• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 22 July 2018

Kompetisi Ke Kompetensi

Dalam hitungan hari kedepan, kita akan melaksanakan Pemilihan Umum untuk memilih anggota DPR RI, DPRD I, DPRD II dan anggota DPD. Perhelatan Nasional yang menghabiskan biaya trilyunan rupiah, demi mendapatkan wakil wakil rakyat, untuk 5 tahun kedepan, bagian dari proses Demokrasi dinegara kita.

Beberapa pengamat dan analis politik mengatakan bahwa, inilah saatnya para caleg ‘melamar’ kerja kepada masyarakat di daerah pemilihan, dan mengiba kepada konstituen agar mencoblos nama ataupun partainya. Sesuatu yang sangat paradox tentunya, seandainya setelah duduk di meja parlemen, mereka sering membolos dalam rapat rapat parlemen, bahkan bertindak curang de­ngan melakukan korupsi, nepotisme dan perilaku negatif lainnya.

Jadi? Siapa yang salah? Rakyat yang memilih, si caleg. Partai atau sistimnya? Kita tidak perlu menelaah lebih dalam, karena kompleksitas permasalahan ini akan memunculkan perdebatan yang tidak pernah habis. Tak perlu kecil hati, kare­na kompetensi, kredibilitas, dan perilaku anggota parlemen yang negatif juga ditemui di negara lain, baik di Asia bahkan di benua lain.

Masalah pemilihan yang hanya berdasar popu­laritas, bukan kapabilitas sudah lumrah terjadi, dan rakyatpun hanya bisa berdoa untuk mendapatkan wakilnya yang amanah, kredibel dan bertanggung jawab, selama menjabat sebagai anggota parlemen.

Standard Kompetensi
Dalam beberapa literatur, ada beberapa arti dari kompeten, kata dasar dari kompetensi. Competence indicates sufficiency of “knowledge and skills” that enable someone to act in a wide variety of situation. Pengetahuan dan kemampuan inilah yang menjadi dasar dari seorang talent untuk menunjukkan kompetensinya dan memberikan kontribusi kedalam institusi.

Kesebelasan Nasional Indonesia Usia 19, secara mengejutkan me­ngalahkan kesebelasan usia yang sama dari Korea. Dan PSSI sebagai institusi dan wadah kesebelasan ini, memutuskan untuk mempertahankan kesebelasan ini, meneruskan kebersamaan mereka dengan lebih intensif training. Mereka diproyeksikan untuk berlaga di Piala Asia U19, Myanmar Oktober 2014. Target mereka jelas, minimal ranking keempat, dan menjadi ke­sebelasan Indonesia dalam Kejuaraan Dunia Usia 20, tahun 2015.

Kemampuan individu masing masing pemain telah teruji, dengan menjadi juara tahun lalu, dan dalam satu tim mereka kembali dimasukkan kedalam fase training, coaching dan counseling. Fasilitas dan target yang terukur telah diberikan kepada setiap pemain, dan masing masing diharuskan memberikan kontribusi sesuai kompetensinya. Kerjasama tim diperkuat, stamina di­tingkatkan terutama parameter VOmax, minimal sejajar de­ngan pemain pro dari Eropa. Pemusatan latihan pun ditambah dengan try out melawan tim lokal maupun tim luar negeri, ditingkat junior.

Institusi PSSI telah berhasil membuat satu standar kompetensi yang diarahkan untuk mencapai satu tujuan, yaitu kemenangan di kejuaraan Asia. Kompetensi memang harus diberikan standar yang dinamis, ka­rena perkembangan kompetitor diluar. Bukankah satu institusi maupun korporasi juga memerlukan hal yang sama untuk mencapai tujuannya, baik itu profit, eksistensi brand ataupun korporasi, itu sendiri, di masa yang akan datang?

Menciptakan Kompetisi
Pada era tahun 80-an, satu korporasi asing yang memproduksi di consumers goods, melaksanakan rekruitmen calon manajernya dengan melalui kompetisi dalam kompetensi. Seorang fresh graduate, diterima sebagai Management Trainee atau calon manajer selama maksimal satu tahun magang dibagian yang dia kehendaki. Seorang Sales Trainee, harus menjalani perannya sebagai sales promotor atau salesman, dengan didampingi seorang sopir, mobil box penuh dengan hasil produksi korporasi, setelah 1 minggu mendapatkan pelatihan yang dilakukan salesman aslinya di teritori tertentu.

Setiap hari si treainee harus membuat laporan penjualan, baik jenis barang yang dijualnya lengkap dengan stok awal dan stok akhir, pemasangan POS material, penambahan barang yang akan dijual keesokan harinya, sisa kas setelah dipotong biaya dan laporan aktifitas kompetitor diteritori. Setelah 3 bulan, si trainee membuat summary dan presentation kepada Sales Manajemen, hasil kerja selama 3 bulan tersebut, plus usulan usulan untuk perbaikan sistim kerja seandainya diperlukan.

Dari presentation ini, Sales Manajemen sudah bisa mendapatkan gambaran kompetensi dari si trainee tersebut, mendapatkan fresh idea dari­nya, seandainya ada yang baik. Sales Manajemen sudah bisa memutuskan, si trainee bisa passed dan melanjutkan acting sebagai Sales Supervisor untuk 6 bulan ke depan, atau cukup berhenti sampai disini, dan si trainee pun dianggap tidak kompeten. Apabila dianggap berhasil, maka si trainee bersiap untuk berperan sebagai Sales Supervisor, dan melakukan hal yang sama untuk 6 bulan kedepan.

Demikian setelah 1 tahun si trainee bisa diangkat resmi sebagai Assistant Manajer, dan dianggap kompeten, setelah melakukan uji kepatutan yang realistis, dengan satu benchmark yang terukur dan achievable. Korporasi melaksanakan rekruitmen ini untuk sejumlah Trainee, dan setelah 1 tahun selesai, yang lolos seleksilah yang menjadi talent untuk manajer dimasa yang akan datang. Seleksi dengan kompetisi ini memang akan menggugurkan calon yang tidak kompeten, sementara yang lolos seleksi akan melanjutkan training, coaching, developing maupun counseling untuk mempertajam kompetensinya.

Tercapainya tujuan dari suatu korporasi adalah hasil kerjasama dari seluruh personal yang ada didalamnya. Apabila ada seseorang yang tidak kompeten berada didalamnya, tentu akan sangat mengganggu jalannya proses pencapaian tujuan. Hal ini yang harus dihindari oleh para manajer, Board of Director dan CEO. Sa­ngat krusialnya proses pencapaian tujuan ini, juga menyangkut kebutuhan berkembangnya organisasi, dinamisnya pasar dan kompetitor yang ada di luar, yang memerlukan pengamatan terus menerus. Competency is the combination of observable and measurable knowledge, skill, abilities, and personal attributes that contribute to enhanced “employee performance “and ultimately result in Organizational Succsess.

Kesuksesan adalah satu tujuan, dan untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu perencanaan, penelaah­an yang dalam, pelaksanaan yang terkontrol dan feedback serta contingency seandainya diperlukan. Mempersiapkan talent adalah dengan me­nempatkan mereka sesuai kompetensinya, memberikan arah tujuan dengan jelas dan mengawal mereka dengan pelatihan, development program, counseling dan yang sangat penting, semuanya berada didalam kebersamaan yang kondusif.

Selayaknya kita berdoa, agar beberapa hari ke depan, rakyat memilih wakilnya sesuai kompetensi mereka, bukan hanya mereka yang mencari status sebagai anggota dewan yang terhormat. Dan support kita untuk keberhasilan Tim PSSI U19 yang telah dan akan menunjukkan dirinya lagi, sebagai pemain sepakbola yang kompeten. Semoga.


Related Articles

Menjelang MEA, Bagaimana Menjaga Talent di Perusahaan?

Isu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) beredar sejak tahun 2002. Konsepnya dikembangkan secara bertahap pada setiap Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN.

Profit Centre vs Cost Centre

Seorang CEO yang baru diangkat melalui RUPS, menerima pesan khusus dari Dewan Komisarisnya. Dia diminta dalam mempersiapkan LRP, disebut sebagai

Tantangan Kaderisasi

Kaderisasi kepemimpinan merupakan hal natural bagi organisasi agar tujuan jangka panjang dapat tercapai. Namun kaderisasi bukanlah perkara mudah karena membutuhan

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*