yang sangat sulit. “Padahal kalau kita mau bersaing perijinannya harus dimudahkan, salah satunya adalah ijin dari BPOM. industri terkait lain juga harus mendukung. kalau tidak, Indonesia akan kalah. Indonesia saat ini sedang dikepung oleh 9 negara. Bahkan Eropa punya perwakilan di Malaysia dan mereka masuk ke Indonesia. Mereka berebut pasar Indonesia yang besarnya 250 juta penduduk,” ujar Jahja.

Contohnya adalah banyak pasien asal Indonesia di rumah sakit di Malaysia dan Singapura. “RS di sana  tidak besar tapi kenapa mereka bisa menang? karena kualitas pelayanan mereka bagus. Susternya, dokter-dokternya, bahkan sekuritnya pun ramah-ramah. Padahal sekarang di Malaysia, biaya kesehatan sudah murah, sangat kompentitif dengan di Indonesia,” Jahja menjelaskan. Kalaupun ada RS dan klinik estetika di Indonesia yang profesional dengan kualitas layanan yang bagus dan ramah, biasanya bisa dihitung dengan jari.  Yang ada hanyalah dokter yang ingin buka klinik, tapi mereka tidak cukup belajar tentang pelayanan yang benar.  “Tidak cukup dengan hanya buka klinik kemudian langsung bangga. Mereka harus berpikir soal bisnis. this is business. business is profit. ketika berpikir bisnis dan profit, mereka harus berpikir bagaimana on going business dan supaya sustainable. makanya pengusaha perlu wawasan bisnis, wawasan marketing, dan wawasan service excellent,” ia mengakhiri perbincangan. (Ratri Suyani, -Photo: Kemal)


Related Articles

Menikmati Hidup dengan Berpikir Positif

Dalam berkarir, spent of control dan disiplin merupakan prinsip pria berdarah Bandung ini. “Spent of control itu bagus, jangan semua

Anita Widjaja: The Best HR is Your Line Manager

Di tangan Anita Widjadja, Bank Mandiri mengalami beberapa perubahan, termasuk di bidang teknologi. Wanita yang menjabat sebagai Head of Human

To be Famous and Unique

Winners never quit, quitters never win, merupakan motto Fransiscus Budi Pranata, pria kelahiran 25 Januari 1967 yang telah 22 tahun

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*