• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 22 January 2018

Alasan Kegagalan Pelatihan Kepemimpinan

Enrico-danielPengembangan kompetensi dan produktivitas SDM merupakan salah satu elemen kunci untuk memastikan bahwa roda bisnis terus berjalan dan bergerak ke level yang lebih tinggi. Itulah kenapa banyak perusahaan mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk memberikan program pelatihan dan pengembangan bagi karyawannya, termasuk program pengembangan kepemimpinan.

Namun program pengembangan kepemimpinan yang menelan dana besar setiap tahun itu tidak semua yang berhasil dan memberi dampak signifikan bagi perusahaan. Kenapa ini bisa terjadi?

1. Kembali pada kebiasaan lama dalam memimpin

Program pelatihan kepemimpinan selama 2-3 hari belum mampu mengubah kompetensi dan kebiasaan lamanya dalam memimpin. Sehingga setelah kelas pelatihan selesai, peserta yang kembali ke pekerjaanya juga kembali memimpin seperti kebiasaan lamanya, tidak banyak ilmu dari pelatihan yang mampu dia terapkan langsung.

2. Tidak ada konsistensi dalam follow up & tidak diberi kesempatan menerapkan

Hampir semua Divisi SDM / atasan Langsung para peserta tidak konsisten memberikan perhatian untuk melakukan follow up pasca kegiatan pelatihan (post training monitoring). Padahal follow up pasca pelatihan sangat memberikan dampak untuk menentukan berhasil / tidaknya suatu pelatihan.

Di samping itu ketika para peserta ini kembali pada pekerjaannya, mereka tidak ditambahkan keleluasaan untuk melakukan atau mengajukan perubahan seperti yang mereka pelajari di kelas.

3. Hambatan internal perusahaan

Program pelatihan kepemimpinan yang diikuti tidak selalu dapat diterapkan langsung pada perusahaan kita. Karena setiap perusahaan mempunyai hambatan internal berbeda-beda, seperti kurangnya koordinasi antar divisi dan fungsi, kurang jelasnya arahan, value dan strategi perusahaan, serta gaya kepemimpinan yang top-down. Atau misalnya atasan langsung mereka sendiri belum mempunyai konsep yang sama dan sejalan dengan yang mereka dapatkan di kelas pelatihan, sehingga peserta terbatas dalam bertindak.

Akibat dari hal tersebut di atas, peserta hanya mengenang gegap gempita kegiatan pelatihan dalam hitungan minggu atau bahkan hari.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk bisa mendapatkan hasil maksimal dari pelatihan kepemimpinan?

1. Membuat pelatihan secara “in house” dengan melakukan leadership style mapping.

Mengingat karakteristik setiap perusahaan berbeda-beda, maka langkah paling tepat adalah mendesain pelatihan kepemimpinan sesuai dengan kondisi perusahaan tersebut. Dengan begitu output pelatihan akan langsung dirasakan dampaknya oleh perusahaan.  Peserta diperlengkapi dengan kemampuan yang memang dia butuhkan dalam memimpin bagiannya. Sebelum menjalankan pelatihan ada baiknya mencari tahu terlebih dulu bagaimana kecenderungan gaya peserta dalam memimpin dan budaya kepemimpinan seperti apa yang diperlukan untuk bisnis mereka agar pelatihannya tepat sesuai dengan kondisi peserta dan tujuan perusahaan.

2. Kegiatan pelatihan disertai dengan skema monitoring yang jelas dan konsistenkepemimpinan-yang-gagal-2

Kegiatan pelatihan sejatinya hanyalah sebuah awal, bukan akhir dari sebuah proses pembelajaran. Kegiatan pelatihan – betapapun bagus isi dan fasilitatornya – tidak akan pernah mampu mengubah perilaku dan kompetensi, tanpa disertai dengan follow up yang sistematis dan konsisten. Skema monitoring yang jelas harus sudah dirancang bahkan sejak sebelum kegiatan pelatihan dimulai yang isinya menguraikan action plan secara lengkap dan detil untuk mengaplikasikan materi training yang telah diterima dalam kesehariannya memimpin. Misalnya dalam hal kerjasama tim, bagaimana mereka berkomunikasi satu dengan yang lainnya, atau bagaimana mereka menyusun dan mengalokasikan tugas. Akan lebih baik lagi jika proses follow up pelatihan yang sistematis tersebut disertai dengan menambahkan KPI baru untuk mengukur dampak perubahan perilaku peserta sesuai tujuan training.

3. Materi pelatihan harus diberikan sampai pimpinan level tertinggi di organisasi.

Peserta akan sangat sulit menerapkan action plan yang mereka buat di pelatihan  jika para pimpinan diatas mereka tidak memiliki pandangan yang sama. Jadi sangat penting program pelatihan kepemimpinan ini diberikan juga kepada atasan mereka, atau paling tidak program ini mendapat persetujuan atasan mereka sehingga dapat bergerak seirama.

Dengan begitu kegiatan pelatihan kepemimpinan tidak hanya acara yang sekedar diikuti tapi kegiatan pelatihan kepemimpinan ini menjadi motor yang meningkatkan kualitas pemimpin untuk membawa perusahaan ke masa depan  yang lebih cerah. (Enrico Daniel T., Assisten Manager People Development First Asia)


Related Articles

Jangan Malu, Jangan Takut, Jangan Ragu untuk Berubah

Namanya Nicholas Hayek. Orangnya sederhana dan ngomong apa adanya. Keturunan Libanon dan tinggal di Swiss, makanya dia lancar berbahasa Inggris,

Disepelekan Oleh Anak Buah

Anda sudah punya anak buah? Bagus jika sudah. Lantas, bagaimana sikap para anak buah itu kepada Anda? Apakah mereka menaruh

Memperbaiki Cara Memimpin Kita

Saya yakin Anda sepakat dengan pernyataan bahwa percaya diri merupakan salah satu kualitas penting bagi seorang pemimpin. Tanpa rasa percaya

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*