• 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 23 January 2018

1 dari 3 Pekerja Tidak Percaya Bos Mereka

own_bossPara pemimpin di berbagai organisasi di dunia memiliki masalah besar. Hampir 1 dari 3 pekerja ternyata tidak percaya kepada pemimpin mereka. Hal ini berdasarkan temuan dari Edelman Trust Barometer 2016, sebuah survei yang dilakukan kepada  33.000 karyawan dari berbagai perusahaan yang di 28 negara.

Menurut hasil survei yang dirilis awal tahun ini, sebanyak 64% para eksekutif percaya pada perusahaan tempat mereka bekerja, namun hanya 51% dari para manajer dan 48% karyawan yang mau membagikan kepercayaan tersebut. Semakin jauh hubungan para pekerja dengan para pemimpin senior mereka, maka semakin kurang pemahaman pekerja terhadap strategi perusahaan, peran mereka terhadap perusahaan dan bagaimana mereka dapat berkontribusi. “Hal ini dapat berkembang menjadi sebuah pemahaman yang skeptis dan pemutusan sepihak dari sebuah organisasi,” papar Christoper Hannegan, Vice Executive President & Lead Employee Engagement Business Edelman.

Ketimpangan pendapatan dan skandal perusahaan yang tinggi juga mengakibatkan munculnya “ganjalan” antara para pemimpin dengan pekerja. Selain itu, adanya platform di media sosial memberi angin segar bagi pekerja untuk membeberkan ketidakpercayaan mereka terhadap pemimpin mereka. Survei tersebut juga menunjukkan kesenjangan yang signifikan, seperti pekerja dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan pendapatan yang tinggi lebih jauh lebih percaya dibandingkan dengan pekerja secara umum.

Di Amerika Serikat sendiri, sebanyak 71% penduduk berpendapatan tinggi percaya terhadap beberapa lembaga seperti pemerintah, bisnis, media, dan lembaga swadaya masyarakat. Dan hanya 40% responden berpenghasilan rendah memiliki keyakinan seperti itu. Hannegan percaya bahwa kurangnya kepercayaan ini memunculkan kericuhan saat kampanye calon presiden AS Donald Trump dan munculnya kampanye Anti Donald Trump beberapa waktu lalu.

Survei ini mengidentifikasi kesenjangan antara atribut yang membuat karyawan percaya akan pentingnya membangun kepercayaan dengan bagaimana pemimpin yang benar-benar menentang terhadap atribut-atribut tersebut. Sebagai contoh, sebanyak 50%  responden menyatakan bahwa penting bagi CEO untuk menunjukkan perilaku yang sangat etis, namun hanya 24% yang percaya CEO mereka sendiri sebenarnya tidak begitu. Karyawan juga melihat kebutuhan bagi para CEO untuk meningkatkan kepercayaan dengan berperilaku secara transparan, memperlakukan karyawan dengan baik, dan mengambil tindakan yang bertanggung jawab untuk menangani masalah atau krisis.

Bagi para eksekutif yang tidak menyadari akan hal ini, perlu mempertimbangkan dari berbagai survei dan penelitian yang telah dilakukan beberapa lembaga survei terkemuka seperti Trust Across America and the Great Place To Work Institute. Dari beberapa survei mereka diketahui bahwa organisasi yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi justru mencapai kinerja keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan organisasi dengan tingkat kepercayaan yang rendah, seperti dilansir oleh www.shrm.org.

Selain itu, tidak adanya kepercayaan justru menimbulkan efek negatif yang dapat mempengaruhi segala hal termasuk keterlibatan staf, moral, retensi, dan rekrutmen. Hal ini diutarakan oleh John Blakey, seorang penulis dari The Trusted Executive Terpercaya. Menurutnya, hal ini juga dapat membahayakan reputasi perusahaan untuk jangka panjang.

Memang, membangun kepercayaan sedikit lebih rumit daripada kedengarannya. Para pemimpin harus mampu menyelesaikan setiap masalah yang diberikan. Tapi untuk mendapatkan kepercayaan, mereka juga membutuhkan integritas, yang berarti hidup standar yang mereka tetapkan untuk organisasi adalah dengan dan menunjukkan kejujuran, keterbukaan, dan keadilan. Dan komponen tambahan seperti kebajikan seperti kasih sayang dan kebaikan tanpa motif komersial juga diperlukan untuk membangun kepercayaan.  ”Itu mungkin yang paling menantang bagi banyak pemimpin yang telah dibesarkan dengan pola pikir menjadi kuat dan mendorongnya menjadi kejam,” kata Blakey.

Profesional HR dapat membantu dengan menciptakan kesadaran yang lebih besar dari masalah ini. Blakey membayangkan suatu waktu di masa depan hal ini akan terjadi ketika sebuah organisasi akan mengukur kepercayaan melalui penilaian keterlibatan karyawan. Cara ini akan memberikan perusahaan suatu “sistem peringatan dini untuk masalah”.

Tidak diragukan lagi, para pemimpin bisnis akan membutuhkan beberapa motivasi untuk berubah. “Jika model lama kepemimpinan menjadi lumpuh, maka saya pikir para pemimpin akan belajar tentang kebiasaan baru. Caranya adalah dengan mereka belajar lebih cepat daripada orang lain,” paparnya kembali. (Ratri Suyani)


Related Articles

Kesenjangan Gaji di Indonesia Semakin Meluas

Kesenjangan gaji antara manajemen puncak dan staf junior semakin terlihat jelas di sembilan pasar Asia pada tahun 2016. Sembilan pasar

Skill-Will Matrix

Bentuk-bentuk pengembangan SDM, termasuk pelaksanaancoaching, harus pula memperhatikan tingkat kompetensi dan motivasi dari seorang pegawai. Inilah yang disebut dengan Skill-Will Matrix,

20 Perusahaan yang Paling Diminati di Hong Kong

Operator kereta api MTR dinobatkan sebagai perusahaan yang paling menarik di Hong Kong versi Randstad Employer Brand Award yang diadakan

No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*