• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 22 July 2018

Kewajiban Imbalan Kerja Perusahaan LQ45 Meningkat 16%, Jadi Rp107,1 triliun

Foto-2-UploadMilliman Inc, sebuah perusahaan konsultasi dan aktuaria global, melaporkan jika jumlah kewajiban imbalan kerja perusahaan LQ45 di Indonesia meningkat sebesar 16 persen, dari sekitar Rp 92,3 triliun pada 2015 menjadi Rp 107,1 triliun (sekitar US$ 8,0 miliar) pada 2016. Laporan tersebut mencakup analisis kewajiban imbalan kerja, berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan-perusahaan, yang termasuk dalam Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia. Ini merupakan ulasan tahunan yang kedua dari Milliman Indonesia mengenai kewajiban imbalan kerja di Indonesia dan merupakan bagian dari upaya penelitian berkelanjutan, yang dilakukan untuk memberikan wawasan kepada lebih dari 300 perusahaan yang telah menjadi klien di Indonesia.

Menurut Mark Whatley, Practice Leader, Employee Benefits Asia Tenggara, peningkatan angka imbalan kerja memiliki arti yang sangat penting. Sebab, dalam lingkungan bisnis yang berkembang pesat seperti Indonesia, mudah bagi perusahaan untuk mengesampingkan masalah imbalan kerja, sementara mereka berfokus pada pertumbuhan bisnis. “Namun, menurut pengalaman kami, mereka yang memperhatikan hal ini dengan teliti, akan menghindari risiko yang tidak diinginkan dalam jangka panjang dan menciptakan brand ‘employer of choice’,” papar Mark.

Ia menambahkan, perusahaan sebaiknya tidak membatasi diri hanya sekedar memenuhi kewajiban mereka dalam mematuhi peraturan saat mengelola program imbalan kerja mereka. Sebaliknya, mereka harus terus-menerus meninjau kembali program yang ditawarkan, pendanaannya, dan pelaporannya untuk memastikan bahwa program yang diselenggarakan telah sesuai bisnis dan karyawan mereka, dan program imbalan kerja ini telah dikelola, disampaikan dan dipertanggungjawabkan seefektif mungkin.

Senada dengan Mark, Halim Gunawan, Country Manager Milliman Indonesia juga menyampaikan hal jika total kewajiban atas imbalan kerja sudah signifikan dan merupakan indikasi pasar Indonesia yang lebih luas. “Laporan tahun ini juga memberi kita wawasan akan perubahan biaya atas imbalan kerja dibandingkan dengan laporan sebelumnya.Kami menemukan bahwa kenaikan kewajiban bersih – liabilitas pada laporan keuangan yang tidak didanai oleh aset – adalah 23%,” tukasnya. Menurutnya, tingkat pertumbuhan ini akan menambah secara majemuk risiko neraca keuangan yang ditanggung oleh perusahaan yang memberikan imbalan pasca kerja dan imbalan kerja jangka panjang lainnya.”Foto-3-Upload

Dari hasil laporan Milliman didapat pula bahwa kewajiban bersih, setelah dikurangi dengan nilai aset yang dimiliki untuk memenuhi imbalan kerja, sekitar Rp44,5 triliun (sekitar USD 3,3 miliar). Ini mewakili sekitar 1% dari agregat total liabilitas perusahaan dalam LQ45 dan tumbuh sebesar 23% dari liabilitas tahun sebelumnya.

Yang menarik, 93% perusahaan LQ45 memiliki program pensiun yang diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan pada akhir tahun 2016. Hal ini dipaparkan oleh Herry Kuswara, Retirement Practice Leader Milliman Indonesia. “Perusahaan LQ45% ini juga menghitung keseluruhan, mulai dari karyawan yang mengundurkan diri, pensiun dini, dan pensiun normal. Semakin secure perusahaan, makin sedikit yang melakukan resign. Bahkan, sekarang ini uniknya di beberapa perusahaan seperti perusahaan telekomunikasi, memungkinkan untuk pindah ke perusahaan lain dengan mudah. Kami juga menghitung asumsi ini,” katanya.

Saat ini usia pensiun yang diasumsikan oleh sebagian besar perusahaan adalah 55 atau 56 tahun. Hal ini dapat meningkat secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan, mengingat adanya pengaturan usia pensiun yang meningkat secara bertahap menjadi 65 tahun di tahun 2043 untuk program jaminan pensiun dibawah BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, diharapkan agar banyak perusahaan mengungkapkan asumsi tingkat pengunduran diri karyawan. Karena hal ini dapat berdampak signifikan terhadap kewajiban imbalan kerja yang dihitung. “Pengungkapan asumsi ini akan memungkinkan pembaca laporan keuangan perusahaan untuk melihat kewajaran atas biaya imbalan kerja yang telah dibukukan,” tukasnya lagi.  (Ratri Suyani)


Related Articles

IHCS, Tolak Ukur Penerapan Human Capital Management System

“Employee Engagement: The Drive To Key Result” merupakan tema yang diusung dalam ajang Indonesia Human Capital Studi (IHCS 2016). IHCS

Presiden terpilih Donald Trump: Apa Pengaruhnya bagi HR di Asia?

Pekerjaan dan mobilitas talent atau bakat menjadi sorotan utama setelah kemenangan mengejutkan Donald Trump atas Hillary Clinton dalam Pemilihan Presiden

PPI Bekerjasama dengan Institut Bisnis Nusantara Dalam Pengembangan Softskills

Sumber daya manusia (SDM) sebagai asset yang bernilai tiada batas merupakan aspek penting yang kualitasnya perlu ditingkatkan dari waktu ke

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*