• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 17 August 2018

Memahami Millennials: Mitos dan Fakta

Marsela Giovanni & Elvira Rizqi Awalia Talent Acquisition Sahabat Utama Group; on behalf of Firstasia Consultants

Marsela Giovanni & Elvira Rizqi Awalia
Talent Acquisition Sahabat Utama Group; on behalf of Firstasia Consultants

Tidak sedikit dari kita yang cenderung menganggap bahwa generasi Millenials adalah generasi pemalas yang narsistik atau optimis yang bersemangat untuk menyelamatkan dunia. Generasi yang umumnya berada di rentang usia produktif tersebut sering dianggap berbeda dari generasi pendahulunya. Para pendahulu mengeluhkan bahwa mereka “malas, egois, ingin hasil tanpa kerja keras, dan dangkal”. Namun pernyataan tersebut sesungguhnya masih belum didukung oleh hasil riset yang solid. Sebaliknya, hasil penelitian IBM pada tahun 2016 terhadap 1784 responden multigenerasional di 12 negara tentang membuktikan mitos dan fakta terkait Millenials.

Mitos: Ekspektasi karir Millennials berbeda dengan generasi pendahulu.

Fakta: Variasi career goals Millenials mirip dengan Gen X dan Baby Boomers, yaitu memberikan dampak positif bagi organisasi, menyelesaikan permasalahan sosial dan ingin bekerja dengan beraneka ragam orang. Hal ini terjadi pada 25% Millennials, tidak berbeda jauh dengan 21% Gen X dan 23% Baby Boomers. Generasi pendahulu perlu menyadari kesamaan tujuan antara mereka dengan Millenials, serta terwujud keselarasan visi sejak awal masa kerja para Millenials. Pada situasi tersebut, antargenerasi dapat saling berbagi pendapat dan pandangan untuk mencari solusi yang sejalan dengan visi tersebut ketika menghadapi masalah organisasional di kemudian hari.

Mitos: Millennials ingin sukses secara instan dan adanya apresiasi terhadap seulurh anggota tim, termasuk dirinya.

Fakta: Millennials menginginkan pemimpin yang beretika, adil, berbagi informasi, lebih daripada  pengakuan terhadap pencapaiannya. Hanya 29% Millennials yang menginginkan atasan memberikan pengakuan terhadap pencapaian mereka. Millennials menyadari bahwa tidak semua peluang adalah milik mereka, namun menginginkan perlakuan adil dalam setiap kesempatan, tidak dinomorduakan atau dianggap sebagai pemain cadangan.

Mitos: Millennials merupakan digital addict yang ingin melakukan semuanya secara online tanpa memperhatikan batasan personal dan profesional.

Fakta: Millennials lahir saat teknologi berkembang pesat, sehingga wajar jika lebih banyak menggunakan teknologi dalam kesehariannya. Walau demikian, Millennials memilih bertemu langsung ketika mempelajari keterampilan baru dalam bekerja. Tak ada yang dapat menggantikan kenyamanan belajar melalui praktik langsung seperti mengikuti seminar, training, atau bekerja bersama rekan berpengalaman. Penelitian menunjukkan bahwa 27% Millennials tidak pernah menggunakan akun media sosial mereka untuk pekerjaan, serta cukup mampu membedakan ranah pribadi dan pekerjaan dalam penggunaan teknologi.usl_large

Mitos: Millennials tidak dapat mengambil keputusan sebelum meminta pertimbangan semua orang.

Fakta: Hanya Baby Boomers yang mengesampingkan persetujuan tim untuk mengambil keputusan karena terbiasa mengambil keputusan secara mandiri dan mereka mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam budaya kerja yang lebih kolaboratif. 56% Millennials mengakui bahwa mereka dapat mengambil keputusan strategis yang lebih baik ketika mendapat masukan dari berbagai pihak, demikian pula 64% responden Gen X. Novo Nordisk, Inc. adalah contoh perusahaan yang telah mendukung komunikasi antar generasi dalam organisasi dengan membuat forum yang menjembatani Millennials dan generasi yang lebih senior untuk saling berdiskusi secara inovatif.

Mitos: Millennials cepat berpindah-pindah ketika merasa pekerjaan yang sedang dijalani tidak sesuai dengan passion mereka.

Fakta: Dalam hal perpindahan pekerjaan, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antar generasi. Perpindahan Millennials yang tampak lebih cepat merupakan refleksi dari kondisi ekonomi yang kurang stabil. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa pekerja Gen X dan Baby Boomers juga cenderung “jump ship” saat muda. Alasan utama perpindahan pada tiap generasi berhubungan erat dengan percepatan karir, dimana mereka menyatakan bahwa pekerjaan yang lebih menjanjikan menjadi faktor utama mereka berpindah-pindah. Adanya kesempatan pengembangan karir yang jelas dalam perusahaan dapat membantu pekerja muda tidak cepat berpindah.


Related Articles

Keterampilan Dasar Coaching

Dalam beberapa workshop coaching yang kami lakukan, banyak pertanyaan yang diajukan oleh para peserta, dan salah satu pertanyaan yang paling

Stay Interview Vs Exit Interview

“Rumput tetangga selalu lebih hijau.“ Namun banyak yang tidak menyadari, rumput tersebut lebih hijau karena diberi “pupuk” omong kosong dari

Jangan Malu, Jangan Takut, Jangan Ragu untuk Berubah

Namanya Nicholas Hayek. Orangnya sederhana dan ngomong apa adanya. Keturunan Libanon dan tinggal di Swiss, makanya dia lancar berbahasa Inggris,

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*