• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 22 July 2018

“Employee Engagement”

ArifTrimanApakah para pekerja sudah merasakan keterikatan dengan pekerjaan yang dijalankan?

“Baguss.. Hasil yang baikk!!” merupakan kata-kata yang sangat kita harapkan seorang karyawan setelah menyelesaikan suatu tugas yang anda berikan. Pujian dan sanjungan atas pekerjaan yang telah diselesaikan bisa menjadi sumber kepuasan tersendiri bagi karyawan anda. Bukan hanya dari sisi penghasilan, namun pujian seperti ini bisa menjadi faktor keterikatan kita dengan suatu pekerjaan dan organisasi.

Berbicara mengenai keterikatan terhadap suatu organisasi, istilah ini biasa kita dengan istilah employee engagement. Employee engagement berarti tidak hanya sekedar apa yang karyawan pikirkan, tetapi juga apa yang karyawan rasakan, inilah yang dapat menghasilkan kontribusi terbaik yang merupakan “senjata rahasia” untuk menuju hasil bisnis yang luar biasa spektakuler. Konsep employee engagement dalam ranah industri organisasi memiliki berbagai macam variasi sehingga terdapat variasi definisi yang membangun konsep employee engagement. Dalam hal ini MacLeod dan Brady (2008) menyatakan bahwa employee engagement didefinisikan sebagai kesediaan karyawan untuk memberikan waktu, pikiran, dan energi di atas dan di luar apa yang dipertimbangkan agar menghasilkan kinerja yang maksimal. Disamping itu, Saks (2006) melihat employee engagement dari dua sudut pandang yang terpisah. Pertama adalah dari keterikatan karyawan terhadap terhadap organisasi dan keterikatan terhadap suatu pekerjaan.

Pertanyaannya adalah, bagaimana seorang pimpinan dapat menilai employee engagement para karyawannya? Ternyata ada tiga hal bisa menjadi indikator keterikatan  seorang pekerja terhadap pekerjaannya. Yang pertama adalah sisi semangat atau vigor yang dimiliki oleh seorang pekerja. Ini terlihat dari tingkat energi dan ketahanan mental yang tinggi ketika individu menyelesaikan pekerjaan, keinginan untuk menanamkan semangat pada pekerjaan, serta tekun dalam menghadapi kesulitan yang ditemui saat bekerja. Indikator yang kedua yaitu dedikasi. Dedikasi yang kuat diperlihatkan seorang pekerja dengan proses identifikasi yang kuat pada pekerjaan. Ini meliputi perasaan antusiasme, inspirasi, kebanggaan, dan tantangan. Selanjutnya indikator ketiga adalah absorpsi. Bisa terlihat dari konsentrasi penuh dan perasaan senang yang dirasakan individu ketika sedang bekerja. Individu merasa waktu berjalan dengan cepat dan sulit meninggalkan pekerjaannya.Engaged-workplace

Hasil riset yang dilakukan oleh Quantum Workplace pada tahun 2013 di Amerika, menyimpulkan beberapa faktor yang mempengaruhi employee engagement seorang individu terhadap pekerjaan dan organisasinya. Diantaranya adalah :

  1. Teamwork yang kuat
  2. Rasa Percaya kepada Pimpinan
  3. Rasa Percaya kepada rekan kerja
  4. Kesamaan visi, misi dan tujuan.
  5. Penghargaan
  6. Gaji
  7. Kontribusi individu terhadap organisasi
  8. Kepuasan kerja
  9. Serta keuntungan lain yang didapatkan oleh karyawan.

Oleh karena itu, penting bagi suatu organisasi untuk mempertimbangkan beberapa faktor tersebut agar menghasilkan tim yang kuat serta para karyawan yang memiliki keterikatan yang kuat. Berikut sedikit cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan employee engagement yang dimiliki oleh staf atau karyawan anda. Pertama, ciptakanlah budaya yang merangsang keterikatan yang kuat. Seperti dengan memberikan peluang karyawan untuk megembangkan potensinya, penghargaan atau rasa terima kasih terhadap kinerja yang dihasilka, dan lainnya. Kedua, kenali tren bisnis yang sedang berkembang saat ini dan bisa lebih maju lagi dimasa yang akan datang. Hal ini bisa menumbuhkan minat dan keterikatan karyawan bekerja di perusahaan anda. Ketiga, jangan berhenti untuk menciptakan pemimpin yang memiliki keterikatan yang kuat. Pemimpin yang memiliki keterikatan kuat, secara otomatis akan membangun lingkungan kerja yang dapat merangsang tumbuhnya keterikatan bawahannya. Keempat, perhatikannya hal-hal mendasar yang harus dipenuhi oleh organisasi. Seperti kesejahteraan karyawan, lingkungan kerja yang nyaman, tim yang kooperatif dan hal dasar lainnya. Beberapa tips ini bisa dilakukan sebagai usaha untuk mencapai visi, misi serta tujuan organisasi anda.


Related Articles

Manajer

Setiap manajer memerlukan dua jenis kesuksesan yaitu kesuksesan perusahaan dan kesuksesan diri sendiri. Kesuksesan diri sendiri dan kesuksesan perusahaan walaupun

Toxic Leadership: Belajar dari Kasus Enron Corporations

Kebangkrutan Enron Corporations pada tahun 2001 merupakan tragedi kebangkrutan bisnis terbesar dalam sejarah negara adidaya, Amerika Serikat. Telisik para ahli

Bagaimana Memimpin Perubahan

Kolaborasi antara stakeholder, tim manajemen, dan pegawai yang menjadi pelaku perubahan mutlak diperlukan dan harus dilakukan secara efisien dan efektif.

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*