• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 18 June 2018

Menikmati Hidup dengan Berpikir Positif

Bayu Permadi

Bayu Permadi

Dalam berkarir, spent of control dan disiplin merupakan prinsip pria berdarah Bandung ini. “Spent of control itu bagus, jangan semua pekerjaan diambil alih, dibagi-bagi dengan yang lain karena pasti akan susah sendiri kalau semua pekerjaan dikerjakan sendiri,” imbuh Bayu Permadi, Human Resources Manager  Total E&P Indonesie (TEPI) ini antusias.

Meski awalnya mengaku belum mengerti dan mengenal tentang psikologi dan dunia HR, namun pria kelahiran Bandung, 29 Juli 1964 ini tetap menjalankan perkuliahan di jurusan Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. “Sebenarnya saya ingin kuliah di fakultas teknik, tapi keterimanya malah di Unair dengan jurusan psikologi pula. Jujur saja saya belum mengerti itu apa. Ternyata ngomongin orang,” ujarnya.

Lulus tahun 1989, Bayu mendapat­kan kesempatan berkarir di salah satu perusahaan multi nasional terbaik di Indonesia hingga tahun 1999. “Saya senang berka­rir di perusahaan tersebut, karena kulturnya bagus, sistemnya bagus. Improvement di sana selalu ada dan membuat saya tertantang, ” akunya. Baru pada Maret 1999, ia menerima tantangan berkarir di PT. TEPI sebagai Coordinator Employee Development. Perpindahan dari perusahaan manufaktur ke perusahaan migas diakui Bayu karena ia tertantang untuk bekerja di perusahaan dengan kultur dan nuansa yang berbeda. “Memang di perusahaan lama kita selalu ditantang untuk selalu belajar dan belajar. Tapi suatu saat kita tertantang untuk berkarir di perusahaan lain, ” imbuh penggemar olahraga golf.

Tantangan yang sangat signifikan di TEPI adalah bagaimana ia bisa menda­patkan dan mempertahankan orang yang ahli di bidang migas. ”Mempertahankan karyawan dan tetap produktif adalah tantangan kami. Solusinya tentu dari sisi berbagai hal. Gaji memang pen­ting, tapi urusan pengembangan karir, pengembangan ilmu dan kompetensi juga penting. Makanya kami terus membina kompetensi karyawan karena sebenarnya ‘tabungan’ mereka yaitu kompetensi jadi lebih tinggi dibandingkan tabungan uangnya,” kata Bayu yang mengaku tidak mudah mempertahan­kan tenaga ahli yang seringkali menjadi ‘rebutan’ perusahaan sejenis.

Mengingat TEPI sangat concern terhadap pengembangan orang lain, maka tugas Bayu dan seluruh jajaran HR berupaya meningkatkan dan mengembangkan kompetensi karyawan. “Karena di industri migas lebih banyak bicara tentang modal sehingga membuat teknologi selalu terus mengikuti bagaimana agar lebih efisien dan efektif agar sumber daya alam dapat dikelola dengan baik. Dibutuhkan orang yang mengerti cara agar bisa menggali potensi alam dengan efisien dan efektif, serta aman,” tutur suami dari RA. Benardia Ayu Raniarti (43 tahun).

Ditanya suka duka selama berkarir di HR, dengan lugas ayah dari Luqman Nuradi Prawadika (18 tahun), Alya Nurdina Nareswari (15 tahun), dan Muhamad Endito Pradhana (13 tahun) ini menjawab bahwa tidak mudah berhadapan dengan banyak orang. Meski jabatan dan pendidikan sama, namun pasti akan berbeda dalam hal karakter. “Disitulah suka dukanya. Tapi buat saya ini ilmu karena saya belajar menghadapi berbagai macam karakter orang,” Bayu menegaskan. Sebenarnya menyenangkan atau tidak menyenangkan, diakui Bayu, kuncinya adalah dari diri sendiri. Berpikir positif menjadi penting. “Makin kesini saya makin menikmati hidup. Buat saya, kebahagiaan bukan hanya dari uang, pasangan cantik, atau rumah mewah. Tapi dari diri sendiri,” katanya.

Yang tak kalah penting adalah spent of control dalam pekerjaan. Menurutnya, jangan semua pekerjaan diambil alih karena pasti akan susah sendiri. “Ketika bekerja jangan pernah serakah. Buat agenda bersama-sama. Ini juga saya terapkan di rumah. Makanya kalau mau liburan dengan keluarga, saya dan istri selalu membuat agenda terlebih dulu. Demikian juga dengan disiplin. Saya selalu disiplin dalam bekerja, termasuk pula datang pagi ke kantor agar ‘aman’, tidak ada telat ka­rena kena macet,”  ujar Bayu. l RS


Related Articles

Ripy Mangkoesoebroto: Transformasi Digital HR

Transformasi yang dilakukan secara serentak dengan tahapan yang jelas ini menyentuh mulai dari perubahan logo, tampilan fisik ruang kantor, corporate

Darwan Tirtayasa: Semua Sudah Terlaksana

Darwan Tirtayasa boleh berbangga hati. Selama 26 tahun lebih ikut terlibat dalam mengelola Federal International Finance (FIF), ia dan seluruh

Potret Diri Setiap Karyawan

Kinerja ekselen perusahaan berplat merah kini semakin gencar digaungkan. Hal ini sejalan dengan ditetapkannya kinerja BUMN berbasis Kriteria Kinerja Ekselen

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*