• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 18 June 2018

Mind Of An Entrepreneur

Indra SosrodjojoSering sekali saya mendengar teman saya bercerita bahwa dia ingin sekali menjadi entrepreneur, tetapi masalahnya adalah uang, tidak punya uang yang cukup untuk modal kerja. Disisi lain saya mempunyai kawan yang selesai kuliah di berikan modal yang cukup oleh orang tuanya, dan mereka menyewa ruang kantor yang cukuppretigius, dan bisnisnya tidak bertahan lama paling lama dua tahun mereka sudah tutup.

Kalau saya membaca cerita para pengusaha sukses sekarang ini seperti Bill Gate dan Steve Job, mereka memulai bisnisnya dari garasi mereka, dan sekarang perusahaannya menjadi besar sekali. Dalam perenungan saya selalu timbul pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk di cari jawabannya. Apakah memang ada perbedaan utama seorangentrepreneur dengan yang bukan entrepreneur? Apakah seorang entrepreneur harus dilahirkan dari keluargaentrepreneur juga? Apakah sestiap orang mempunyai kesempatan untuk menjadi entrepreneur?

Kendala dan Solusi

Setelah sekian lama saya bergaul dengan berbagai macam teman dan dari berbagai latar belakang, banyak hal yang saya pelajari dari mereka. Orang-orang yang sukses selalu memikirkan solusi, bagaimana caranya mengatasi kendala yang dihadapi. Seperti misalnya untuk memulai usaha seorang entrepreneur tidak pernah mengatakan saya tidak punya modal untuk menjadi pengusaha, pemikiran seperti ini tidak akan pernah dipikirkan oleh pengusaha. Karena memang menjadi seorang entrepreneur harus menghasilkan uang, sehingga bila yang dipikirkan tidak dapat menghasilkan uang maka namanya bukan usaha.

Berbeda dengan anak seorang dari keluarga pengusaha, yang sejak kecil sudah dilibatkan dalam melakukan usaha, diajarkan untuk mengambil keputusan, sehingga pada saatnya sudah dapat memegang usaha yang cukup besar untuk dikembangkan. Mereka belajar dan mengambil keputusan kecil-kecil hingga pada saatnya sudah mengetahui dasar pemikiran dalam melakukan bisnis.

Latar belakang keluarga memang membantu, tetapi bukan jaminan juga bahwa anak seorang usahawan yang sukses menjadi sukses juga. Banyak contohnya di Indonesia seorang anak pengusaha yang sukses kemudian di sekolahkan ke luar negeri, setelah pulang mulai menerapkan ilmunya di usaha orang tuanya yang sudah besar, tidak berapa lama usaha yang sudah dibangun puluhan tahunpun hancur. Sebetulnya yang terjadi bukan masalah ilmu, dan bukan juga masalah modal tetapi yang terjadi adalah anak tersebut belum cukup pengetahuan di lapangan untuk pengambilan keputusan yang tepat. Kembali lagi cara berpikir menjadi penting dalam mengembangkan usaha.

Lingkungan Pergaulan dan Bekal Pengetahuan

Karena memang perbedaannya ada pada pola pikir, tentunya yang mempengaruhi kita untuk mempunyai pola pikir yang berbeda adalah lingkungan sekitar kita dan juga bekal pengetahuan yang kita miliki.

Biasanya seseorang merasa sudah cukup belajar setelah selesai kuliah, banyak sekali teman saya yang sudah tidak pernah membaca buku lagi setelah selesai sekolah. Saya juga merasakan hal yang sama, pada saat saya selesai sekolah, apalagi saya lulus Master of Business Administration, maka saya merasa bahwa saya mempunyai bekal yang cukup. Tetapi apa yang terjadi, kesombongan merasa sudah tahu dan akibatnya tidak mau belajar lagi menyebabkan bisnis saya jatuh terpuruk dan hampir tenggelam. Saya terperangah pada saat saya menemukan buku yang berjudul The Secret of Software Success di sebuah toko buku, setelah saya baca ternyata penyebab kejatuhan usaha saya dituliskan persis di buku itu, dan perusahaan yang mengalaminya di Amerika tutup. Kemudian saya merenung, seandainya saya mau membaca buku, dan seandainya saya mendapatkan buku tersebut lebih cepat lagi, mungkin saya tidak mengalami kejatuhan.

Tetapi memang Tuhan baik, rupanya saya diberi pelajaran yang sangat berarti dalam hidup saya, untuk mau merendahkan hati belajar lebih baik lagi, dan sejak saat itu saya banyak membaca buku, terutama buku pengalaman orang-orang yang sukses, buku yang bercerita tentang leadership, dan banyak buku yang ditulis oleh pengarang yang cukup ternama. Saya merasakan banyak perbedaan setelah membaca banyak buku. Saya dapat mengambil keputusan lebih baik, saya dapat mengetahui keadaan bisnis lebih jernih, dan saya dapat melihat jauh kedepan untuk membawa usaha yang saya rintis lebih ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Lingkungan pergaulan saya juga sudah berubah, banyak teman-teman saya sekarang ini yang sukses dibidangnya, dan mereka selalu optimis, mereka hampir tidak pernah mengeluh, lingkungan positif seperti ini memberikan saya energi yang luar biasa besarnya. Di salah satu buku yang saya baca, saya ingat sekali kata-katanya “your future depends on the people you meet and the books you read”.

Biaya dan Investasi

Dalam berusaha pada awalnya saya tidak dapat membedakan antara biaya dan investasi, pada saat perusahaan masih kecil kita harus menekan biaya, bahkan pada saat besarpun kita perlu menekan biaya, tetapi saya tidak pernah menekan investasi. Saya akan melakukan investasi sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Saya menganggap buku adalah investasi, karena dengan membaca banyak buku saya akan mendapat pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengembangkan perusahaan. Memberikan training pada karyawan merupakan salah satu bentuk investasi.

Kantor yang mewah dan fasilitas yang mewah merupakan biaya sehingga perlu ditekan, pernah teman saya mengatakan bahwa mobil yang kita gunakan dan kantor kita akan menunjukkan kemampuan kita, sehingga kita bisa mendapatkan proyek yang besar. Saya tidak pernah percaya dengan hal ini, karena saya pernah membuktikan pada saat kantor saya masih kecil, saya pernah di datangi tamu dari luar negeri yang akan meninjau kantor kami untuk memutuskan menggunakan produk kita. Pada awalnya saya merasa tidak yakin. Tetapi apa yang terjadi? perusahaan tersebut memutuskan untuk menggunakan jasa kita, dan sampai sekarang masih menggunakan jasa kita, sudah lebih dari lima tahun.

Pelajaran yang didapat dari kejadian tersebut adalah bukan fasilitas apa yang dapat kita tunjukkan tetapi bagaimana kita dapat menyelesaikan pekerjaan kita dan kemampuan kita yang perlu kita buktikan pada mereka. Kepercayaan dibangun bukan dari kesombongan melainkan dari kerendahan hati dan kemampuan yang kita miliki, pada akhirnya setiap orang akan mengetahui kemampuan kita dari cara kita berbicara dan berdiskusi, hal tersebut tidak dapat ditutupi dengan fasilitas.

Penulis: Indra Sosrodjojo


Related Articles

Mekanisme Penghitungan Pajak Penghasilan Atas WNA

Bagaimana perbedaan ketentuanwithholding tax (pemotongan) PPh 21 terhadap karyawan asing yangpertama sifatnya adalah estimasi (asumsi ia mulai berada di Indonesia sejak AWAL

Manage by Head, Lead by Heart

Pernahkah Anda memiliki atasan yang tidak pernah mengevaluasi pekerjaan Anda? Mengeluhkan buruknya koordinasi antara anggota tim? Bingung harus berbuat apa

Membangun “The Dream Team”

Bagi sebagian penggemar olahraga bola, terutama yang mengikuti Liga Utama Inggris, pasti mengetahui kehebohan tim Leicester City yang beberapa hari

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*