• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 20 September 2018

Menciptakan Kondisi Kerja Yang Harmoni Dan Kondusif, Adalah Tanggung Jawab Pimpinan

foto-Brata Taruna HardjosubrotoPimpinan memiliki tugas untuk meningkatkan kinerja team nya guna mencapai sasaran kerja yang sudah ditetapkan oleh stake holder. Untuk dapat mencapai kinerja yang maksimal, banyak hal yang harus dilakukan oleh setiap pimpinan dan jajarannya. Salah satu nya ialah harus membangun sinergi yang saling mendukung diantara karyawannya, sehingga seluruh tim dapat melakukan pekerjaan dengan efektif dan produktif.

Kondisi dimana karyawan dapat bekerja dengan sinergi maksimal dan produktif, hanya akan dapat terjadi bilamana seluruh karyawan bekerja dalam kondisi kerja yang Harmoni dan Kondusif. Hal ini adalah merupakan kondisi mutlak yang harus terlebih dulu di ciptakan oleh setiap pimpinan. Walaupun kemampuan individual dari setiap karyawan tinggi, bila mereka bekerja pada organisasi dimana kondisi kerjanya tidak harmoni dan kondusif, maka motivasi dan kinerjanya pasti akan rendah, sehingga produktifitas kerjanya juga akan rendah. Namun sebaliknya, walaupun kompetensi karyawan nya tidak terlampau tinggi, bila mereka bekerja dalam kondisi yang tepat, maka kinerjanya akan bisa maksimal.

Bagaimana para pimpinan membentuk kondisi kerja ‘harmoni’? Apa yang harus dilakukan pimpinan, untuk menciptakan kondisi harmoni?Kondisi kerja yang harmoni dapat tercipta, bila para pimpinan dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut:

Bila pimpinan telah berhasil membuat seluruh karyawan memahami benar Misi, Visi, Sasaran kerja, Program kerja perusahaan dan Informasi strategis perusahaan.(Pada kenyataannya, masih banyak pimpinan yang tidak melakukan komunikasi dengan baik terhadap bawahannya atas hal tersebut diatas, khususnya pada organisasi yang besar. Atau lebih buruk lagi, pimpinan bahkan belum menentukan sasaran kerja yang rinci dan belum memiliki program kerja yang strategis).
Bila pimpinan mengaplikasikan segala peraturan dan kebijakan secara adil,dan secara terbuka tanpa ada perbedaan, jujur dan konsisten.(Pada kenyataannya, masih cukup banyak pimpinan yang bertindak sepihak atau dalam aplikasinya ‘tebang pilih’, atau tidak bertindak jujur, sehingga terjadi kecemburuan dan suara ‘sumbang’ terjadi dimana-mana.)
Bila seluruh karyawan telah memperoleh penugasan dan delegasi yang jelas/spesifik, tidak tumpang tindih dan dengan accountability yang jelas. Setiap karyawan memperoleh kewenangan (empowerment) yang cukup dan memperoleh evaluasi secara fairoleh atasannya, terhadap prestasi kerjanya. (Pada kenyataannya masih banyak pimpinan tidak melakukan evaluasi kinerja anak buahnya dan bertindak semena-mena dalam penugasan.)
Bila pimpinan memberikan contoh dan bertindak sebagai ‘role model’, yang dapat membangkitkan kebanggaan karyawan.Dan bila pimpinan mengaplikasikan leadership yang ethical dan tidak munafik.(Pada kenyataannya masih banyak pimpinan yang bertindak munafik atau bahkan melakukan leadership yang tidak ethical.)
Tindakan apa yang perlu dilakukan pimpinan untuk menciptakan kondisi kerja yang kondusif? Kondisi kerja yang Kondusif dapat tercipta, bila para pimpinan dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut:

Bila karyawan merasa nyaman bekerja, karena selalu di ‘back up’ dengan baik oleh atasannya, dan mendapat dukungan/ bantuan pada saat diperlukan. (Pada kenyataannya, masih banyak pemimpin yang bertindak sebaliknya, ialah menyalahkan atau meng kambing hitamkan bawahannya agar namanya tidak tercemar karena kesalahannya. Atau justru menghindar, bila mengetahui bahwa anak buahnya sedang menghadapi situasi yang sulit.)
Bila proses bisnis di lakukan dengan efisien dan efektif tanpa birokrasi yang berlebihan, contoh: pembayaran kembali (reimbursement) mudah dan cepat, pesanan pelanggan dapat di handle sesuai harapan, persetujuan program kerja dapat di proses dalam batas waktu yang reasonable, dan sebagainya.
Bila pimpinan berhasil menciptakan budaya kerja yang sesuai dengan misi perusahaan, dimana sikap dan perilaku karyawan dapat sejalan dengan sasaran perusahaan, dan telah menjadi salah satu faktor ‘kekuatan’ pada SWOT perusahaan.
Jadi sangat penting bagi para pimpinan untuk mampu menciptakan kondisi kerja yang harmoni dan kondusif, agar dapat tercapai kinerja yang produktif dengan maksimal. Kondisi yang kondusif akan dapat terjadi hanya bila kondisi kerja dalam perusahaan harmonis. Kondisi kerja yang kondusif akan menimbulkan sinergi kerja yang tinggi, sehingga produktifitas juga akan tinggi. Organisasi dengan kondisi kerja yang tidak harmoni, tidak akan dapat tercipta kondisi kerja yang kondusif.

Sebagai pimpinan, kompetensi apa yang harus dimiliki untuk dapat menciptakan kondisi kerja yang harmoni dan kondusif tersebut? Setiap pemimpin perlu memiliki fundamental Intrapersonal skill yang kuat, kemampuan managerial yang baik, kompetensi Interpersonal dan leadership yang ethical.

Kompetensi utama sebagai fondasi adalah Intrapersonal, yaitu kompetensi yang terkait dengan moral, integritas, sikap mental, kecerdasan emosi dan self skill. Kompetensi ini akan memberikan dampak yang sangat kuat untuk terbentuknya ‘TRUST’ pada karyawan terhadap pimpinannya.Tanpa trust tidak akan terjadi kondisi harmoni, sebaliknya akan terjadi banyak konflik, vertikal maupun konflik horisontal.Trust adalah merupakan aspek ‘terpenting’ pada setiap organisasi, dan aspek inilah yang pertama kali harus di bangun oleh setiap pimpinan perusahaan. Dengan Trust, maka akan terbentuk sinergi dan chemistry yang kuat diantara karyawan.

Pemimpin yang tidak memiliki integritas dan moral yang baik, sikap yang negatif, atau pengendalian emosi yang buruk, akan tidak mampu untuk menciptakan kondisi kerja yang harmoni. Merupakan ironi, bahwa pada umumnya aspek Intrapersonal adalah yang paling sulit untuk dikembangkan oleh setiap individu, khususnya para pimpinan. Hal ini disebabkan oleh karena kesadaran dan kemauan yang rendah untuk melakukan perubahan pada diri sendiri. Ditambah lagi dengan sifat arogansi atas power yang dimilikinya sebagai pimpinan, akan membuat semakin berkurangnya keinginan untuk mendengar dan mencari feedback atas kelemahan dan kekuatannya.

Kompetensi Intrapersonal selanjutnya harus diikuti dengan kemampuan Interpersonal yang kuat; yaitu perilaku yang dapat menjadi model atau contoh bagi yang lain, kemampuan komunikasi yang baik, empathy dan social skill yang kuat. Pada dasarnya, seseorang yang memiliki Intrapersonal yang baik, maka perilakunya juga akan cenderung baik. Social skill yang dibarengi dengan kemampuan komunikasi yang kuat pada seorang pimpinan, merupakan aspek dasar kompetensi leadership, dan akan sangat bermanfaat untuk membentuk perilaku sosial dan budaya yang diinginkan, sehingga dapat tercipta kondisi kerja yang harmoni dan kondusif.

Penulis Brata Taruna Hardjo­subroto adalah mantan Eksekutif IBM & Indosat Group, sekarang berprofesi sebagai Executive Coach dan Practice Leader MKI Corporate University.


Related Articles

Manajer

Setiap manajer memerlukan dua jenis kesuksesan yaitu kesuksesan perusahaan dan kesuksesan diri sendiri. Kesuksesan diri sendiri dan kesuksesan perusahaan walaupun

Mind Of An Entrepreneur

Sering sekali saya mendengar teman saya bercerita bahwa dia ingin sekali menjadi entrepreneur, tetapi masalahnya adalah uang, tidak punya uang yang

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*