• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 20 February 2018

Behavioral Event Interview : Tidak Hanya Sekedar Bertanya, Tapi Perlu Persiapan.

Anggita H. Panjaitan Senior Executive, First Asia Consultants.

Anggita H. Panjaitan
Senior Executive, First Asia Consultants.

Menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, di waktu yang tepat, adalah salah satu tuntutan kerja Praktisi HR. Sejalan dengan perkembangan kompleksitas posisi dan tuntutan kerja, terlihat bahwa latar belakang pendidikan serta titel sertifikasi yang dimiliki tidak lagi dijadikan satu-satunya acuan untuk menilai kompetensi pekerja. Dibutuhkan kejelian serta metode yang tepat untuk melihat apakah keputusan untuk mempekerjakan kandidat tersebut tepat.

Sehubungan dengan kebutuhan ini, selain tes psikometrik, wawancara adalah metode yang digunakan untuk melengkapi proses seleksi. Metode wawancara sendiri berkembang dari waktu ke waktu sesuai perkembangan organisasi. Beberapa metode wawancara yang cukup dikenal adalah Traditional Interview dan Behavioral Event Interview.

Berbeda dengan Traditional Interview yang kurang terstruktur dan bersifat general, Behavioral Event Interview disusun terstruktur dan spesifik sesuai dengan kompetensi yang digali. Mengacu pada prinsip “Kinerja Di Masa Lalu Adalah Prediktor Terbaik Atas Perilaku Di Masa Depan”, Behavioral Event Interview menggunakan perilaku yang muncul dalam proses kerja di masa lalu untuk menilai kompetensi yang dimiliki kandidat.

Pertanyaan dalam Behavioral Event Interview cukup spesifik. Pola pertanyaan yang digunakan pun mengacu pada prinsip Situation, Task, Action, dan Result (STAR). Prinsip ini membantu Interviewer  melihat scope tanggungjawab, peran, keterlibatan, hingga hasil dari tindakan Kandidat di masa lalu. Dalam proses Interview, interviewer harus memastikan bahwa setiap bagian dari STAR telah digali dengan lengkap, untuk memudahkan penilaian atas kompetensi Kandidat.

Beberapa kendala yang dihadapi para Interviewer pemula adalah bagaimana merumuskan pertanyaan yang tepat untuk menggali informasi dari interviewee. Oleh karena itu, sebelum memulai proses interview, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, diantaranya job description posisi yang dituju, kompetensi yang dibutuhkan untuk posisi tersebut, panduan wawancara dengan prinsip STAR sesuai dengan kompetensi, juga alat perekam dan catatan untuk menuliskan jawaban Interviewee.

Sementara itu dalam proses interview, seringkali para Interviewer pemula kesulitan menemukan pertanyaan yang mengarah pada penggalian kompetensi. Mengenai kesulitan ini, sebaiknya Interviewer mulai dari scope tanggungjawab tugas yang telah dijalani Interviewee, kemudian menggali berbagai tanggungjawab serta tantangan tugas yang pernah dihadapi. Arahkan pertanyaan kepada kejadian atau situasi spesifik, lakukan probing untuk mengetahui keterlibatan interviewee di dalamnya. Beberapa bentuk pertanyaan yang bisa digunakan seperti: “Ceritakan kejadian saat anda harus mengambil keputusan penting”, “Ceritakan secara spesifik yang terjadi dalam meeting tersebut”, “Dalam situasi itu, uraikan tindakan yang Anda lakukan”. Pastikan bahwa  Pertanyaan  lebih  berorientasi  pada  What,  When,  Where, Who dan How.

Dari sudut pandang yang berbeda, prinsip “Kinerja Di Masa Lalu Adalah Prediktor Terbaik Atas Perilaku Di Masa Depan” juga mengundang beberapa pertanyaan. Bagaimana dengan situasi dimana kandidat mengalami kegagalan dalam hasil kerjanya di masa lalu, dengan demikian apakah ia akan mengalami kegagalan di masa depan?

Berkaitan dengan pertanyaan itu, sebaiknya kita tidak berhenti pada STAR dalam melakukan probing. Tambahkan aspek Learning (L), untuk melihat hal apa yang dipelajari oleh kandidat melalui kegagalannya. Contoh pertanyaan yang dapat diberikan seperti: “Pelajaran apa yang telah Anda petik dari masalah tersebut?”, “Apa kesalahan yang menyebabkan kegagalan pada hal itu?”, “Apa hal sudah Anda perbaiki untuk menghindari kegagalan yang sama terjadi kembali?”. Dengan pertanyaan tersebut, diharapkan Interviewer melihat apakah kandidat telah melalui proses belajar dari kegagalannya terdahulu.

Oleh: Anggita H. Panjaitan
Senior Executive, First Asia Consultants.


Related Articles

Evaluasi Menuju HRVA

Istilah EVA (Economic Value Added)sudah sangat sering kita dengar. Istilah ini menjelaskan seberapa hebat sebuah perusahaan menciptakan nilai tambah secara ekonomi.

Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)

Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang KETENAGAKERJAAN sudah berjalan 10 tahun lebih. Perjalanan Undang-Undang ini pada hakekatnya sesuai dengan teori

Kebersamaan Dalam Satu Strategi

Pada suatu ketika, sebuah korporasi sedang dalam ancaman serius dari ‘kompetitor utama’, yang akan segera launching produk barunya dipasar domestik.

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*