• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 20 February 2018

Membangun Karakter Positif

foto-arief-RahmanKarakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Dengan perkataan lain, karakter itu adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak.

Demikianlah pendapat Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd yang disampaikan pada acara dialog buka bersama, di Universitas Paramadina beberapa  hari yang lalu. Arief menjelaskan, membangun  karakter itu adalah upaya sadar dan yang disengaja serta terprogram untuk menolong manusia agar mengerti, peduli dan bertindak berdasarkan nilai-nilai dasar etika.

“Tujuan membangun karakter, agar manusia mengetahui apa yang benar dan patut serta sangat peduli terhadap apa yang benar dan patut serta percaya dan yakin meskipun dalam keadaan yang tertekan dan dilematis,“ ujar Guru Besar Universitas Negeri Jakarta ini.

Lebih lanjut, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO menjelaskan, karakter positif  itu dibangun melalui tiga tahapan. Pertama,disiplin yang meliputi; tanggungjawab (responsibility), ketepatan kerja (punctuality), keterikatan (commitment),  keteraturan (orderlymanner), dan kemampuan (competent).

Sedangkan tahapan kedua adalah kemartabatan (honour) yang meliputi;  kejujuran (honesty), semangat juang (patriotic),  keberanian untuk benar dan adil (courageous),  kemuliaan atau kepatuhan atau keunggulan (excellent),  ketekunan (persistent),  dan tahan cobaan (perserverence).

Tahapan ketiga adalah struktur (hierarchy), yang meliputi;  mata rantai peraturan (chain of rules); professional, kesetiaan (loyal),  kerjasama (teamwork),  ketaatan (obedient),  dan saling memperhatikan (care-share).

 Untuk karakter yang perlu dikembangkan kata tokoh pendidikan ini ada 21 karakter, antara lain, akan kehadiran Allah SWT, semangat kerja keras, berpikir luas dan terbuka, berusaha untuk sanggup bekerja dan bertanggungjawab,  berani untuk yang benar, mandiri yakin akan kekuatan diri tetapi rendah hati, mau belajar dan berpikir ilmiah, dapat dipercaya, dapat mengendalikan diri,  dan bersedia memberi dan meminta maaf.  (Ridwan Effendi)


Related Articles

Bercanda Ternyata Bisa Jadi Kunci Kesuksesan Berkarir, Benarkah?

Menjadi seorang yang humoris di kantor ternyata bisa saja menjadi rute Anda paling mudah untuk berada di C-suite atau C-level,

Pekerjaan Menghantui 62% Karyawan di Jakarta

Hasil survey terhadap 14,387 orang responden menyatakan bahwa momen yang paling berharga karyawan untuk dapat beristirahat justru dihabiskan untuk memikirkan

HR Expo 2014

HR Expo 2014 kembali digelar, helatan setahun sekali ini diadakan pada 10-11 Desember 2014 lalu yang bertempat di Jakarta Convention

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*