• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 22 July 2018

Hasnul Suhaimi: Tetap Eksis di Dunia Telekomunikasi

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Puluhan tahun mengabdi di industri telekomunikasi, tidak membuat pria yang melepas jabatannya sebagai Chief Executive Officer (CEO) XL Axiata April 2015 lalu ini merasa jenuh. Ia masih disibukkan dengan berbagai kegiatannya yang masih seputar dunia telekomunikasi. Apa saja kesibukannya?

Siapa yang tak kenal Hasnul Suhaimi. Pria kelahiran Bukit Tinggi, 23 April 1957 ini berhasil melakukan transformasi besar-besaran di XL Axiata dengan mengembangkan strategi yang bertujuan untuk memperkuat jaringan XL, pemasaran dan konsolidasi perusahaan. Di masa kepemimpinan Hasnul, XL menggelontorkan biaya 9,9 triliun rupiah untuk mengakuisisi Axis Telecom Indonesia pertengahan 2014 lalu. Akuisisi XL terhadap Axis semakin memperkuat posisi XL di Indonesia dan dunia.

XL juga melakukan beberapa kolaborasi antara lain, sharing penggunaan tower, pembangunan jaringan dan frequensi. “Kolaborasi harus dilakukan karena sebuah perusahaan akan sulit bertumbuh sendiri. Lebih baik rugi kecil saat ini tetapi untuk revenue dan profit yang lebih besar di jangka panjang,” kata Hasnul berbagi cerita. Dan ternyata strategi ini dinilai jitu lantaran berkat tarif murah yang menyentuh banyak segmen, pangsa pasar dan pendapatan XL menjadi semakin luas.

Dalam melakukan kolaborasi, Hasnul mengaku ada sejumlah syarat yang dibutuhkan perusahaan yang akan melakukan kolaborasi dengan kompetitor. Pertama, harus ada alasan untuk percaya. Tanpa rasa saling percaya bahwa sebuah kolaborasi bisa mendatangkan keuntungan, maka kolaborasi tidak mungkin terjadi. “Harus ada sense of urgency (melakukan kolaborasi). Kalau tidak ada yang mendesak, maka tidak bisa melaukan kolaborasi. Maka perusahaan akan hancur. Collaboration or die,” tegasnya.

Kedua, adanya pemimpin yang memutuskan untuk kolaborasi. Keputusan tersebut harus mulai dari top manajemen. Ketiga, adanya tim yang pro terhadap kolaborasi tersebut. Karena itu, jangan mengambil tim yang berada pada posisi head to head dengan perusahaan yang diajak berkolaborasi tersebut. Keempat, adanya regulasi dari pemerintah yang bisa “memaksa” perusahaan melakukan kolaborasi. Hasnul menambahkan, kolaborasi bisa saja dilakukan oleh perusahaan besar selama kolaborasi bisa menurunkan cost, tetapi juga disertai peningkatan revenue. “Kunci utama dalam membangun sebuah kolaborasi yaitu adanya rasa saling percaya dan komunikasi yang baik,” paparnya.Academic-Gathering-collaboration-(1)

Pria yang memulai karir dengan bekerja di Schlumberger Indonesia, sebagai instrument engineer ini menolak tawaran bekerja di dunia selain dunia telekomunikasi. Lepas dari Schlumberger Indonesia, ia menerima tawaran untuk bergabung dengan PT. Indosat sebagai staf perencanaan tahun 1983. Selama bekerja di perusahaan tersebut, ia juga ditugaskan di PT. Telkomsel sebagai Direktur Niaga dan PT. IM3 sebagai Presiden Direktur.

Tahun 2006, ia mengundurkan diri dari jabatan direktur umum Indosat dan bergabung dengan PT. XL Axiata Tbk. Ia didaulat menjadi Direktur Utama XL Axiata, menggantikan posisi Christian Manuel de Faria. Dalam kepemimpinannya, ia berkomitmen untuk memimpin PT. XL menjadi penyedia jasa teknologi informasi dan komunikasi dengan banyak user di Indonesia. Dan hal ini terbukti dalam  beberapa waktu saja ia berhasil membuktikan XL Axiata menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi yang mampu mencetak angka pendapatan hingga 13,9 triliun rupiah.

Berkat inovasinya tersebut, ia dinobatkan sebagai CEO Idaman versi Majalah Warta Ekonomi. Penilaian tersebut berdasarkan survei atas CEO yang dianggap berhasil memajukan perusahaan yang dipimpinnya menjadi lebih cerdas, bercitra baik, dan berstrategi tajam. Ia pun mendapatkan The Best Chief Executive Officer (CEO) Indonesia 2010, majalah SWA berkat komitmen dan kepemimpinannya dalam memimpin perusahaan. Kemudian secara berturut-turut ia meraih  Telecom CEO of The Year, Telecom Asia Awards 2011, Singapura dan Best CEO of The Year, Seluler Award 2011 dari GSM (Global Selular Media) Group. Pada 2012, Hasnul terpilih kembali sebagai CEO of The Year versi Seluler Award. Selain itu, perusahaan tempatnya bernaung mendapatkan penghargaan Best Customer Care Service dan Most Innovative Product.

Kini setelah tidak lagi duduk di kursi kepemimpinan XL, ia tetap disibukkan dengan berbagai kegiatan yang tak jauh dari dunia telekomunikasi. Ia sekarang menjabat sebagai Komisaris Robi Axiata Limited di Bangladesh.  “Saya masih di Axiata, sekarang menjabat sebagai komisaris di Bangladesh,” ujar Hasnul dalam sebuah acara PPM Manajemen di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selain itu, lulusan Teknik Elektro dari Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981 ini juga memegang posisi sebagai Komisaris Utama Elevenia, perusahaan joint venture antara XL dan SK Planet. Tak hanya itu. Ayah dua anak ini juga sibuk membantu IPMI untuk mengembangkan IPMI Research and Consultation (IRECONS) yang berupaya memahami kondisi pasar industri apapun dengan menggunakan ponsel dan selular. Dalam melakukan pengembangan IRECONS, IPMI bekerjasama dengan Mars Indonesia.

Hasnul juga disibukkan dengan kegiatannya mengajar para mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) untuk mata kuliah leadership kepada para mahasiswa, dari Selasa hingga Kamis. Bahkan ia juga akan mengajar mata kuliah yang lain seperti organizer behavior, business to business marketing, dan entrepreneur di tempat yang sama. Kegiatannya tersebut selaras dengan cita-citanya yang ingin mendedikasikan diri sebagai seorang pengajar di ITB, sama seperti kedua orang tuanya. (Ratri Suyani)


Related Articles

Pambudi Sunarsihanto: Talent harus Mampu Hadapi VUCA World

Salah satu tantangan yang harus dihadapi di dunia bisnis adalah VUCA world. VUCA yang merupakan singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity

Yakin SDM Indonesia bisa Bersaing

Siapa yang tak kenal Sandiaga Salahuddin Uno, seorang pengusaha yang berhasil mendirikan sebuah perusahaan investasi bersama Edwin Soeryadjaya yang dinamakan

Drs. Pujianto Apt. MM: Transformasi Bisnis Kimia Farma Hadapi Persaingan Global

Lima tahun terakhir, PT. Kimia Farma gencar melakukan transformasi bisnis  dari  yang semula sebagai pharmaceutical company menjadi health care company.

1 comment

Write a comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*