• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 15 August 2018

Manage by Head, Lead by Heart

Agung1Pernahkah Anda memiliki atasan yang tidak pernah mengevaluasi pekerjaan Anda? Mengeluhkan buruknya koordinasi antara anggota tim? Bingung harus berbuat apa ketika menemukan motivasi bawahan yang rendah? Ataupun meratapi terbengkalainya proyek perusahaan Anda yang sebelumnya digadang-gadang untuk menjadi kebanggaan? Apa yang salah dengan problema yang jamak kita jumpai di dunia kerja tersebut?

Semua tanda tanya di atas sepertinya dialami oleh siapa saja yang tengah meniti karir. Apapun jabatan, masa kerja, dan jenis industrinya. Memang, menapaki tangga karir adalah tantangan yang tak dapat dihindari oleh setiap profesional. Tuntutan perusahaan yang semakin besar, persaingan yang kian ketat, dan beban kerja yang menggunung seolah-olah menjadi cerita klise yang tak berkesudahan. Oleh karenanya, profesional “kekinian” mau tidak mau harus mampu membawa diri di segala situasi.

Dua kata kunci yang tak pernah hilang dari kamus para profesional adalah manajemen dan kepemimpinan. Dengan kemampuan manajerial, seseorang berperan untuk memungkinkan tercapainya aktivitas-aktivitas dengan bantuan anggota tim atau orang lain. Adapun dengan kepemimpinan, seseorang dapat mempengaruhi anggota tim atau orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan guna memenuhi tujuan perusahaan.  Hal itu senada dengan kutipan Peter F. Drucker, “management is doing things right, leadership is doing the right things.”

Untuk menjadi seorang manajer, setiap orang disyaratkan untuk memiliki hardskill yang mumpuni dan ditunjang dengan keterampilan mengolah rasio yang prima. Adapun untuk menjadi seorang pemimpin, lebih disyaratkan untuk memiliki softkill dan seni menggerakkan atau mempengaruhi orang lain. Jika disederhanakan, untuk dapat melenggang kepuncak karir di bidang manapun setiap orang dituntut untuk mengelola dengan akal dan memimpin dengan hati (manage by head, lead by heart).

Untuk mampu memenangkan kompetisi di era yang penuh ketidakpastian ini, setiap professional sudah seharusnya bermental, berkarakter, dan berperilaku menjadi seorang manajer-pemimpin (manager-leader). Ia harus tahu kapan untuk mengandalkan nalar dalam mengelola seabrek rutinitasnya dan kapan mengikuti nurani untuk “mengambil hati” orang lain agar tercipta trust, loyalty, danrespect. Singkat kata, mengelola dan memimpin tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling melengkapi. Sehingga, dalam prosesnya harus diupayakan sebaik mungkin agar tercipta keseimbangan.

Manager-leader yang unggul memiliki keterampilan merencanakan pekerjaan (planner), menetapkan sasaran dan standar tim (coordinator), melaksanakan aktivitas terkoordinir (instructor), mengevaluasi kinerja individu (evaluator) dan memecahkan masalah yang terjadi dalam tubuh organisasi yang dipimpin (problem solver). Di saat yang bersamaan, ia memiliki kemampuan untuk member dan menerima usulan(inspirer), menumbuhkan semangat tim untuk berbuat lebih baik (motivator), membina hubungan kerja yang hangat (coach), memperhatikan dan menghargai kinerja tim(catalyst) dan memberikan petunjuk kepada anggota tim yang membutuhkan (mentor).

Setiap professional pada hakekatnya dapat menjadi seorang manajer maupun pemimpin yang unggul. Pasalnya ilmu manajemen dan seni kepemimpinan dapat dipelajari. Untuk mengakselerasi dua keterampilan tersebut, ia harus “haus” dengan pengembangan diri. Banyak membaca buku, mengikuti pelatihan yang relevan, terlibat dalam komunitas yang menunjang, memiliki mentor dan coach, dan tentu saja menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari. Sudahkah Anda menjadi seorang manager-leader?

*Agung Setiyo Wibowo adalah konsultan manajemen Andrew Tani& Co. Artikel ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili pandangan institusi.


Related Articles

Memahami Millennials: Mitos dan Fakta

Tidak sedikit dari kita yang cenderung menganggap bahwa generasi Millenials adalah generasi pemalas yang narsistik atau optimis yang bersemangat untuk

Behavioral Event Interview : Tidak Hanya Sekedar Bertanya, Tapi Perlu Persiapan.

Menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, di waktu yang tepat, adalah salah satu tuntutan kerja Praktisi HR. Sejalan

Kebersamaan Dalam Satu Strategi

Pada suatu ketika, sebuah korporasi sedang dalam ancaman serius dari ‘kompetitor utama’, yang akan segera launching produk barunya dipasar domestik.

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*