• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 15 August 2018

Corporate Intermediate Value Added

harnis baruPara pakar dan kalangan korporasi kelas dunia telah memastikan bahwa sumber­daya manusia (SDM) yang kompeten merupakan aset utama (hu­man capital) organisasi. Penciptaan nilai (value creation)dalam organisasi dimulai dengan pengembangan SDM. Setelah kompetensi SDM meningkat, maka mereka bisa menjalankan seluruh pekerjaan mereka secara profesional. Namun, kompleksitas bisnis dan jenis usaha yang beragam menyebabkan perusahaan kesulitan mengidentifikasi nilai tambah antara (intermediate value added) yang bisa menjadi ukuran keber­hasilan perusahaan sebelum berujung kepada kepuasan dan loyalitas pelang­gan serta pendapatan dan laba perusa­haan.

Setiap fungsi dalam organisasi memiliki sejumlah matriks operasional, baik di bidang produksi, penjualan ataupun layanan. Kesulitan baru mun­cul saat kita menurunkannya kepada kelompok staf. Kita sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan matriks yang bisa menjelaskan seberapa efisien dan efektif sebuah unit. Sistem akun­tansi, misalnya, bisa menjelaskan segala sesuatu terkait dengan Laba/Rugi. Semestinya ada metodologi dasar yang sama untuk manajemen proses peru­sahaan. Ini yang sering disebut dengan matriks kinerja (performance matrix).

Dalam berbagai ragam bisnis mau­pun kehidupan pribadi, keberhasilan dari proses biasanya ditunjukkan dalam aspek biaya, waktu, kuantitas, error, dan, bahkan, reaksi. Berikut adalah 5 cara untuk mengevaluasi segala sesuatu dalam organisasi dan kehidupan:

  1. Berapa biayanya?;
  2. Berapa lama prosesnya?;
  3. Berapa banyak yang sudah dicapai?;
  4. Berapa banyak error atau produk ca­cat yang terjadi dalam proses?;
  5. Bagaimana seseorang bereaksi terhadapnya?

Matriks kinerja tersebut memberi­kan kepada kita 3 kriteria dasar dalam mengevaluasi nilai tambah antara: layanan (service), kualitas (quality), dan produktifitas (productivity). Di dalam bisnis, ketiganya merupakan elemen utama. Para peneliti menyebut­nya sebagai variabel terikat (dependent variable). Ketiganya merupakan ukuran keberhasilan untuk menghasilkan daya saing kompetitif, dan juga profitabilitas – salah satu tujuan utama perusahaan. Walaupun ketiganya seperti terpisah-pi­sah, dalam kenyataannya mereka saling terkait satu sama lain.

Sebagai contoh, sulit membayang­kan perusahaan punya pelayanan yang bagus tetapi memiliki produk yang luar biasa mahal namun berkualitas rendah. Begitu pula, peningkatan kualitas akan mengurangi biaya per unit produk atau jasa karena tidak perlu untuk didaur ulang. Artinya, sebelum berujung ke­pada pendapatan dan laba (lagging in­dicator), perusahaan bisa menggunakan 3 indikator manajemen proses ini untuk memperkirakan apakah perusahaan kelak akan mencapai target pendapatan dan laba yang sudah disusun. Maka itu, pelayanan, kualitas, dan produktifitas merupakan leading indicator atau in­dikator proses. Kalau indikator pelayan­an, kualitas, dan produktifitas tercapai, maka ada harapan besar pendapatan dan laba perusahaan juga baik.


Related Articles

Tips Mempertahankan Talent Potensial

“A great employee is like a four leaf clover, hard to find and lucky to have.” -Tammy Cohen- Memiliki talent potensial

Membangun Tim Impian Anda

Final liga Champion Eropa tahun 2011 telah menghasilkan klub asal Spanyol, Barcelona sebagai juara setelah mengandaskan tim dari Inggris, Manchester

Attitude vs skill, supplement for benefits

Sudah menjadi kebiasaan bagi seorang CEO, setelah resmi diangkat dan dilantik ,langsung saja keesokan harinya mengadakan kunjungan ke semua subordinatenya,

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*