• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 18 October 2018

Jelang MEA, Industri Kertas Hadapi Tantangan Berat

IndustryGatheringASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah semakin dekat, tinggal hitungan bulan. Sayangnya, tidak semua perusahaan di Indonesia sudah siap menghadapi serangan masuknya produk baru saat MEA berlaku nanti. Padahal dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, setiap perusahaan dituntut untuk dapat meningkatkan daya saing produk-produk yang dihasilkan sehingga dapat mengungguli perusahaan-perusahaan lain yang menghasilkan produk sejenis.

Menurut Riza Aryanto, Faculty Member STM PPM, salah satu cara efektif untuk meningkatkan daya saing perusahaan yaitu melalui inovasi produk secara sinambung dengan terus melahirkan ide-ide segar dalam inovasi produk. “Ide-ide segar tersebut harus diatur, disusun, dan dijalankan secara sistematis, efisien, dan tentu saja berkelanjutan sehingga menjadi lebih terstruktur dan tidak tumpang tindih satu dengan yang lain, atau biasa disebut dengan manajemen inovasi produk,” papar Riza dalam gathering yang diadakan PDMA Indonesia berkolaborasi dengan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) di Auditorium Gedung B Bina Manajemen PPM Manajemen, Jakarta (27/5).

Dalam gathering bertema “Product Innovation Management: How Pulp and Paper Industry Faces the ASEAN Economic Community 2015? “ tersebut, Riza menambahkan bahwa manajemen inovasi produk menjadi penting karena tanpa manajemen yang baik, ide-ide yang lahir malah akan menumpuk dan kemungkinan akan terlambat untuk diperkenalkan di pasar, atau bahkan lebih fatal, perusahaan melakukan kesalahan dalam meluncurkan sebuah produk yang mengakibatkan berpotensi kehilangan pendapatan, dan jika hal tersebut berlangsung lama dan terus menerus maka perusahaan akan kehilangan kemampuan bersaing dengan pesaingnya.

Sementara itu, Liana Brastasida, Direktur Eksekutif APKI (Asosiasi Pengusaha Kertas Indonesia) menjelaskan, inovasi dalam suatu perusahaan di masa sekarang sudah menjadi core business yang tidak boleh diabaikan. “Tanpa adanya invovasi yang sustainability, maka perusahaan tersebut cepat  atau lambat akan tersingkir dari pasar global. Jadi, perusahaan-perusahaan termasuk juga industry kertas yang mempunyai maksud dan tujuan untuk ekspor, maka dia pasti akan melakukan inovasi,” tegas Liana.

Ia mencontohkan, saat ini beberapa perusahaan berskala besar yang tergabung di APKI seperti Sinarmas Group dan Aprilia Group, sudah melakukan berbagai macam inovasi menuju ke arah sustainability. Misalnya untuk limbah padat dari kertas kini sudah dijadikan produk-produk berkualitas seperti tatakan atau kemasan telur dan tempat pensil. Demikian juga dengan perusahaan Bukit Muria Jaya yang melakukan inovasi dengan membuat kertas untuk rokok, yang jika tidak dihisap maka kertas tidak akan terbakar sehingga tidak mencemarkan lingkungan  dan mengganggu kesehatan orang lain.IndustryGathering1

“Jadi itu adalah inovasi yang sangat bagus. Tapi saya juga berharap agar inovasi tersebut ditambahkan demi kesehatan. Misalnya untuk kertas rokok, supaya kadar racun di rokok bisa disaring sehingga asapnya tidak mengganggu kesehatan orang lain,” sarannya. Ia juga berharap agar industri kertas memikirkan kertas yang mereka produksi agar tinta yang ada di kertas yang dipakai untuk makanan tidak bermigrasi ke makanan tersebut. “Itu inovasi yang bagus. Selain itu,  membuat kertas biasanya menggunakan zat kimia. Harus ada cara untuk melakukan inovasi supaya zat kimia juga tidakbermigrasi ke makanan,” tambahnya.

Diakui Liana, tantangan tersebesar bagi industri kertas Indonesia saat ini adalah regulasi. Regulasi sekarang ini belum sepenuhnya mendukung perusahaan. Selain itu, hambatan yang muncul yaitu isu dumping dan penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk kawasan Uni Eropa. “Menghadapi MEA 2015, Indonesia memiliki keunggulan komparatif karena lokasinya sangat cocok untuk budidaya tanaman bahan baku seperti akasia. Akasia bisa dipanen dalam kurun waktu 6 tahun hingga 7 tahun, sedangkan waktu panen tanaman bahan baku kertas ini di negeri empat musim sekita 30 tahun hingga 40 tahun,” ujarnya.

Ia menilai, Indonesia adalah produsen pulp dan kertas nomor satu di Asean, sedangkan Vietnam dan Thailand terus mengejar. “Kasus dumping atau harga jual yang lebih murah di luar negeri dengan Malaysia terkait produk kertas koran dalam bentuk gulungan dan kasus tersebut sedang diselidiki Pemerintah Malaysia,” kata Liana menyayangkan adanya dumping.

Diterapkannya SVLK juga menyebabkan terjadinya penolakan pelaksanaan sistem tersebut oleh produsen bubur kertas dan kertas. Hal ini disebabkan kawasan Uni Eropa bukan tujuan ekspor para produsen tersebut. “Kawasan Eropa sendiri bukan pasar tujuan ekspor utama dari pulp dan kertas buatan Indonesia. Jadi kalau diterapkan SVLK, maka kami keberatan karena tidak sesuai,”  tambah Liana. Karena itu Liana berharap pemerintah mengupayakan agar SVLK dapat diterima atau diakui di pasar regional mau pun internasional. APKI juga mengusulkan agar masa berlaku sertifikasi bisa lebih dari tiga tahun.

APKI menaungi 61 anggota dari total 82 produsen pulp dan kertas yang ada di Indonesia. Di antara anggota asosiasi baru 17 yang memiliki sertifikasi SVLK. APKI meminta pemerintah merevisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 64 Tahun 2012 bahwa SVLK hanya diwajibkan untuk produk bubur kertas (pulp) saja, sedangkan produk kertas tidak perlu disertifikasi karena bubur kertas yang digunakan sudah bersertifikat legal. (Ratri Suyani)


Related Articles

PPM Dukung SDM Indonesia lewat The Future Leader 7

Kualitas SumberDaya Manusia (SDM) Indonesia  khususnya di bidang manajemen tidak boleh kalah bersaing dengan SDM asing. Apalagi dalam menghadapi pasar

Engaging Talents

Fakta menunjukkan bahwa mendapatkan sumber daya manusia unggul dalam waktu singkat tidaklah mudah. Apalagi mendapatkan sumber daya manusia yang unggul

Tempat Nyaman Nan Mewah Untuk Lansia

Jababeka Longlife City meresmikan pengopersian layanan hunian dan layanan hidup lanjut usia melalui grand opening Senior Living @D’Khayangan in The

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*