• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 15 August 2018

Membangun Perusahaan World Class (Bagian 3)

Pada artikel sebelumnya, telah diuraikan pemahaman dasar dari perusahaan yang memiliki predikat ‘World Class’ dengan menguraikan 7 ciri utama yang terkait pada aspek: Proses dan Sistem Infrastruktur. Selain itu, terdapat 7 budaya dan kondisi kerja yang terdapat pada perusahaan dengan kualitas World Class, yaitu:

1.   Memiliki kesadaran dan berorientasi kuat terhadap pelayanan pelanggan, serta fokus dalam bekerja secara teamwork.

2.   Memiliki accountability yang kuat atas lingkup tugas dan tanggung jawabnya dan mengaplikasikan  leadershipnya secara konsisten.

3.   Memiliki komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kompetensi diri secara terus menerus dan berinovasi.

4.   Secara proaktif memberi kontribusi dalam penyelesaian masalah atau perubahan, tidak bersifat diam dan menunggu.

5.   Para pimpinan perusahaan memiliki standar performansi yang tinggi dan senantiasa mencari tantangan yang akan membawa pertumbuhan lebih.

6.   Seluruh individu dalam perusahaan, dimulai dari pimpinan tertinggi, senantiasa melakukan feedback dua arah dan saling menghargai pendapat.

7.   Memiliki semangat dan antusiasme kerja yang tinggi dan bertindakprofesional dalam pekerjaan.

Ketujuh budaya dan kondisi kerja tersebut, bila terbentuk pada suatu organisasi, maka akan memberikan peran yang sangat besar pada produktifitas kerja organisasi. Budaya dan kondisi kerja tersebut harus dibentuk oleh jajaran manajemen. Mari kita sedikit uraikan, setiap budaya kerja yang tertulis diatas.

Budaya dan kondisi kerja;

  1. “Memiliki kesadaran dan berorientasi kuat terhadap pelayanan pelanggan, serta fokus dalam bekerja secara teamwork”, adalah dimana setiap manajemen dan karyawan memiliki pemahaman yang sangat baik atas pentingnya pelanggan bagi organisasi dan tindakan apa yang harus dilakukan oleh setiap karyawan dalam “melayani” pelanggan. Mereka secara natural terbentuk untuk bekerja sama dalam team kerja yang solid untuk mencapai kepuasan pelanggan, tanpa harus senantiasa diperintahkan oleh atasan.
  2. “Memiliki accountability yang kuat atas lingkup tugas dan tanggung jawabnya dan mengaplikasikan leadershipnya secara konsisten”, adalah dimana setiap individu dalam organisasi menunjukkanaccountability yang tinggi dan konsisten dalam mencapai sasaran dan produktifitas kerja. Karyawan melakukan usaha maksimal untuk mencapai sasaran kerja dan target waktu yang telah ditetapkan dengan hasil terbaiknya. Kondisi tersebut tercipta dari dalam diri setiap karyawan, dan memiliki tingkatleadership yang cukup baik untuk bekerja sama dalam team, melakukan pekerjaannya.
  3. “Memiliki komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kompetensi diri secara terus menerus dan berinovasi”, adalah kondisi dimana seluruh organisasi melakukan pengembangan diri pada berbagai bidang/aspek secara terukur dan dilakukan secara konsisten. Perusahaan menerapkan kebijakan yang jelas, dimana merupakan hal yang wajib bagi seluruh karyawan untuk melakukan pengembangan diri yang terencana, yang disusun bersama dengan manager bersangkutan. Selain itu, perusahaan melalui para managernya berhasil menciptakan atmosfir dimana kreatifitas kerja terjadi setiap saat. Para manager memiliki kemampuan yang baik dalam menciptakan kondisi yang harmoni dan sinergi, sehingga para karyawan akan terinspirasi dalam menciptakan inovasi.
  4. “Secara proaktif memberi kontribusi dalam penyelesaian masalah atau perubahan, tidak bersifat diam dan menunggu”, adalah kondisi dimana jajaran pimpinan dan karyawan senantiasa memberi kontribusi maksimal dan proaktif dalam hal problem solving atau melakukan perubahan yang berkesinambungan. Para manager senantiasa kritis terhadap kondisi yang status quo dan berinisiatif untuk mencari solusi atau perubahan yang perlu, tidak diam menunggu.
  5. “Para pimpinan perusahaan memiliki standard performansi yang tinggi dan senantiasa mencari tantangan yang akan membawa pertumbuhan lebih”, adalah kondisi dimana seluruh jajaran manager memiliki standar kerja yang rata-rata tinggi, berfikir dengan sudut pandang yang “luas dan besar”,  dan sangat termotivasi untuk bekerja menghadapi tantangan kerja tinggi. Para manager sangat fokus pada pertumbuhan yang dicapai pada unit kerjanya dan juga pada perusahaan.
  6. “Seluruh individu dalam perusahaan, dimulai dari pimpinan tertinggi, senantiasa melakukan feed-backdua arah dan saling menghargai pendapat”, adalah kondisi dimana terbentuk budaya yang kental untuk senantiasa memberi dan menerima feedback demi kemajuan. Melalui mekanisme feedback session yang dilakukan setiap saat, maka terjadi proses pengembangan kompetensi dan koreksi yang sangat kuat pada seluruh jajaran dalam perusahaan. Kebiasaan melakukan feedback dan menghargai antar individu akan menciptakan kondisi harmoni dan sinergi yang tinggi.
  7. “Memiliki semangat dan antusiasme kerja yang tinggi dan bertindakprofesional dalam pekerjaan”, adalah kondisi dimana seluruh organisasi bekerja dengan sangat antusias dan semangat tinggi. Karyawan bertindak profesional, yang berarti sangat memahami atas hal yang harus dilakukan dalam pekerjaan, memiliki kompetensi yang memadai untuk melakukan pekerjaannya, dan memiliki sikap mental yang positif.

Untuk membangun perusahaan menuju pada World Class Standard, maka jajaran pimpinan, khususnya top management harus mampu untuk membangun ketujuh budaya kerja tersebut diatas. Proses pembentukan budaya tersebut membutuhkan leadership yang kuat dari jajaran top management, role model yang konsisten dan proses perubahan yang terencana. Tahap perubahan dan pembentukan budaya tersebut dimulai dari jajaran manajemen atas, manajemen menengah dan manajemen yang paling depan. Dimana seluruh jajaran pimpinan kemudian akan membentuk ketujuh budaya untuk seluruh lapisan karyawan. Proses pembentukan budaya tersebut harus diawali dengan analisa yang cukup mendalam dan kemudian disusun suatu skenario pengembangan dan perubahan yang menyeluruh. Untuk itu perlu dibentuk ‘team perubahan’ yang dipimpin oleh seorang senior manager dengan interpersonal, kompetensi dan kredibilitas yang baik, memperolehacceptance dari seluruh karyawan, dan memiliki leadership yang kuat.

Penulis: Brata Taruna Hardjosubroto


Related Articles

Ironi Manajemen HR Berbasis Kompetensi?

Terlepas dari meluasnya adopsi konsep Competency Based HR Management (CBHRM) di Indonesia, manfaat implementasi CBHRM memang banyak dipertanyakan oleh jajaran manajemen puncak

Mind Of An Entrepreneur

Sering sekali saya mendengar teman saya bercerita bahwa dia ingin sekali menjadi entrepreneur, tetapi masalahnya adalah uang, tidak punya uang yang

Ketika Praktisi Human Resource Menjadi Partner Strategik Perusahaan

Tahun 2014 adalah tahun yang penting bagi pengembangan profesional HR di Indonesia. Di tahun tersebut, pemerintah menyusun Standard Kompetensi Kerja

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*