• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 17 August 2018

Membangun “The Dream Team”

Oleh: Anne Hestyanne Senior Consultant - Firstasia Consultants

Oleh: Anne Hestyanne
Senior Consultant – Firstasia Consultants

Bagi sebagian penggemar olahraga bola, terutama yang mengikuti Liga Utama Inggris, pasti mengetahui kehebohan tim Leicester City yang beberapa hari lagi akan dinobatkan sebagai juara musim ini. Performa Leicester City memang mengejutkan para pengamat olahraga ini, karena 12 bulan sebelumnya mereka terseok-seok di bawah klasemen dan hampir keluar dari liga. Mereka juga bukan tim kaya raya dengan sejarah transfer pemain yang fantastis. Seperti sudah menjadi kebiasaan, setiap menjelang musim liga tim-tim raksasa ”perang harga” transfer pemain yang angkanya membuat kita berdecak kagum. Sementara Leicester City hanya memiliki budget untuk membeli pemain sebesar 50 juta Euro, Manchester United menetapkan bugdet hingga 200 juta Euro sehingga leluasa ”membajak” pemain terbaik dalam memperkuat timnya.

Fenomena bajak membajak para bintang (star) dalam rangka memperkuat tim juga sudah biasa terjadi di organisasi. Seperti menjamurnya perusahaan start up, e-commerce dan sejenisnya dikabarkan menyebabkan “perang harga” dalam membajak para Programmer. Bahkan salah satu klien pernah menyebutkan bahwa saat ini siapa yang berani ”membakar uang” dialah yang akan menang. Padahal jika kembali kita lihat kejutan Leicester City yang tanpa pemain mahal bisa menjadi “The Dream Team” di Liga Utama Inggris.

Tentunya banyak teori atau literatur yang menyebutkan bagaimana cara men-develop sebuah dream team yang terdiri atas karyawan yang dapat membawa kemajuan dalam bisnis dan pada akhirnya membangun organisasi yang berlandaskan kerjasama. Pendekatan dari segi business process atau dari sisi HR Management seperti talent mapping dapat dilakukan.

Namun saat ini saya ingin share beberapa ide yang mungkin dapat dengan cepat diaplikasikan di tim Anda yang saya rangkum dari beberapa artikel yang pernah saya baca, beberapa hasil diskusi dan pengalaman.

1. Komunikasi.
Komunikasi yang baik adalah persyaratan utama dalam membentuk tim yang efektif, karena dengan komunikasi anggota tim dapat saling menjaga kinerja timnya berjalan tetap pada jalurnya. Komunikasi ini pun haruslah secara konsisten cukup sering dilakukan baik dalam bentuk tatap muka maupun melalui media.

2. Sikap Positif.
Sikap positif penting yang harus tetap terjaga dalam tim adalah memfokuskan diri dalam mencari solusi, saling menghargai dan saling mendukung dalam bekerjasama. Beri apresiasi dan support mereka di berbagai situasi.  Membangun-Team

3. Kolaborasi
Berkolaborasi dalam bekerja akan menghasilkan output yang lebih besar daripada bekerja sendiri-sendiri di dalam tim. Dengan berkolaborasi setiap anggota akan terdorong untuk memberikan ide-ide kreatif, saling berbagi pendapat dan membuat keputusan bersama.

4. “Aturan main” yang Jelas
Yang dimaksud dengan “aturan main” di sini antara lain kejelasan peran dan tanggungjawab, harapan-harapan para anggota tim dan tingkahlaku seperti apa yang dapat membentuk lingkungan kerja yang positif. Hal ini sebaiknya didiskusikan dan disepakati dari awal untuk menghindari kesalahpahaman dan miskomunikasi.

5. Leadership
Seorang pemimpin tim harus dapat mendelegasikan secara efektif dan melakukan follow up agar tugas-tugas terselesaikan tepat waktu dan tetap fokus. Pemimpin juga harus dapat memberdayakan anggota timnya sehingga mereka merasa berharga sekaligus membangun rasa tanggungjawab dalam tercapainya target tim.

6. Berorientasi Pada Hasil
Ketika sikap berorentasi pada hasil tertanam dalam diri masing-masing anggota tim, dengan otomatis mereka akan termotivasi untuk bersama-sama bekerja keras mencapai tujuan yang ditetapkan organisasi.

Demikian beberapa tips yang dapat diterapkan untuk membangun dan menjaga semangat tim tetap ada. Mengutip apa yang dikatakan oleh Ricardo Reineiri Pelatih Tim Leicester City ketika ditanya apa rahasia kesuksesannya tahun ini, jawabannyaa dalah “Resep paling penting itu semangat tim, lalu membuat anggota tim bekerja keras namun tetap menikmatinya”.


Related Articles

Memahami Millennials: Mitos dan Fakta

Tidak sedikit dari kita yang cenderung menganggap bahwa generasi Millenials adalah generasi pemalas yang narsistik atau optimis yang bersemangat untuk

Tantangan Kaderisasi

Kaderisasi kepemimpinan merupakan hal natural bagi organisasi agar tujuan jangka panjang dapat tercapai. Namun kaderisasi bukanlah perkara mudah karena membutuhan

Menjaga Nama Baik Perusahaan

Hore! Hari Baru, Teman-teman. Maukah Anda bekerja di perusahaan yang punya reputasi buruk? Kalau saya tidak. Malu rasanya bekerja di

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*