• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 20 September 2018

Memacu Pengembangan Karyawan dengan membangun Learning Organization

Enrico-FirstAsiaSemua perusahaan mengimpikan meraih kesuksesan yang bertahan selama mungkin. Tidak hanya bertahan tapi juga terus berkembang. Tentu butuh usaha yang tidak sedikit dari segenap elemen organisasi untuk mewujudkannya.

Kita sadar bahwa SDM merupakan salah satu aset penting dan keberhasilan mengelola SDM secara komprehensif menjadi awal yang baik bagi kelancaran implementasi program kerja dan pencapaian tujuan organisasi. Satu langkah dalam mengelola SDM adalah investasi pada kesehatan SDM perusahaan. Tidak hanya sekedar mengalokasikan budget untuk pengobatan saat karyawan sakit, atau subsidi asuransi kesehatan, tetapi juga membangun model mental yang sehat dalam diri karyawan agar terus bersemangat meningkatkan kualitas diri individu maupun kolektif. Salah satu caranya adalah dengan membangun learning organization dalam perusahaan.

Ibarat sebuah rumah baru yang harus dirawat setiap hari agar dari tahun ke tahun harganya bertambah signifikan, karyawan juga layak mendapat “perawatan” yang dapat menambah nilainya sebagai individu dan tentu saja sebagai karyawan. Apalagi perubahan semakin cepat, sehingga perusahaan pasti ingin memiliki karyawan yang tanggap dan mampu mengikutinya.Learning-org

Pada pertengahan 90-an, Microsoft nyaris tersungkur karena terlambat menyadari pentingnya teknologi internet. Di awal lahirnya internet, hampir semua orang melakukan browsing internet dengan piranti lunak Netscape yang bukan buatan Microsoft dan membuat perusahaan teknologi raksasa ini seperti tersisih. Beruntung, para petinggi Microsoft segera menyadari situasi tersebut dan detik itu juga mereka melakukan konsolidasi internal untuk membuat piranti lunak pesaing Netscape. Beberapa tahun kemudian, kita mungkin lebih mengenal dan lebih sering berselancar di internet menggunakan Microsoft Explorer.

Dari kasus Microsoft kita belajar, tanpa proses pembelajaran yang cepat bisa jadi Microsoft sudah tergilas oleh perubahan. Beruntung, mereka memiliki learning infrastructure dan learning culture yang solid, sehingga dapat segera bertindak dan berpikir secara cepat untuk merespon perubahan bisnis yang ada. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa Microsoft telah menerapkan prinsip learning organization. Lalu bagaimana mengawali pembentukan learning organization yang tangguh? Ikuti tiga tahap sederhana berikut:

Pertama: Knowledge Sharing Session.  Sharing session informal efektif menumbuhkan keinginan belajar hal baru dan informasi yang mengalir beraneka ragam dan jauh lebih banyak, serta merangsang kreativitas personal dalam tim. Berdasarkan riset Hilmi Aulawi, dkk (2009), aktivitas knowledge sharing dengan rekan kerja di perusahaan terbukti mampu mengakselerasi peningkatan knowledge individu dan semakin menunjang mereka menghasilkan produk/proses baru yang bermanfaat bagi perusahaan.

Kedua: Membangun infrastruktur atau menciptakan mekanisme yang tepat. Membangun iklim learning harus diikuti dengan menciptakan mekanisme atau infrasruktur untuk mengakomodasi proses learning terpadu di antara para karyawan. Media e-mail, jejaring sosial, ataupun portal perusahaan adalah sarana untuk berbagi pengetahuan yang pelaksanaannya dapat diatur berdasarkan kelompok kerja. Dengan waktu pelaksanaan seminggu sekali, setiap karyawan mendapat giliran sharing yang temanya disesuaikan dengan arah kebijakan perusahaan. Hasilnya, kita mendapatkan banyak ide bermanfaat untuk membuat terobosan bagi perusahaan.

Ketiga: Komitmen untuk tekun menjalankan. Yang tidak kalah penting adalah semua pihak harus komitmen dan bertanggungjawab menjalankan strategi pengembangan karyawan ini. Mulai dari direksi, managerial level, sampai support level. Tujuannya agar iklim learning terbentuk dan menjadi habit karyawan.

Proses membangun learning organization tidak terjadi dalam semalam. Diperlukan ketekunaan untuk mengelola beragam pengetahuan yang tersebar diantara segenap karyawan dengan menyelaraskan pada arah strategi perusahaan. Pada saatnya dia berdiri dengan kokoh, maka itu menjadi tempat terbaik membangun manusia yang unggul yang akan membawa perusahaan kita berkibar.


Related Articles

Perusahaan Jasa outsourcing terancam

Gelombang unjuk rasa buruh, terutama di kawasan Jabodetabek, bulan lalu untuk memprotes praktik usaha outsourcing (alih daya) membuat tekanan terhadap jasa tenaga

“Employee Engagement”

Apakah para pekerja sudah merasakan keterikatan dengan pekerjaan yang dijalankan? “Baguss.. Hasil yang baikk!!” merupakan kata-kata yang sangat kita harapkan

Dilema Kemakmuran

Saya menulis banyak tentang kemakmuran, dan memang itu yang sekarang sedang saya pelajari, mengapa satu negara bisa menjadi makmur dan

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*