Mengenang Kapolri I, Jend. Pol. Purn. R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo

soekanto-(1)Pada 1 Juli 2016 usia Kepolisian Republik Indonesia genap berusia 70 tahun. Lahir, tumbuh dan berkembangnya Polri tidak lepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia sejak Proklamasi. Kemerdekaan Indonesia, Polri telah dihadapkan pada tugas-tugas yang unik dan kompleks. Selain menata keamanan dan ketertiban masyarakat di masa perang, Polri juga terlibat langsung dalam pertempuran melawan penjajah dan berbagai operasi militer bersama-sama satuan angkatan bersenjata lainnya.

Adalah Jend. Pol. Purn. R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo sebagai Kapolri Pertama yang namanya diabadikan di Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur. Pun ketika kita memasuki Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, kita akan melihat patung sosok Jenderal Polisi yang menjadi Kapolri pada 29 September 1945 sampai dengan bulan Desember 1959 itu. “Jenderal Soekanto merupakan sosok yang sederhana, dan berhasil membangun pondasi organisasi Polri,” tutur Jend. Pol. Purn. Awaloedin Djamin, mantan Kepala Polri.

Sebagai Kepala Kepolisian RI yang pertama di jamannya, Soekanto memiliki gagasan agar kepolisian berdiri sendiri di dalam satu kementerian agar bisa independen, profesional, serta tidak diintervensi oleh politik. Cita-cita R.S. Soekanto adalah menyamakan persepsi yang sifatnya visioner sesuai dengan misi Polri sebagai penegak hukum, pengayom, dan pelindung masyarakat. Dengan kata lain polisi menjadi otonom untuk mengatur dan membangun dirinya, ini merupakan ciri atau karakter dari seorang profesional. Baginya, titik berat tugas-tugas polisi semestinya pada segi pencegahan, sesuai dengan prinsip polisi modern.moseum_polri

Soekanto juga menekankan disiplin tugas yang tinggi. la juga membangun korps kepolisian negara yang dihormati serta disegani oleh masyarakat bukan karena persenjataannya, melainkan karena watak dan kepribadiannya.

Perjalanan Jenderal Soekanto pada masa tugasnya sangat berat. Bisa dibayangkan, hanya dalam hitungan hari pasca Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, Soekanto harus mengomandani Polri. Pada saat itu Soekanto tidak memiliki staf dan kantor. Sejak dilantik, Soekanto melakukan konsolidasi aparat kepolisian. Dia menolak tawaran dari Inggris agar masuk menjadi Civil Police. Soekanto mengkonsolidasikan kepolisian terutama wilayah Jawa dan Sumatera. Satu kepolisian untuk seluruh wilayah Indonesia. Susunan organisasi Polri berhasil dibentuk. Kapolri di Mabes Polri, Kepala Polisi Provinsi, Kepala Polisi Karesidenan, Kepala Polisi Kabupaten dan Kepala Polisi Kecamatan. Soekanto pula yang meningkatkan Akademi Kepolisian menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian agar skill personel kepolisian menjadi personel yang handal dan mampu menghadapi tantangan ke depan.

Selain itu, pada masa jabatannya R.S. Soekanto berhasil mendirikan organisasi kepolisian modern. Yang dilakukan antara lain, mendirikan Polisi Perairan, Seksi Polisi Udara, mendirikan Polisi Perintis, Polisi Lalu Lintas, Polisi Kereta Api, Membangun Polisi Wanita, Laboratorium Kriminal, Mendirikan Interpol, dan membentuk bidang-bidang lain, yang mendukung operasional Polri. “Pada masa revolusi menyatakan, Polri adalah combattan, menentang Kovensi Jenewa, dan secara nyata ikut mempertahankan Kemerdekaan RI,”papar Jenderal Pol. Purn. Awaloedin Djamin.

SoekantoR.S. Soekanto memulai karir sebagai polisi pada tahun 1930. Persatuan Purnawirawan Polri dan dikukuhkan oleh Presiden KH. Abdurrahman Wachid, mengangkatkan R.S. Soekanto sebagai Bapak Kepolisian Republik Indonesia. Sebelumnya pada tahun 1961 R.S. Soekanto mendapat penghargaan Satya Lencana Peringatan Perjuangan, Satya Lencana Karya Bhakti, Satya Lencana  Jana Utama, Satya Lencana Karya Setya Kelas 1. Kemudian pada 1 Juli 1968 Presiden Soeharto menyematkan bintang Mahaputra Adiprama Kelas II, dan masih banyak lagi anugerah yang diberikan kepada Jenderal R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo.

Pejuang dan Bapak Kepolisian RI itu, meninggal pada 25 Agustus 1993. Sebab itulah, Jenderal Pol. Purn. Soekanto Tjakradiatmodjo oleh beberapa organisasi kemasyarakatan akan diusulkan kepada pemerintah untuk dianugerakan sebagai Pahlawan Nasional. “Pak Kanto dekat dengan Bung Hatta. Beliau adalah sosok pemimpin yang jujur dan sederhana yang diimpikan Bangsa Indonesia,”kata Prof. Dr. Meutia Hatta. 


Related Articles

Muhammad Kuncoro Wibowo: Resep Khusus Pengelolaan Pegawai versi KAI

Perkembangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam beberapa tahun terakhir memang sangat pesat, baik dari sisi pendapatan yang terus meningkat

Yakin SDM Indonesia bisa Bersaing

Siapa yang tak kenal Sandiaga Salahuddin Uno, seorang pengusaha yang berhasil mendirikan sebuah perusahaan investasi bersama Edwin Soeryadjaya yang dinamakan

Ripy Mangkoesoebroto: Transformasi Digital HR

Transformasi yang dilakukan secara serentak dengan tahapan yang jelas ini menyentuh mulai dari perubahan logo, tampilan fisik ruang kantor, corporate

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*