• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 22 July 2018

Pambudi Sunarsihanto: Talent harus Mampu Hadapi VUCA World

Pambudi1Salah satu tantangan yang harus dihadapi di dunia bisnis adalah VUCA world. VUCA yang merupakan singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity merupakan gambaran situasi di dunia bisnis di masa kini. Volatily adalah dinamika perubahan yang sangat cepat, Uncertainly diartikan sebagai kurangnya prediktabilitas terhadap isu dan peristiwa yang terjadi, Complexity yaitu adanya gangguan dan kekacauan yang mengelilingi setiap organisasi. Sedangkan Ambiguity didefinisikan sebagai beban berat realitas dan makna yang berbaur dari berbagai kondisi yang ada.

Banyak organisasi yang berjuang untuk tetap bertahan dan selaras dalam sifat VUCA tersebut. VUCA world yang berpengaruh pada dunia bisnis ternyata berpengaruh secara signifikan pada sumber daya manusia. Menurut Pambudi Sunarsihanto, Direktur Human Capital Departemen Citibank Indonesia dalam acara DataOn 10th Annual Conference 2015 yang diadakan di Hotel Fairmont, Jakarta tanggal 1 April 2015 lalu,  ketika praktisi HR ditanyakan mengenai kesiapan mereka terhadap VUCA, mereka akan menjawab siap. “Padahal kesiapan itu bukan hanya siap untuk dirinya sendiri, tetapi juga seluruh tim di perusahaan,” papar Pambudi.

VUCA World rupanya menciptakan suatu tren baru yang penting untuk dipahami oleh praktisi SDM dan pemimpin perusahaan masa kini. Ketika dulunya orang yang mencari perusahaan untuk memberinya kerja, kini sebaliknya. Perusahaanlah yang mencari orang. Saat dulunya, mesin, modal dan kondisi geografi menjadi sebuah keunggulan, maka sekarang, karyawan yang bertalentalah keunggulan perusahaan. Talent yang dulunya hanya berperan kecil terhadap keberhasilan bisnis, sekarang menjadi penentu perubahan.

Demikian juga dengan lowongan kerja. Pada masa lampau, lowongan kerja sangat langka. “Namun sekarang yang langka bukanlah lowongan kerja tetapi justru talent yang berkualitas. Sulitnya mendapatkan talent juga dibarengi dengan bergesernya loyalitas karyawan,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai Executive Vice President, Human Resources di Telkomsel periode 2008 – 2010. Ia menambahkan, dahulu karyawan berpikir untuk berkarir lama pada sebuah perusahaan. Kini, komitmen orang lebih bersifat short-term. Pada umumnya mereka tidak loyal kepada perusahaan tetapi pada profesi.

Ia menegaskan, cara mengelola talent dalam menghadapi VUCA World adalah dengan tiga hal yaitu sesuaikan  gaya kepemimpinan Anda dengan kondisi, bedakan metode Anda dalam mengembangkan para talent, dan perkuat proposisi nilai karyawan Anda. Menurut Pambudi, dalam situasi yang penuh ketidakpastian tersebut, dibutuhkan kesiapan khusus untuk bisa bertahan dalam kompetisi. “Yang bisa bertahan hidup itu bukanlah mereka yang besar dan kuat. Karena dinosaurus pun punah. Yang bisa bertahan adalah mereka yang mampu menyesuaikan diri. Misalnya seperti kura-kura,” kata Pambudi mengutip kalimat Charles Darwin, penemu teori evolusi.

Selain itu, ada hal yang harus dipersiapkan orang HR yaitu mempersiapkan seorang pemimpin yang dapat membaca tren masa depan dan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi, seperti yang telah dilakukan oleh Citibank saat ini. Sebagai pionir, Citibank memang dikenal telah mencetak banyak sekali pemimpin di dunia. Di Indonesia, sudah hampir 47 tahun Citibank Indonesia terus berupaya menanamkan mindset pada setiap orang agar mengingatnya bukan sekadar bisnis semata, melainkan konsen dalam pengembangan para pemimpin baru.

Leadership memang menjadi salah satu kunci dasar dari nilai-nilai budaya Citi. Dengan kehadirannya di 1.000 kota di lebih dari 160 negara, Citibank berupaya mencapai visi tersebut dengan memanfaatkan global network yang dipunyai. Citibank sendiri adalah bank multinasional yang menjadi kepercayaan 495 perusahaan yang masuk Fortune 500, berkomitmen untuk membentuk lebih banyak pemimpin masa depan, baik itu untuk perusahaan, industri dan negara. “We develope a great leader for the company, for the industry, and for the country,” ujar  Pambudi seraya menambahkan bahwa semua harus menjadi satu kesatuan yang utuh, tidak cukup hanya dengan melaksanakan attract, develop, motivate, dan retain SDM.

Ketika pertama kali bergabung dengan Citibank, yang pertama kali ia tanyakan pada CEO adalah what is you challenge? “Dan saya ingin tahu top 3 challenge-nya. Seandainya dia menyebutkan SDM sebagai challenge, maka saya berada di perusahaan yang tepat. Kalau tidak, sama saja bohong. Maka dari itu kami attract orang-orang terbaik. Karena good people don’t need the job, but we are the one who need them,” katanya dengan tersenyum.

Karena jumlah bank yang ada di Indonesia saat ini mencapai 120, maka kebutuhan HR Director, Risk Director dan lain-lain harus berjumlah sama yaitu 120. “Padahal talentnya hanya segitu-gitu saja. Karena itu mempertahankan dan mengelola talent menjadi kunci sukses,” tandasnya. Hal ini tidak bisa dilihat sebagai one piece of puzzle, harus dilihat sebagai satu kesatuan.


Related Articles

Drs. Pujianto Apt. MM: Transformasi Bisnis Kimia Farma Hadapi Persaingan Global

Lima tahun terakhir, PT. Kimia Farma gencar melakukan transformasi bisnis  dari  yang semula sebagai pharmaceutical company menjadi health care company.

Mr. Chee Tung Leong: Karyawan Tidak Memiliki Gairah Bekerja

Berdasarkan Survey Gallup, hanya 13 persen karyawan di Indonesia yang engaged dalam bekerja. Ini berarti bahwa relatif sedikit sekali karyawan

Muhammad Kuncoro Wibowo: Resep Khusus Pengelolaan Pegawai versi KAI

Perkembangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam beberapa tahun terakhir memang sangat pesat, baik dari sisi pendapatan yang terus meningkat

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*