• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 20 September 2018

Ketika Praktisi Human Resource Menjadi Partner Strategik Perusahaan

Anggita H. Panjaitan – Senior Executive Firstasia Consultants

Anggita H. Panjaitan – Senior Executive Firstasia Consultants

Tahun 2014 adalah tahun yang penting bagi pengembangan profesional HR di Indonesia. Di tahun tersebut, pemerintah menyusun Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk bidang  Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM). Pada SKKNI bidang MSDM terdapat rumusan kompetensi teknikal (hard competency) yang dirinci dalam 9 Klaster dan kompetensi non teknikal (soft competency) yang dikenal dengan sebutan Prasyarat Dasar Generik, yaitu persyaratan kemampuan yang harus dimiliki pelaksana dan penanggung jawab MSDM untuk mencapai unjuk kerja yang optimal (Yunus Triyonggo, 2016). Salah satunya adalah kompetensi Pemahaman Bisnis atau Business Acumen. Kompetensi ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami & menerapkan informasi guna berkontribusi terhadap rencana strategis organisasi.

Hal ini mengingatkan saya pada era 90an, dimana David Ulrich memperkenalkan konsep HR Business Partner. Di dalam HR Model-nya, terdapat empat peran utama yang diusung oleh HR agar optimal untuk mendukung bisnis, salah satunya adalah Human Resources as a Business Partner.

Human Resource Business Partner atau HRBP merupakan partner strategis perusahaan yang berperan sebagai konsultan internal sekaligus sebagai representatif HR Services di organisasi. Peran HRBP tidak sebatas pada fungsional HR. Ia dituntut memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai VISI, MISI, serta arah bisnis perusahaan. HRBP tidak boleh menutup mata atas perkembangan bisnis kompetitor. Insight yang didapatnya kelak membantu HRBP mengenali resiko yang harus diantisipasi oleh perusahaan dalam menyusun strategi. Peran positif HRBP dapat menolong perusahaan untuk mewujudkan organisasi yang produktif dan efisien.

Sebagai konsultan internal, HRBP mendorong terciptanya sinergi kerja lintas divisi maupun business unit. Kelak hal ini akan mempertajam kemampuan mereka dalam melakukan proses operasional HR baik dalam melakukan seleksi calon karyawan, maupun mengembangkan setiap SDM sesuai dengan kompetensi dan budaya perusahaan.HRBP

Sayangnya di Indonesia, kerap peran HR sebagai Business Partner masih penuh dengan teka-teki. HR yang diharapkan tampil sebagai strategic business partner masih dipandang sebelah mata. Berbeda dengan finance, atau sales and marketing yang memang kontribusinya cepat terlihat dalam meningkatkan profit maupun memperkuat efisiensi biaya.

Oleh karena itu, untuk menjajaki langkah perusahaan dalam membentuk HR sebagai business partner dibutuhkan kesamaan visi dan komitmen dari berbagai pihak. Top management harus berkomitmen untuk mendorong peran HR ke arah strategis, baik yang sifatnya penanganan tugas fungsional SDM, hingga mengembangkan program sinergis lintas divisi.

Di samping itu, dibutuhkan juga komitmen yang kuat untuk membangun profesional HR dalam menjajaki peran di level strategis. Pelatihan hard competency, soft competency, maupun assignments (penugasan) yang berkaitan dengan lini bisnis perusahaan harus diberikan sebagai sarana pembelajaran bagi HRBP untuk berkarya.

Di sisi lain, para profesional HR harus memiliki kesadaran atas peran strategis mereka. Kesadaran ini diimplementasikan melalui pembelajaran proses bisnis, pengelolaan pola komunikasi efektif dengan berbagai unit bisnis, bahkan kesediaan terlibat aktif mengenali kebutuhan dari user lintas divisi guna memahami kebutuhan setiap unit bisnis. Dengan kata lain, HR dituntut menjadi pihak yang paling aktif memperlihatkan inisiatif kerjanya ke user.

Tentu jalan berbatu akan dihadapi HR yang menjajaki diri di dunia bisnis secara nyata. Para profesional HR yang sudah nyaman dengan zona operasional, akan dipaksa belajar lebih banyak, dan membuktikan diri secara konsisten. Namun perjuangan tersebut anggaplah sebagai batu penjuru dari titik transformasi peran HR agar kelak tiada lagi keterbatasan bagi tim untuk berkontribusi bagi kemajuan bisnis perusahaan.


Related Articles

Ikuti Apa Kata Hati

Adanya opportunity for growth yang membuat Awaldi, pria berdarah Sumatera barat ini memutuskan untuk menerima tantangan berkarir di perusahaan konsultan manajemen terkemuka,

Mekanisme Penghitungan Pajak Penghasilan Atas WNA

Bagaimana perbedaan ketentuanwithholding tax (pemotongan) PPh 21 terhadap karyawan asing yangpertama sifatnya adalah estimasi (asumsi ia mulai berada di Indonesia sejak AWAL

Keterampilan Dasar Coaching

Dalam beberapa workshop coaching yang kami lakukan, banyak pertanyaan yang diajukan oleh para peserta, dan salah satu pertanyaan yang paling

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*