3 Global Mindset Untuk Para Global Talent Agar Bisa Bersaing

PPM-Global-TalentSumber daya perusahaan tidak hanya modal, bahan baku, dan teknologi saja. Melainkan talent yang mampu dimana persaingan bukan lagi dalam lingkup nasional melainkan internasional. Mereka adalah orang-orang pintar, melek teknologi, cerdik, tangkas bekerja. Talenta yang dibutuhkan bukan hanya yang mampu bersaing di pasar nasional tapi juga di pasar internasional. Istilah ini dikenal dengan nama professional global talent.

Pentingnya professional global talent bagi perusahaan terutama di era modern dimana persaingan bukan lagi dalam lingkup nasional melainkan dunia internasional ditegaskan pula oleh Jeami Gumilarsjah, Senior Advisor of Strategic Portfolio PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) di acara seminar bertajuk “Rekrutmen dan Pengembangan Professional Global Talent Indonesia” yang diadakan PPM Manajemen Jakarta, Rabu, 9 Agustus 2017 lalu. “Menjadi organisasi yang global membuat perusahaan harus menciptakan pula professional global talent karena daya saing tidak hanya sebatas pada sumber daya alam saja, tapi juga manusia,” ujarnya.

Ada dua hal yang membuat perusahaan harus go global yaitu proactive motivations dan reactive motivations. Proactive motivations biasanya terkait dengan profit yang jelas, produk-produk yang unik, teknologi, informasi yang eksklusif, dorongan manajerial, keuntungan pajak, dan skala ekonomi. sedangkan reactive motivations terkait dengan tekanan kompetitif, produksi yang berlebih, menurunnya tingkat penjualan dalam negeri,  kelebihan kapasitas, jenuh, dan Kedekatan dengan pelanggan dan pelabuhan pasar domestik.

Hal ini pula yang mendorong Telkom melakukan program international expansion. Tanpa program international expansion, Telkom tidak akan mampu meraih revenue double digit. Penyataan tersebut pernah disampaikan oleh Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) Arief Yahya terkait ekspansi bisnis yang sedang dilakukan Telkom ke berbagai negara. “Untuk mencapai double digit itu, selain inisiatif kita di dalam negeri, kita harus juga melakukan ekspansi internasional,” kata Jeami mengutip kalimat Dirut Telkom.

Secara umum, Telkom akan tetap fokus dengan portofolio-nya TIMES (Telecommunication, Information, Media, Education & Services). Kalau ada peluang TIMES yang menarik, maka Telkom jelas akan pertimbangkan untuk mengambilnya. Ada 4 strategi bisnis yang bisa diterapkan untuk melakukan program international expansion yaitu follow the money, follow the people, follow the traffic, dan follow the network. “Namun yang spesifik, ada dua strategi yang diterapkan Telkom, yakni business follow the people dan business follow the money,” kata pria yang pernah menjabat sebagai CEO Telkom Australia dan GM Corporate Planning PT Infomedia Nusantara ini.

Untuk business follow the people, Telkom melihat di mana masyarakat Indonesia itu berada, contohnya ekspansi ke Hongkong dimana terdapat sekitar 200 ribu orang Indonesia. Dari jumlah tersebut diyakini Telkom mampu memberikan layanan di sana sehingga orang Indonesia akan memilih produk dan layanan Indonesia juga.

Begitu pula dengan strategi business follow the money. Telkom menerapkan strategi ini di Australia sebagai salah satu negara yang memiliki gross domestic product tertinggi di dunia. Di Australia, Telkom tidak masuk melalui bisnis telekomunikasi melainkan salah satu unsur TIMES, yakni services melalui business process outsourcing (BPO) yang peluangnya masih terbuka lebar. Strategi-strategi seperti itu juga diterapkan ketika Telkom masuk ke Timor Leste dan Singapura.

Tantangan yang sangat mendasar yang dihadapi Telkom dalam melakukan ekspansi internasional adalah sumber daya manusia (SDM). Karena cita-cita Telkom adalah global, maka Telkom harus menyertifikasi diri dengan global standard. Oleh karena itu center of excellence dalam pengembangan SDM menjadi inisiatif strategis pertama dan utama. Telkom juga membuat program global talent bagi para karyawan. Orang yang menjalankan bisnis-bisnis Telkom di kancah internasional itu sebenarnya para global talent yang kini tersebar di berbagai negara.

Agar para global talent bisa berpikir global, perlu pula diciptakan global mindset. “global mindset merupakan esensi kepemimpinan dan ini membutuhkan orang-orang yang bisa berpikir secara global, orang-orang yang bisa membuat keputusan secara global, dan orang-orang yang dapat memahami tantangan dan peluang secara global dan bagaimana cara mengatasinya,” terang Jeami. Global mindset yang harus disiapkan sebagai modal utama global talent yaitu kemampuan intelektual, kemampuan psikologi, dan kemampuan sosial. “Kemampuan sosial juga  diperlukan mengingat saat global talent berada di sebuah negara yang memiliki kultural berbeda, maka global talent juga harus mampu mempelajari adat istiadat dan bahasa negara tersebut,” tambahnya kembali.  (Ratri Suyani)


Related Articles

Peran Baru Praktisi SDM Landskap Baru Bisnis Global

Perusahaan yang Sukses selalu ditandai oleh Suksesnya CEO (Chief Executive Officer) dalam mengelola bisnis serta suksesnya CHR (Chief Human Resources)

Employment Working Group Ke-IV Sepakat atasi Pengangguran Kaum Muda

Hari ini rangkaian Employment Working Group (EWG) ke-4 digelar, di Beijing, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang membahas draft deklarasi yang

DataOn 10th Annual Conference 2015, Seminar HR Terbesar di Indonesia

DataOn sukses menyelenggarakan Annual Conference. Dengan tema “Leap Forward with A Next Generation HR Management System” pada tanggal 1 April

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*