• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 24 January 2018

Kesenjangan Gaji di Indonesia Semakin Meluas

gaji-IndonesiaKesenjangan gaji antara manajemen puncak dan staf junior semakin terlihat jelas di sembilan pasar Asia pada tahun 2016. Sembilan pasar tersebut adalah Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan dan Thailand. Semua ini terungkap dalam 2016/2017 Global 50 Remuneration Planning Report yang diadakan oleh Willis Towers Watson baru-baru ini.

Di Asia, gaji pokok senior eksekutif hampir mendekati dengan di Amerika Serikat. Sedangkan mereka yang berada dalam posisi junior tertinggal jauh di belakang. Sementara itu, para eksekutif puncak terutama di negara Singapura dan Hong Kong, jumlah total uang tunai (gaji pokok ditambah tunjangan tetap) tahun 2016 lalu  25% lebih tinggi dari rata-rata yang diterima pekerja di AS yaitu sekitar US $ 233.000 atau sekitar Rp3 miliar per tahun.

Kesenjangan melebar gaji antara manajemen puncak dan posisi entry level di perusahaan menunjukkan bahwa pertumbuhan kompensasi sedikit “bermain” dalam hal pembagian kekayaan. Temuan juga menunjukkan kesenjangan gaji di level bawah perusahaan di negara-negara berkembang di Asia menjadi lebih lebar seperti halnya negara-negara berkembang lainnya di dunia.

Yang tak kalah mengejutkan adalah kesenjangan gaji pokok terbesar di tahun 2016 yang terlihat jelas di Indonesia, di mana manajemen puncak memperoleh Sekitar US $ 190,000 atau sekitar Rp2,5 miliar per tahun. Jumlah ini lebih banyak 15,8 kali dari para profesional di level staf yang hanya memperoleh sekitar US $ 12.000 atau sekitar Rp160 juta per tahun. Diferensial yang terjadi saat ini meningkat sebanyak 12 kali pada tahun 2015 dan 11,8 kali pada tahun 2014.

Menyusul di belakang Indonesia adalah negara Thailand. Saat ini, posisi manajemen puncak di Thailand memperoleh sekitar US $ 202,000 atau sekitar Rp2,6 miliar per tahun. Jumlah ini sekitar 14,9 kali dari professional di level staf yang hanya mendapat US $ 13.600 (sekitar Rp176 juta). Celah ini jauh lebih lebar 8,7 kali pada tahun 2015. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, perbedaan ini semakin terlihat jelas antara si kaya dan si miskin. Di Vietnam, kesenjangan gaji juga terlihat jelas yaitu 14,9 kali pada tahun 2016.

Di tempat lain, kesenjangan gaji di Cina hingga 9,7 kali pada tahun 2015 dan 10 kali pada tahun 2016.  Selama periode ini, kesenjangan gaji di Hong Kong juga naik 6,2-7,5 kali. Sementara itu, perubahan di Singapura sangat minim, hanya naik 6,3-6,5 kali. Meskipun terlihat kesenjangan melebar di Cina antara tahun 2015 dan 2016, gaji dasar untuk level manajemen puncak dan staf, tingkat pertumbuhan yang ada memiliki kecepatan yang hampir sama yaitu masing-masing sebesar 18% dan 16%.

Temuan  senada juga muncul di survey The Global Risks Report 2017 yang diadakan World Economic Forum (WEF) yang diketahui bahwa kenaikan perbedaan pendapatan ini merupakan salah satu yang paling serius dari lima risiko utama yang akan membentuk dunia dalam dekade berikutnya. Dengan latar belakang sentimen anti-globalisasi, WEF mencoba untuk menerapkan sistem baru untuk meminimalkan perbedaan ini.

“Kesenjangan pendapatan yang terjadi adalah sesuatu yang baik untuk memastikan bahwa orang-orang mengetahui hal yang kongkrit sehingga bisa mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi untuk memastikan globalisasi yang berkelanjutan,” kata Sambhav Rakyan, Data Services Practice Leader Willis Towers Watson untuk Asia Pacific.

Ditambahkan Rakyan, semua yang berkaitan dengan bisnis merupakan sesuatu yang penting untuk memiliki strategi yang membahas masalah tersebut. “Semua itu untuk mengetahui apakah para staf memiliki jalur karir yang jelas dan tujuan yang pasti sehingga mereka dapat merasa yakin tentang masa depan mereka dan memahami target mereka. Hal ini terutama penting bagi perusahaan yang terdaftar,” ujarnya. Jika bisnis mereka berkinerja tidak cukup baik, maka bisnis mereka dengan mudah menjadi sasaran para aktivis pemegang saham untuk membuatkan paket CEO yang dapat menghasilkan hasil yang lebih baik. (Ratri Suyani. Sumber: HRM Asia dan Wilis Tower Watson)


Related Articles

Stres Kerja Meningkat di Australia

Sebuah studi baru mengatakan satu dari empat warga Australia stres di tempat kerja. Stres telah mempengaruhi kesehatan mental dan fisik

Biaya Rekrut Karyawan Per Perusahaan Rata-rata 4.100 Dollar AS

Rata-rata perusahaan mengeluarkan biaya perekrutan untuk sebuah posisi menengah ke atas sebesar 4.100 Dollar AS atau hampir  Rp54 juta. Selain

Karyawan dengan “Critikal Skill” Sulit Didapatkan dan Dipertahankan

Hal ini terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan oleh perusahaan global professionalservices,Towers Watson. The Towers Watson Global Talent Management dan Rewards

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*