• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 18 October 2018

Dunning-Kruger Effect

Syahmuharnis

Syahmuharnis

Dalam mengelola sumberdaya manusia (SDM) kita sering menemukan adanya orang-orang yang menganggap dirinya kompeten, padahal sebenarnya yang bersangkutan tidak kompeten. Nah, fenomena semacam ini sering disebut dengan Dunning-Kruger Effect, yakni kecenderungan orang-orang yang tidak kompeten untuk memberikan penilaian lebih terha­dap keahlian dirinya.

Fenomena ini pertama kali diuji dalam serangkaian eksperimen yang dipublikasikan tahun 1999 oleh David Dunning dan Justin Kruger dari Department of Psychology, Cornell University. Studi ini diinspirasi oleh kasus McArthur Wheeler, seorang pria yang merampok 2 bank yang menutupi wajahnya dengan lumuran jus jeruk karena yakin bahwa hal itu akan mencegah wajahnya bisa terekam oleh kamera pengawas. Jelas saja keyakinan itu salah.

Dunning dan Kruger mencatat bahwa studi-studi sebelumnya menyimpulkan bahwa pengabaian terhadap standar kinerja bertumpu kepada banyaknya asesmen kompetensi diri yang tidak benar. Pola ini terlihat juga dalam studi-studi terhadap berbagai keahlian lain, seperti kemampuan membaca, mengo­perasikan sepeda motor, bermain catur atau tenis.

Dunning dan Kruger menyimpulkan, untuk beberapa keahlian, orang-orang yang tidak kompeten akan:
1. Cenderung berlebihan menilai level keahliannya
2. Gagal untuk mengenali keahlian diri orang lain
3. Gagal untuk mengenali aspek buruk dari ketidakcakapannya
4. Mengenali dan mengakui kekurangan keahlian diri sebelumnya bilamana mereka mengikuti training terkait keahlian tersebut

Efek Dunning-Kruger adalah bias kognitif yang muncul pada individu-individu yang tidak cakap akibat merasa superior (illusory superiority) sehingga salah memberikan penilaian atas kemampuan diri sendiri yang melebihi dari apa yang sebenarnya. Bias tersebut muncul karena adanya ketidakmampuan kognitif (metacognitive) dari orang-orang yang tidak kompeten untuk mengenali kelemahan keahlian dirinya.Dunning-kruger

“Miskalibrasi dari ketidakmampuan ini (misscalibration of the incompetent) berasal dari kesalah­an menilai diri sendiri, dan miskalibrasi terhadap kompetensi tinggi (misscalibration of the highly competent) bersumber dari kesalahan menilai orang lain,” ujar Dunning dan Kruger menyimpulkan. Dunning menambahkan, “Jika Anda tidak kompeten, Anda tidak akan tahu bahwa Anda tidak kompeten. Sebab, keahlian yang diperlukan untuk mendapatkan jawaban yang benar sejatinya adalah keahlian untuk mengetahui jawaban yang benar.”

Atas dasar temuan yang sama, Dunning kemudian membuat analogi, yang disebut dengan anosognosia dari kehidupan sehari-hari, pada kondisi di mana seseorang yang menderita cacat secara fisik karena kerusakan otak tetapi tidak menyadari atau mengingkari kondisi cacat tersebut, termasuk untuk cacat berat sekalipun, seperti kebutaan atau penyakit kejiwaan.

Dunning dan Kruger melakukan sejumlah peng­ujian terhadap hipotesa-hipotesa ini pada program sarjana pendidikan psikologi Cornell. Dalam sebuah rangkaian studi, mereka meneliti subyek asesmen diri mencakup keahlian membuat alasan yang logis, keahlian grammar, dan humor. Setelah masing-ma­sing mahasiswa memperlihatkan skor ujiannya, subyek yang sama kembali diajukan untuk memperkirakan ranking masing-masing.

Hasilnya mengejutkan: kelompok yang kompeten secara akurat memperkirakan rating keahlian mereka, sementara kelompok yang tidak kompeten tetap saja menilai lebih kompetensi mereka. Dari 4 studi yang dilakukan, Dunning dan Kruger menemukan bahwa para partisipan yang memberikan nilai dari ujian grammar, humor, dan kemampuan berpikir logis pada seperempat kelompok terbawah melebih-lebihkan kinerja dan kemampuan mereka. Walaupun nilai mereka berada pada 12 persen terbawah, mereka menilai diri mereka pada kelompok 62 persen tertinggi.

Hal sebaliknya, orang-orang yang kompeten secara relatif cenderung memberikan penilaian lebih rendah terhadap kompetensi mereka. Secara kasar, partisipan yang menilai tugas-tugas tersebut relatif mudah mereka kerjakan juga meyakini bahwa tugas-tugas tersebut juga mudah dikerjakan oleh orang lain.

Sebuah studi lanjutan menyimpulkan bahwa mahasiswa-mahasiswa yang tidak kompeten meningkat kemampuannya dalam mengukur rating kompetensi mereka setelah diberikan pelatihan pada keahlian-keahlian yang tadinya mereka kurang, terlepas dari rendahnya peningkatan dari keahlian aktual mereka.

Tahun 2003, Dunning dan Joyce Ehrlinger, juga dosen Cornell University, mempublikasikan sebuah studi yang mendetilkan pergeseran pandangan orang terhadap diri mereka ketika dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Partisipan dari studi ini, yakni mahasiswa S-1 Cornell University, yakni dengan diberikan ujian pengetahuan tentang geografi.

Beberapa dari ujian tersebut dimaksudkan untuk mempengaruhi pandangan terhadap diri mereka secara positif, dan beberapa lainnya secara negatif. Kemudian, mereka diminta menilai kinerja mereka. Hasilnya, mereka-mereka yang diberikan test secara positif melaporkan adanya kinerja yang lebih baik secara signifikan ketimbang mereka-mereka yang diberikan test negatif.

Riset yang dilaksanakan oleh Burson tahun 2006 untuk menguji salah satu dari hipotesa kunci ditampilkan oleh Kruger dan Muller dalam tulisan berjudul “Unskilled, Unaware, or Both?” Berdasarkan pengukuran statistik, Burson menyimpulkan bahwa semua orang pada seluruh level kinerja sama-sama buruk dalam memberikan penilaian kinerja diri me­reka secara relatif. Dalam upaya menguji hipotesa ini lebih lanjut, Kruger dan Muller melakukan investigasi terhadap 3 kelompok mahasiswa berbeda, yang memanipulasi penilaian terhadap tingkat kesulitan tugas yang diberikan kepada mereka.

Mereka menemukan, saat diberikan tugas dengan tingkat kesulitan sedang, orang-orang yang berkinerja tinggi maupun rendah hanya berbeda sedikit untuk secara akurat mengukur kinerja mereka. Saat diberikan tugas yang lebih sulit, mereka yang tergolong berkinerja tinggi kurang akurat memperkirakan kinerja mereka dibandingkan dengan mereka yang tergolong berkinerja rendah. Mereka menyimpulkan bahwa memberikan penilaian pada setiap level keah­lian berkemungkinan akan memiliki derajat eror yang hampir sama.

Perlu pula disadari bahwa studi tentang efek Dunning-Kruger cenderung berfokus kepada orang-orang Amerika. Studi serupa dengan sasaran orang-orang Asia Timur menyimpulkan hal yang berbeda dengan efek Dunning-Kruger. Saat diminta melakukan asesmen diri mereka, orang-orang Asia Timur cenderung merendahkan penilaian terhadap kompetensi diri mereka, dan melihat kinerja yang rendah sebagai peluang untuk mengembangkan diri mereka. Artinya, orang Asia Timur cenderung tidak mau menonjolkan dirinya, kendatipun sebenarnya mereka termasuk orang-orang yang berkemampuan.


No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*