• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 24 January 2018

Kepemimpinan : Arti, Makna Dan Aplikasinya (Bag. 1)

foto Brata Taruna HardjosubrotoLeadership atau kepemimpinan, dalam istilah management sering disebut sebagai ‘People Skill’ atau juga sering disebut sebagai ‘Soft Skill’. Skill atau keterampilan kepemimpinan berarti, kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain untuk menerima pendapatnya atau mengikuti tindakannya atau melakukan hal pekerjaan yang dimaksudkan oleh seseorang tersebut. Adapun bentuk dan turunan dari kegiatan ‘mempengaruhi’ adalah bermacam-macam, seperti: memberi delegasi, menjual ide atau menjual konsep, memicu semangat kerja, memotivasi, membujuk, menginspirasi, melakukan negosiasi, menyelesaikan konflik, memecahan masalah, mengambil keputusan, dan masih banyak lainnya.

Setiap orang atau mahluk (termasuk binatang) di dunia ini memiliki kemampuan kepemimpinan. Sejak mulai dilahirkan hingga dewasa, setiap orang telah memperagakan kepemimpinannya, baik yang dilakukan secara sadar, maupun yang digerakkan oleh insting nya. Jadi, setiap orang selalu diberi bekal kompetensi kepemimpinan, yang diperlukan untuk bersosialisasi. Dan setiap orang perlu untuk senantiasa bersosialisasi guna melangsungkan kehidupannya dan mengembangkan karier atau penghasilannya. Kompetensi kepemimpinan tidak selalu diwujudkan dalam bentuk komunikasi, namun sangat banyak justru diwujudkan dalam bentuk tindakan atau perbuatan.

Kita contohkan kemampuan mempengaruhi atau kepemimpinan. Katakanlah ada seorang pejabat atau manager yang memberikan suatu pekerjaan atau assignment kepada stafnya, sesuai dengan tugas dan fungsi staf tersebut. Kemudian dalam memberikan tugas tersebut, para staf yang mene­rima tugas nya merasa tidak senang dengan cara mana­gernya memberikan tugas. Namun para staf terpaksa melakukan dan menyelesaikan tugas yang diberi­kannya itu karena tidak bisa menolak tuntutan managernya. Sehingga para staf melakukan pekerjaannya dengan ala kadarnya. Maka boleh dikatakan, sang manager kurang memiliki kompetensi kepemimpinan sebagai manager atau kompetensi kepemimpinan nya masih rendah. Sang mana­ger hanya menggunakan ‘positional power’ terhadap stafnya, karena ‘personal power’ dalam bentuk kepemimpinannya rendah. Maka produktifitas di unit kerjanya akan cenderung rendah atau tidak akan maksimal.

Dalam perkembangannya, setiap orang akan memiliki kompetensi kepemimpinanyang berbeda satu sama lain, karena kemampuan untuk melatih dan mengembangkan potensi kepemimpinan juga berbeda antara satu dan yang lain. Kepemimpinanadalah suatu kompetensi yang dapat dan harus senantiasa dikembangkan melalui berbagai pro­ses pelatihan.

Proses pengembangan kompetensi kepemimpinan yang paling efektif ada pada kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Komunikasi, gesture, body language, tindakan adalah merupakan pembentukan kompetensi kepemimpinan setiap individu. Pengembangan diri tersebut akan menjadi sangat efektif, bila diawali dan didasari oleh pemahaman yang utuh dan baik terhadap seluruh elemen dan aspek dasar kepemimpin­an yang diperlukan.

Yang menjadi pertanyaan bagi banyak orang adalah, apakah kepemimpinan merupakan kompetensi yang diperoleh dari bakat pembawaan saja atau merupakan kompetensi yang terjadi ka­rena dikembangkan? Jawabannya adalah, ‘kedua-duanya’. Seperti yang disampaikan di awal, bahwa setiap orang memiliki bakat atau kemampuan dalam kepemimpinan. Bakat tersebut berkembang sejalan dengan kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Seseorang anak yang misalnya dibesarkan dilingkungan dimana orang tuanya adalah seorang pimpinan suatu organisasi, dan anaknya sering diajak atau dilibatkan dalam kegiatan orang tuanya tersebut, maka tanpa disadari, sang anak akan mencontoh beberapa tindakan atau komunikasi sang ayah terhadap anggota timnya. Dengan demikian, maka kepemimpinan sang anak tersebut akan bisa jauh lebih baik dibandingkan dengan temannya yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama.

Kemampuan kepemimpinannya itu akan bisa jauh berkembang lebih baik lagi, bilamana sang anak diberikan bimbingan yang terarah dan disadari oleh dirinya sendiri. Bimbingan tersebut akan sangat baik bila dilakukan di waktu sekolah dan di rumah. Permasalahannya, sistem pendidikan di Indonesia, mulai TK hingga Perguruan Tinggi, relatif sangat kurang dalam memberikan bimbingan kepemimpinan. Sekolah di negara barat, sejak TK sudah dibiasakan bekerja dalam kelompok menyelesaikan tugas bersama. Sering kali diberikan tugas untuk mempelajari hal yang spesifik, mi­salkan topik mengenai ‘kera’, dimana sang anak harus mempelajari sendiri dari internet yang kemudian dipresentasikan di depan kelas. Seluruh contoh kerja kelompok dan presentasi tersebut merupakan bentuk pelatihan aktif pada beberapa elemen utama kepemimpinan. Sedangkan kecenderungan pembelajaran di indonesia sangat pasif, mencatat atau sebatas menghafal, sehingga kepemimpinan murid tidak berkembang dengan baik.

Penulis: Brata Taruna Hardjosubroto


Related Articles

Mengapa Budaya Perusahaan Sangat Penting (Bagian 1)

Sering sekali kita mendengar bahwa budaya perusahaan adalah sangat penting bagi kinerja dan produktifitas perusahaan? Benarkah demikian, seberapa pentingkah? Corporate

Mind Of An Entrepreneur

Sering sekali saya mendengar teman saya bercerita bahwa dia ingin sekali menjadi entrepreneur, tetapi masalahnya adalah uang, tidak punya uang yang

Kenapa Orang Jerman Bekerja Lebih Pendek Tapi Lebih Produktif?

Sebuah studi yang dilakukan Knote, sebuah lembaga riset dan publikasi terkemuka yang banyak melakukan kajian tentang produktifitas, mengungkap hal yang

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*