Bakat Saja Tidak Cukup

Gani Gunawan Djong

Gani Gunawan Djong

Anda tentu ingat kisah tentang tenggelamnya Kapal Titanic pada tanggal 4 April 1912, yang sempat di layar lebarkan beberapa tahun silam. Kapal besar yang oleh sang kaptennya dikatakan bahwa Tuhan sekalipun tidak bisa menenggelamkan kapal tersebut, namun dalam kenyataannya kapal tersebut tenggelam setelah mereka meremehkan kekuatan gunung es, walaupun sudah menerima pesan keenam pada waktu dini hari berikutnya. Pesan “Waspadalah terhadap gunung es” hanya dibalas dengan telegram balik “Diam ! Aku sedang sibuk“, Ya mereka terlalu mengandalkan dan percaya pada kekuatan mereka sendiri. Itulah gambaran yang begitu tepat untuk begitu banyak orang pada masa kini. Begitu banyak orang-orang yang berbakat yang berhasil mencapai kemasyhuran, namun mereka telah mengabaikan untuk mengembangkan karakter yang kuat, yang akhirnya menjatuhkan mereka, karena mengambil jalan pintas.

Seperti dalam kisah di atas, saat kita memandang sebuah gunung es, hanya 15% yang nampak itulah yang dikenal sebagai bakat, sedangkan sisanya yang berada di bawah permukaan yang tersembunyi adalah karakter, itulah hal-hal yang mereka lakukan saat tidak seorangpun memperhatikan mereka, itu pula yang mereka pikirkan dan tidak pernah mereka ceritakan kepada orang lain. Itulah juga reaksi mereka ketika mereka mengha­dapi kegagalan maupun mengalami keberhasilan. Semakin besar bakat mereka, maka semakin besar kebutuhan mereka akan karakter yang kuat untuk menopang mereka.talent-compas_450

Lantas bagaimana kita dapat menyusun Karakter yang kuat? John C Maxwell, seorang pembicara Kepemimpinan pernah mengatakan bahwa ada 4 (empat ) unsur untuk dapat menjadikan seseorang dapat menyusun karakternya dengan kuat yakni sebagai berikut :

Disiplin Diri
Merupakan suatu kemampuan untuk melakukan apa yang benar, bahkan pada saat anda tidak merasa ingin melakukannya. Filsuf Yunani, Plato pernah mengatakan bahwa “ Kemenangan pertama dan terbaik adalah menaklukkan diri sendiri“. Hanya mereka yang memiliki “disiplin diri” dapat menyadari potensi maksimalnya, bahkan seorang pendaki gunung yang terkenal Sir Edmund Hillary menyaksikan bahwa “bukan gunung-gunung yang dia taklukkan, namun dirinya sendiri”.

Peristiwa terakhir yang menarik perhatian para penonton Piala Dunia 2014 adalah apa yang telah terjadi dengan salah satu bintang sepakbola termahal didunia Luis Suarez yang ketika membela negaranya Uruguay menggigit telinga pemain lawannya dari Italia, dan ini merupakan peristiwa ketiga yang dilakukannya dengan cara yang sama terhadap pemain-pemain bertahan yang mencoba untuk melaju serangannya ke gawang lawan. Namun beruntung dia masih mendapat kesempatan untuk bergabung dengan tim elit Barcelona, walaupun saat ini dia belum dapat bermain untuk klub barunya untuk sementara waktu.

Nilai-Nilai Inti
Setiap orang dalam menjalani kehidupannya pasti memiliki nilai-nilai inti atau prinsip-prinsip yang dipercayainya dan hal ini seyoganya kita tuliskan dan menjadi kompas yang akan menuntun jalan kita. Tanpa nilai-nilai inti, setiap orang akan menjadi budak dari lingkungannya, karena tidak memberikan susunan dan struktur pada kehidupan dalam diri seseorang. Hanya orang yang memiliki nilai-nilai inti tidak perlu khawatir dan resah dengan hal-hal dan masalah-masalah apapun yang dilemparkan kepadanya, karena dia memiliki navigator dalam dirinya.

Identitas Diri
Dalam pelatihan-pelatihan motivasi, kami se­ring kali memberikan satu pertanyaan yang harus direnungkan kepada peserta yakni : “ Siapakah aku? “. Melalui pertanyaan ini akan menolong para peserta untuk dapat mengidentifikasikan dirinya sendiri. Juga akan memberikan suatu jawaban dari manakah nilai-nilai pribadi mereka datang? Apakah motivasi diri mereka yang sebenarnya? Belajar untuk memahami pandangan yang benar terhadap diri mereka sendiri. Dan tentu saja pada akhirnya mereka akan menyadari bahwa di dalam diri mereka ada nilai-nilai hakiki dan bukan hanya sekedar menjadi korban dalam kehidupan ini.

Integritas
Merupakan komponen terakhir dalam pembentukan karakter yang kuat, yang merupakan penyesuaian terhadap nilai-nilai, pemikiran, perasaan dan tindakan, dan hanya orang-orang yang mempunyai konsistensi yang datang dengan integritas yang kuat, seperti halnya seorang Mahatma Gandhi, karena ketika dia berbicara, dia tidak memerlukan catatan, karena apa yang dia katakan adalah apa yang dia pikirkan, dia rasakan, dan dia lakukan dan ini semua berasal dari nilai-nilai yang dianutnya. Dan sebaliknya jika ada beberapa pemimpin yang tidak melakukan ke empat hal yakni nilai-nilai, pemikiran, perasaan dan tindakan secara konsisten akan menimbulkan banyak kebingungan dan konflik-konflik internal seperti yang kita saksikan dalam beberapa tayangan televisi akhir-akhir ini di negeri yang kita cintai ini.
Selamat Mencoba.

“Karakter adalah jumlah total dari semua pilihan kita setiap hari “ – Margaret Jensen

Gani Gunawan Djong, ICM, ICC, Senior Director, LMI  (Leadership Management International)


Related Articles

Mekanisme Penghitungan Pajak Penghasilan Atas WNA

Bagaimana perbedaan ketentuanwithholding tax (pemotongan) PPh 21 terhadap karyawan asing yangpertama sifatnya adalah estimasi (asumsi ia mulai berada di Indonesia sejak AWAL

Pemetaan Potensi

Menyusun perencanaan penjualan dan produksi berdasarkan ramalan penjualan merupakan kegiatan yang sangat biasa dilakukan dalam dunia bisnis. Bersamaan dengan proses

PERFORMANCE MANAGEMENT

Tidak melaksanakan Performance Appraisal / Penilaian Prestasi Kerja (PPK) akan menciptakan karyawan golongan “dead wood” diperusahaan. Bagaimana HRD menyikapinya? Tulisan

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*