• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 22 July 2018

Darwan Tirtayasa: Semua Sudah Terlaksana

Darwan Tirtayasa: Semua Sudah Terlaksana

FIF-550Darwan Tirtayasa boleh berbangga hati. Selama 26 tahun lebih ikut terlibat dalam mengelola Federal International Finance (FIF), ia dan seluruh tim FIF berhasil meningkatkan pendapatan dengan membiayai penjualan sepeda motor lebih dari Rp 20 triliun.

Siapa yang tak kenal FIF? Perusahaan yang berdiri pada 1991 dengan nama awal PT. Mitrapusaka Artha Finance dan pada 1996 berubah nama menjadi PT. Federal International Finance (FIF), dan mayoritas sahamnya dikuasai oleh PT. Astra International dari Grup Astra ini, bergerak dalam bidang pembiayaan sepeda motor dengan produknya FIF UMC yang khusus memberikan pembiayaan untuk sepeda motor merk Honda yang diproduksi oleh PT. Astra Honda Motor yang juga anak Grup Astra. Kemudian FIF mengembangkan bisnisnya ke pembiayaan produk elektronik melalui FIF Spektra tahun 2006 lalu dan pembiayaan syariah melalui FIF Syariah. FIF memperoleh  dukungan pendanaan dari Bank Permata, yang juga merupakan anak perusahaan Astra Grup.

Hingga akhir tahun 2014 lalu, FIF membidik pembiayaan atau leasing hingga Rp20 triliun dengan terbagi dalam Rp 9 triliun untuk pembiayaan untuk motor baru dan pembiayaan motor bekas mencapai Rp 1,3 triliun. “Tahun ini kami akan lebih ke ekspansi network. Beberapa wilayah yang masih terbuka peluangnya adalah Sumatera termasuk Batam. Sayangnya infrastrukturnya belum terlalu baik jadi tertunda. Sulawesi juga bagus, demikian juga Kalimantan walaupun banyak imigran dari Pulau Jawa asalkan infrastrukturnya bagus,” ujar pria yang menjabat sebagai President Director PT Astra Multi Finance (FIF Group). Hingga saat ini market share FIF untuk pembiayaan sepeda motor merk Honda mencapai 11 persen. Pulau Jawa masih mendominasi dengan share 45 persen diikuti Sumatera sebesar 25 persen dan sisanya tersebar di seluruh Indonesia.

Sementara itu, untuk unit FIF syariah juga menunjukkan pertumbuhan hingga 100 persen dibanding tahun lalu meskipun kontribusinya secara keseluruhan masih terbilang kecil yaitu hanya sekira 4-5 persen. Unit syariah tahun ini pertumbuhan luar biasa. Kontribusi masih 4-5 persen, tapi ini naik 100 persen di banding tahun lalu kontribusi booking. Nilai penjualan motor baru hingga Juli Rp 520 miliar, motor bekas Rp14 miliar, dan spektra Rp 26 miliar. Kenapa idenya ke pembiayaan elektronik? “Begini, kami melihat sepeda motor dulu. Jalurnya karena itu diproduksi oleh saudara kami juga dari Group Astra. Otomatis semua jaringan sudah nge-link sehingga biayanya lebih efisien ketimbang kami harus membiayai produk yang bukan dari kami sendiri,” ujarnya.

Keunggulan FIF dibandingkan dengan lain adalah produk yang dibiayai berkualitas dan pelayanan yang memuaskan.  “Memang kalau dibandingkan dengan elektronik, lebih mature di industri sepeda motor. Alasannya, kalau untuk sepeda motor, jarang yang beli cash karna harganya yang lebih mahal mulai dari Rp13 juta dibandingkan dengan elektronik yang harganya sekitar Rp 3 juta sehingga biasanya lebih banyak yang memilih untuk membeli secara kredit,” tuturnya. Selain itu,  industri sepeda motor berkembang pesat dari tahun ke tahun karena kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi yang murah dan cepat meningkat. Karena itu, kendati pembiayaan elektronik sudah dilakukan dari tahun 2006, ia mengakui bahwa FIF masih belum terlalu fokus. Namun seiring berjalannya waktu, FIF semakin serius menangani pembiayaan elektronik sehingga dari sisi pembiayaan elektronik mulai mengalami peningkatan.

Untuk sampai ke level tingkat pembiayaan yang signifikan, FIF melakukan berbagai hal termasuk melakukan pelayanan berkualitas. Ia menambahkan, pelayanan bukan hanya difokuskan kepada mitra kerja dan pengguna jasa FIF saja, tetapi karyawan pun menjadi bagian penting dari layanan yang diberikan. Guna mencapai itu semua, ia membentuk berbagai program untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi karyawan. Pengembangan kemampuan dilakukan dengan  pendidikan dan pelatihan, sedangkan motivasi bisa diwujudkan lewat kegiatan-kegiatan yang bersinggungan dengan sisi emosi dan fisiologis. Kegiatan ini mempunyai makna agar karyawan merasa dihargai, memiliki nilai dan spirit yang sama dan akhirnya karyawan memiliki hasrat untuk memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan visi misi FIF adalah membuat customer memiliki hidup yang lebih baik sesuai dengan slogan “For a better future”. “Dengan adanya motor, mobilitas masyarakat menjadi lebih bertambah. Tidak hanya customer, tapi juga karyawan. Semua saling berkesinambungan dan memberikan keuntungan lebih untuk karyawan dan customer,” ujar pria yang gemar berolahraga golf dan jalan kaki di kala senggang.Darwan

Ia juga selalu menekankan kepada karyawan untuk memiliki semangat sesuai dengan value FIF yaitu team work, excellence, achieving, dan moving forward. Value Team Work adalah untuk mendorong semua orang untuk bekerja sama berdasarkan saling menghormati, berpikir positif, dan kepentingan perusahaan untuk menghasilkan kinerja yang optimal. Excellence, yaitu value untuk mendorong semua orang untuk memprioritaskan pelayanan yang superior kepada para pelanggan eksternal dan internal melalui sederhana, proses mudah dan kualitas berdasarkan sikap pro-aktif dalam melaksanakan perbaikan berkelanjutan.

Sedangkan achieving, mendorong semua orang untuk menumbuhkan integritas dan berkomitmen untuk terus mencapai peningkatan kinerja yang optimal dengan mengutamakan profesionalisme untuk menghasilkan inovasi. Dan moving forward adalah mendorong semua orang untuk menjadi sensitif dan responsif terhadap perubahan dan melihat jauh ke depan dalam merancang dan membuat perubahan strategis. Darwan selalu menanamkan semangat untuk melayani nasabah tanpa saling gontok-gontokan. Boleh bersaing, tapi tetap tidak boleh asal, ada aturan mainnya. “Kan ada yang maunya perang-perangan dengan competitor. Buat saya, bisnis itu jangan hanya melihat competitor, tapi juga harus menjadi partner. Saya selalu tekankan ke karyawan, bahwa bisnis kita adalah bisnis jasa. Kalau namanya jasa, kita harus lebih memiliki jiwa pelayanan, jiwa untuk melayani customer. Dan karyawan harus punya passion untuk melayani customer. Makanya kita harus lebih aktif, kreatif dan inovatif sehingga bisa melayani customer dengan baik,” tegas pria jebolah Sekolah TInggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) jurusan Ekonomi.

Di samping menceritakan tentang keberhasilan FIF, Darwan pun menceritakan perjalanan karirnya ketika pertama kali menjejakkan kakinya di Astra Group. “Siapa yang tak mengenal Astra? Astra dikenal sebagai gundangnya ilmu. Saya tertarik bekerja di Astra sejak masih duduk di bangku kuliah,” senyum Darwan mengembang saat bercerita. Pria yang mulai bekerja di sebuah perusahaan saat masih kuliah ini akhirnya bisa mewujudkan impiannya saat mengetahui bahwa dirinya diterima bekerja di Astra Group sebagai staf setelah lulus kuliah.

Kini, 26 tahun lebih sudah ia mengabdikan dirinya di Astra Group. Banyak suka dan duka yang ia rasakan, serta banyak pula perubahan yang ia dapatkan. Satu hal yang tidak pernah berubah adalah dalam hal manajemen, “Perubahannya, dulu saya banyak kenal orang-orangnya. Sekarang banyak yang tidak kenal, hahaha,” ujarnya sambil tertawa. Perbedaan ini yang membuat Darwan mencoba membaur dengan mereka yang berasal dari Gen X dan Gen Y. “Saya banyak belajar bahasa gaul mereka. Selain itu, generasi mereka ini gadget mania,” tambahnya. Darwan tidak menampik jika di mana suka, pasti ada yang tidak duka. Menurutnya, sebuah bisnis tidak setiap saat berjalan mulus sehingga ia dan seluruh tim harus mempertahankan bisnis ketika kondisi perekonomian Indonesia  sedang tidak bagus.

Ketika disinggung apakah ada obsesinya yang belum tercapai, dengan tersenyum ia menjawab bahwa semua sudah terlaksana. Kendati demikian, ada beberapa hal yang sulit yang ia rasakan. “Saya melihat, menciptakan orang yang mirip dengan kita, misalnya dalam hal pemikiran dan kompetensi itu tidak mudah. Jadi Saya harus lebih keras dalam melakukan hal itu,” akunya. Kepuasannya muncul jika ada yang bisa menggantikan posisi tertentu yang kosong karena ada yang naik jabatan atau mengundurkan diri. Yang ia sayangkan adalah ketika tingkat turn over yang tinggi di level managerial ke bawah akibat tergiur oleh besarnya kompensasi yang diberikan competitor. “Tapi banyak pula yang ingin balik lagi ke Astra. Tapi itu tidak mungkin karena posisi tersebut pasti sudah terisi,” kata pria yang hobi membaca buku dan selalu menanamkan ke karyawan untuk selalu membaca buku. Ke depan, Darwan masih berharap banyak potensi dan peluang yang bisa dilakukan FIF. “Kalau ada trend dan itu memungkinkan, bisa saja nanti FIF akan ke arah itu,” ucapnya. (Ratri Suyani)


Related Articles

Pepey Riawati Kurnia : This is My Passion

Berkecimpung di dunia  Research and Development (R&D) menciptakan kepuasan tersendiri tersendiri bagi Drh. Pepey Riawati Kurnia, MM, PhD, salah satu

Potret Diri Setiap Karyawan

Kinerja ekselen perusahaan berplat merah kini semakin gencar digaungkan. Hal ini sejalan dengan ditetapkannya kinerja BUMN berbasis Kriteria Kinerja Ekselen

Drs. Pujianto Apt. MM: Transformasi Bisnis Kimia Farma Hadapi Persaingan Global

Lima tahun terakhir, PT. Kimia Farma gencar melakukan transformasi bisnis  dari  yang semula sebagai pharmaceutical company menjadi health care company.

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*