• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 24 April 2018

Lingkungan Kerja Yang Mobile

aruba-4Penelitian yang dilakukan The Economist Intelligence Unit (EIU) tentang lingkungan kerja dengan mobile dapat meningkatkan keterlibatan karyawan di perusahaannya. Ini dibuktikan oleh para Chief Information Officer (CIO) bahwa hubungan terukur antara lingkungan kerja dengan mobile dapat mendorong peningkatan kinerja bisnis melalu strategi-strategi mobile yang dikembangkan dan dilaksanakan dengan tepat.

Perusahaan-perusahaan yang mendukung teknologi mobile mengalami kenaikan dalam hal produktivitas (16%), kreativitas (18%), dan loyalitas (21%), jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang dinilai tidak mendukung teknologi mobile tersebut.

Saat ini, sebagian besar perusahaan dan karyawan memahami bahwa pendekatan mobile dapat berguna bagi bisnisnya. Bahkan seorang Chief Eksekutif Officer (CEO) dari sebuah perusahaan Fortune 500 yang membuktikan bahwa organisasinya mengalami peningkatan 16% dalam hal hasil produksi, dan Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) pun mengakui bahwa dapat meningkatkan loyalitas lebih dari satu dari lima orang karyawan.

Chris Kozup, Vice President Of Marketing Aruba, anak perusahaan dari Hewlett Packard (HP) Interprise mengatakan, percaya mereka akan membuat mobilitas sebagai sebuah perioritas investasi yang lebih besar.

“Meskipun penelitian-penelitian terdahulu sudah mengakui dampak peningkatan mobilitas pada keterlibatan karyawan, dan mengukur hasil bisnis sudah menjadi missing link,” lanjutnya.

Sebanyak 1.865 karyawan yang di survei sebagai responden mengatakan bahwa banyak pekerja mengakui keuntungan-keuntungan dari lingkungan kerja yang optimal secara mobile. Bahkan, enam dari 10 orang karyawan (60%) mengatakan teknologi mobile membuat mereka lebih produktif, sementara empat dari sepuluh orang karyawan (45%) percaya bahwa teknologi mobile menyebabkan kreativitasnya meningkat.

Bekerja Kapan Saja, Di Mana Saja
Kemampuan untuk bekerja kapan saja, dan di mana saja dianggap memiliki dampak yang besar pada produktivitas karyawan. Sebanyak 49% responden mengatakan bahwa hal itu memiliki dampak terbesar pada produktivitasnya. Selain itu, sebanyak 38% responden menganggap hal tersebut memiliki dampak terbesar pada seberapa puas dengan atasannya.

“Kesempatan dan tantangannya adalah untuk memadukan tuntutan karyawan terhadap sistem kerja jarak jauh dengan kerjasama dalam tim,” ujar Chris.

Lebih lanjut Chris mengatakan, perusahaan harus meningkatkan sarana-sarana kolaborasi mobile dan menyediakan cara-cara baru untuk menyatukan timnya agar bisa bekerja secara efektif, bahkan secara fisik. Perusahaan yang mampu melakukan hal ini akan lebih berhasil mempertahankan karyawan-karyawan terbaiknya.

Saat ini, sebanyak 54% perusahaan menyediakan akses terhadap jaringan mobile untuk mendukung karyawannya bekerja kapan saja dan di mana saja. Sebanyak 42% karyawan mengatakan bahwa kemampuan untuk mengakses informasi dengan cepat dan mudah memiliki dampak besar pada peningkatan produktivitas kerjanya.

Bagi 32% karyawan yang dapat bekerja di mana saja, merupakan faktor penyumbang terbesar bagi kreativitas  karyawan. Yang berarti sebuah perusahaan berpotensi untuk memperoleh hasil kerja yang lebih kreatif dengan menawarkan beberapa pilihan. Sementara itu, 29% karyawan menyatakan bahwa fleksibilitas tempat kerja membuat perbedaan terbesar terhadap loyalitas karyawannya.

Mobile Bukan Hanya Kaum Millennial
Penelitian EIU juga menemukan bahwa usia para responden bukan merupakan faktor bagaimana teknologi mobile berdampak terhadap kinerja dan keterlibatannya. Bahkan penelitian tersebut menghalau gagasan populer bahwa bekerja secara mobile adalah ranah generasi muda. Kenyataan ini membuat perusahaan-perusahaan menjadi semakin perlu untuk menempatkan teknologi mobile sebagai prioritas utama.

Sebuah perbedaan terjadi antara responden yang menganggap dirinya sebagai pengadopsi awal teknologi dengan #Gen Mobile (GM). Ini didefinisikan sebagai #Gen Mobile (GM), yang menganggap dirinya sebagai penyerap teknologi yang sangat lamban. Pengadopsi awal teknologi secara signifikan untuk melaporkan bahwa teknonologi mobile membuat lebih produktif (72% dari kelompok yang setuju dengan pernyataan ini, dibandingkan dengan 50% dari penyerap teknologi yang lamban), responden yang merasa lebih puas (59% versus 48%), merasa lebih kreatif (52% versus 40%, dan yang membuat loyal kepada atasannya (44% versus 31%).

Namun, para responden #Gen Mobile ini juga lebih menuntut. Sebanyak 40% mengatakan tidak akan pernah bekerja untuk sebuah perusahaan yang tidak mengizinkannya menggunakan perangkat mobilenya pribadi dalam bekerja, dibandingkan dengan 22% dari seluruh karyawannya.

Kata Chris, hal ini menegaskan bahwa karyawan #Gen Mobile adalah suatu demografis yang tidak ditentukan oleh usia, tetapi yang lebih tepat digambarkan oleh ketergantungan dan ketertarikannya terhadap perangkat-perangkat mobile daripada generasinya.

Para pengadopsi awal teknologi tidak hanya merupakan karyawan-karyawan yang lebih berharga, pandangan-pandangan yang dipercayai saat ini, akan menjadi pandangan mayoritas di masa depan seiring teknologi mobile yang semakin tersebar luas. Oleh karena itu, para CIO akan bertindak bijaksana dalam memperhatikan dan mengatasi permasalahan para pengadopsi awal teknologi ini.

Pete Swabey, Senior Editor di The Economist Intelligence Unit (EIU) menyimpulkan, laporan ini membuktikan bahwa para CIO memiliki kesempatan untuk menggunakan strategi-strategi teknologi mobile untuk mempengaruhi pengalaman karyawan, dan tentu saja produktivitas, loyalitas, dan kepuasan pekerjanya.

Hal ini merupakan sebuah perubahan dari efisiensi dan optimasi biaya yang biasanya menjadi sasaran, dan memungkinkan teknologi informasi (TI) membuat kontribusi yang lebih berarti, baik bagi ambisi strategi perusahaan maupun bagi kehidupan para pekerjanya. (Ridwan Effendi)


Related Articles

Pesona Gaji Lebih Memikat Karyawan Pria Dibanding Wanita?

Pesona gaji karyawan pria lebih memikat. Karyawan pria di Indonesia ternyata lebih mementing­kan gaji dibandingkan dengan karyawan wanita. Hal tersebut

Rating 123 Asuransi Versi InfoBank 2014

Belum lama ini Biro Riset Infobank (birI) mengumumkan hasil risetnya di perusahaan-perusahaan asuransi jiwa dan umum. Hasil riset ini menunjukkan

Investor Indonesia Anggap Enteng Pengeluaran di Masa Pensiun

Investor Indonesia ternyata memiliki risiko yang tinggi akibat kurang siap menghadapi realitas finansial di masa pensiun nanti. Hal ini terungkap

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*